Murid Sudah PNS, Guru Masih Honorer - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Murid Sudah PNS, Guru Masih Honorer

Murid Sudah PNS, Guru Masih Honorer

Written By Angga Praditya on Sabtu, 25 November 2017 | 12.30.00

CILAMAYA WETAN, RAKA - Persoalan guru honorer kategori dua (K2) nampaknya tak pernah habis. Mulai dari gaji sangat tidak layak, terjerat utang, berkali-kali demonstrasi menuntut diangkat jadi CPNS, hingga pemberkasan yang tidak terhitung jumlahnya. Namun, mereka tetap mengajar, mereka terus memberikan ilmu kepada anak didik, tidak pernah bosan atau capek. Walaupun puluhan tahun terus diberikan harapan palsu oleh pemerintah. Mereka selalu tulus menjaga kehormatan profesinya. Itulah kira-kira gambaran pahlawan tanpa tanda jasa, para Oemar Bakri zaman now.
Tengok saja kehidupan Soma S.PdI (51), guru honorer K2 di SDN Kiara 3 Kecamatan Cilamaya Kulon. Keringatnya saat mengajar mengucur selama 30 tahun. Anak didik yang awalnya tidak bisa apa-apa, tidak tahu satu tetespun ilmu pengetahuan, akhirnya tumbuh menjadi manusia dengan beragam profesi. Bahkan, beberapa diantaranya ada yang juga menjadi guru. Namun nasibnya berbeda. Soma masih tetap dengan status honorer, sedangkan murid-muridnya menjadi guru PNS. "Saya gak ngiri, namun kembali ke nasib saja. Dan selalu berteriak setiap kali demo, dimana keberpihakan negara selama ini atas status saya," katanya kepada Radar Karawang, Jumat (24/11) kemarin.
Soma mengaku sebelum mengajar di SDN Kiara 3, dirinya pernah menjadi guru di SDN Langgensari 1 pada tahun 1996. Saat itu hanya digaji Rp 30 ribu per bulan. Jumlah gaji yang sangat tidak mencukupi itu, membuatnya babak belur. Sampai akhirnya dia yang lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA), memilih meninggalkan aktivitasnya mengajar. Bahkan untuk menghidupi anak dan istrinya, dia rela menjadi tukang ojek selama dua tahun di Pasar Wadas. Miris memang, tapi begitulah kenyataannya ketika profesi guru tidak dihormati dan diperhatikan kesejahteraannya oleh pemerintah. Seiring waktu, akhirnya Soma kembali mengajar di SDN Kiara 2 dan SDN Sukamulya 3. Asam garam menjadi guru di berbagai SD sudah dia geluti dan bertahan sampai saat ini hingga menyandang status honorer K2. "Saya tidak putus harapan. Sampai detik ini bertahan menjadi guru," tuturnya.
Meski usia pensiun jika disesuaikan dengan standar PNS tinggal 6 tahunan lagi, dia terus bermimpi di penghujung masa pensiun bisa mendapat status PNS. Walaupun harus dengan berteriak lantang saat demonstrasi di Jakarta setiap tahun, sampai pemberkasan yang sudah dilakoninya berkali-kali. "Kalau revisi Undang Undang ASN gagal, yaitu syarat CPNS harus usia di bawah 35 tahun, saya hanya bisa memohon kepada pemerintah agar kesejahteraan bisa setara dengan yang lainnya," ungkapnya.
Apalagi melihat Upah Minimum Kabupaten (UMK) Karawang sudah nyaris tembus Rp 4 juta, kata Soma bagaikan langit dan bumi. Sebab, saat ini sebagai honorer K2 gaji yang diterima baru Rp 1,45 juta per bulan, dengan rincian dari pemerintah pusat Rp 750 ribu dan Pemkab Karawang Rp 700 ribu. "Jikapun status PNS tidak menjadi nasib saya, minimal kesejahteraannya bisa adil," tuturnya.
Ia melanjutkan, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Karawang sempat memintanya mengumpulkan berkas lagi. Dengan penuh harap sebut Soma, dia sumringah karena gelagat CPNS sudah mulai nampak. Namun lagi-lagi apa yang dilakukan BKPSDM hanya pemetaan dan pendataan saja, bukan soal kepastian jadi CPNS. Lagi-lagi pil pahit ditelan, karena sebagai K2 tertua di Cilamaya Kulon, di usianya yang sudah kepala 5 masih diberi harapan palsu. "Saya hanya minta perhatian," ujarnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template