Pelukis Minim Perhatian Pemkab - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pelukis Minim Perhatian Pemkab

Pelukis Minim Perhatian Pemkab

Written By Angga Praditya on Senin, 27 November 2017 | 16.30.00

KUTAWALUYA, RAKA- Tidak sedikit pelukis Karawang yang menorehkan prestasinya di tingkat Nasional, namun sayang hal tersebut tidak diimbangi dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Karawang. Pasalnya, banyak generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah di Kabupaten Karawang mempunyai bakat melukis yang mengesankan. Seperti Faizal Muhammad.
Bakat melukis sudah terpatri sejak Faizal duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK), dirinya mengaku hobi melukisnya ini ditularkan oleh almarhum ayahnya Abdul Muhi, yang merupakan salah satu master lukis di Kabupaten Karawang. Siswa yang saat ini duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Rengasdengklok ini, mengaku sudah menjelajah sampai Istana Negara dalam lomba lukis Piala Presiden. "Saya pernah ikut seleksi melukis presiden bulan Mei 2017 lalu," akunya, kepada Radar Karawang.
Saat ini dirinya mengaku sedang fokus mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang animator dan design grafis, dengan memperbanyak pengalaman melalui komunitas lukis SanggArt Luwak di Karawang. Bersama senior-seniornya, dirinya terus berusaha memperluas keilmuan melukisnya. Siswa kelas 10 yang mempunyai tipe lukisan naturalis ini sangat mendambakan menjadi seorang pelukis profesional, hal tersebut diutarakan saat dirinya mengikuti pagelaran lukis jalanan di Pendopo Karang Pawitan, Minggu (26/11) kemarin.
Selain di Istana Negara, dirinya juga sering mengikuti perlombaan yang berada di tingkat sekolah, mall, dan pasar-pasar. Dibuktikan dengan menjadi juara melukis 1 di Komisariat Rengasdengkok. Pasalnya, pihak sekolah pun sangat mendukung bakatnya tersebut. Dalam setiap perlombaan yang ia ikuti, selain keinginan yang mendorongnya, diperkuat juga dengan pihak sekolah yang siap memfasilitasi. "Alhamdulillah, sekolah juga mendukung. Jadi, bakat saya bisa tersalurkan," ucapnya.
Di tempat yang sama, Kurnia Rahardi, Ketua Komunitas SanggArt Luwak mengatakan, untuk bisa menjadi seorang pelukis memerlukan kesabaran dan keuletan tingkat tinggi. Tidak terbatas usia ataupun jenis kelamin, semua orang bisa menjadi seorang pelukis yang handal. Ketika seseorang mempunyai imajinasi yang kuat, dirinya akan bisa menjadi pelukis yang mahir, dan hal itu bisa di raih dengan cara memperbanyak latihan.
Di katakannya, tidak sedikit bakat dan potensi pelukis dari generasi muda di Kabupaten Karawang. Namun semua itu tidak diimbangi dengan dukungan dari Pemkab Karawang. Seperti halnya penghapusan lomba melukis di dalam perlombaan tingkat kabupaten (FLS2N). Hal tersebut menjadi salah satu kendala mandegnya pelukis-pelukis muda Karawang, tentu saja keadaan tersebut secara tidak langsung memangkas seniman lukis.
Padahal, ia mengaku siap dan bersedia untuk mengembangkan bakatnya tersebut. Selain bisa masuk ke ranah pendidikan, dengan dicatatkan sebagai salah satu ekstrakulikuler. Ia juga dengan lantang mengaku ingin mengembangkan seni lukis di Kabupaten Karawang menjadi seni yang bisa di perhitungkan. "Kalau kita dimodali, kita siap menggambar, melukis, dan membuat grafity di sudut kota, untuk memperindah suasana kota menjadi lebih asri, sudah banyak contohnya di Instagram dan aplikasi lainnya, apalagi dengan banyaknya aplikasi di zaman sekarang, hasil lukisan kita bisa di posting oleh netizen dan di sebarkan melalui internet, kalau memang terlihat bagus dan menjadi contoh, nama Karawang sendiri yang terangkat," ucapnya.
Hal senada dikatakan Dedi, pelukis senior, menilai penghargaan terhadap karya lukis di Kabupaten Karawang sangat minim. Agar karya seorang pelukis bisa di hargai, pria yang sudah mempunyai galeri sendiri di Jakata dan sering menjadi juri lomba melukis ini, mempunyai cita-cita untuk mengubah image pelukis, bahwa menjadi seorang pelukis merupakan hal yang baik. Mengingat, di Kabupaten Karawang ini menjadi seorang pelukis belum sepenuhnya mendapatkan kepercayaan. "Maklum di Karawang, padahala harga lukisan tidak ada yang murah, di Jakarta saja harga yang termurah untuk membeli lukisan itu Rp 16 juta," ujarnya.(rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template