Monumen Rawagede Sepi Pengunjung - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Monumen Rawagede Sepi Pengunjung

Monumen Rawagede Sepi Pengunjung

Written By Angga Praditya on Sabtu, 11 November 2017 | 15.00.00

RAWAMERTA, RAKA - Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Kalimat yang diungkapkan oleh Presiden pertama Ir Soekarno itu mulai pudar di tengah masyarakat.
Bayangkan saja, di Hari Pahlawan tanggal 10 November kemarin, tidak ada satupun orang mengunjungi Monumen Rawagede di Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta. Padahal, komplek pemakaman korban kebiadaban tentara Belanda saat melakukan agresi militer pertama tahun 1947, itu menjadi tempat peristirahatan terakhir warga Rawagede yang rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi para pejuang.
Karsa (77) seorang menantu dari korban kejahatan kemanusiaan tentara Belanda tersebut mengatakan, sepinya Monumen Rawagede dalam momentum Hari Pahlawan, membuatnya khawatir pudarnya penghargaan masyarakat terutama pemuda terhadap jasa pahlawan. "Saya juga aneh, padahal saat ini Hari Pahlawan, tapi ko malah sepi. Bahkan dari instansi terdekat mulai dari desa dan kecamatan pun tak ada yang datang. Tadi pagi doang rombongan santri dari Rawamerta," katanya kepada Radar Karawang, Jumat (10/10) kemarin.
Dikatakan kakek yang selamat dari peristiwa mengerikan itu, kurangnya kepedulian dan mulai tidak dihargainya pengorbanan pahlawan ini merupakan salah satu degradasi moral bagi para pemuda. Dia khawatir pemuda saat ini sudah merasa keenakan dan terbiasa dimanjakan dengan sesuatu yang instan dan serba kemudahan. Sedangkan prosesnya tidak sedikit pun mereka hargai. Padahal, demi berkibarnya bendera Merah Putih, tak sedikit pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya. "Salah satu contohnya pahlawan di Rawagede ini. Masyarakatnya rela diberondong peluru demi melindungi Kapten Lukas Kustaryo dari kejaran penjajah," ujarnya.
Dibenarkan oleh Ketua Yayasan Rawagede Sukarman, kebiasaan instansi terdekat ketika memperingati Hari Pahlawan di Monumen Rawagede, yakni dengan tabur bunga ataupun jenis upacara penghormatan terhadap para pahlawan yang gugur di medan perang. Namun, untuk tahun ini hanya segelintir orang yang menyambangi Monumen Rawagede. "Saya udah mempersiapkan bunga, karena kebiasaan tiap tahun seperti itu. Tapi sekarang malah gak ada yang datang," tuturnya.
Ia juga mengatakan, cara mengenang para pahlawan itu berbeda-beda. Mulai dengan mendatangi makam atau makomnya secara langsung, bisa juga dengan mengamalkan ilmu dan sikap yang dilakukan para pahlawan saat membela Indonesia ketika melawan penjajah. "Tentunya disesuaikan dengan cara hidup modern saat ini. Yaitu tetap menjaga dan melindungi negara dari berbagai jenis penjajahan," katanya.
Ia juga mengaku tidak pernah bosan memberikan pengarahan dan pengajaran kepada siswa, masyarakat, ataupun wisatawan yang sengaja ingin mengetahui kisah dan cerita di balik sejarah Monumen Rawagede ini. Dia berharap, para pemuda bisa mengenang dan mengerti para pejuang masa lalu. "Jangan sampai tidak ada yang memperhatikan para korban, jadi supaya mengenang sejarah bangsa yang memberikan pilar-pilar kebangsaan," pungkasnya. (rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template