Dimintai Tanda Tangan Nikah Lurah Kebingungan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Dimintai Tanda Tangan Nikah Lurah Kebingungan

Dimintai Tanda Tangan Nikah Lurah Kebingungan

Written By Angga Praditya on Rabu, 15 November 2017 | 18.00.00

KARAWANG, RAKA - Lurah Karawang Wetan Dedi Supardi kebingungan ketika ada warganya yang meminta tanda tangannya dengan alasan untuk pembuatan buku nikah. Apalagi ketika warga itu mengatakan tanda tangan itu merupakan keharusan sebagai dasar bahwa berkas yang dimohonkan warga itu sudah diketahui instansi pemerintah setempat agar bisa langsung mendapatkan buku nikah.
"Heran saja, kok mau menikah minta tanda tangan lurah," tutur Dedi kepada Radar Karawang, Selasa (14/11) di aula Kecamatan Karawang Timur. Dia mengaku sempat kebingungan dengan permintaan masyarakat yang tiba-tiba ingin mendapatkan tanda tangannya agar menjadi dasar pembuatan surat nikah (buku Nikah). Padahal setahunya masyarakat seketika ingin medapatkan buku nikah langsung pergi ke KUA setempat.
Dijelaskan Dedi, ada sebagian masyarakatnya yang sudah menikah tetapi belum memiliki surat nikah. Padahal itu ada programnya di KUA dan akan dinikahkan kembali sehingga mendapatkan buku nikah. Namun hal itu harus ada persetujuan dari kelurahan. "Pemberian penerbitan buku nikah itu kabarnya harus ada dasar dari Kelurahan. Saya khawatir kalau itu terjadi akan dimanfaatkan penikah usia muda untuk menikah dini," jelas Dedi.
Terkait itu, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karawang Timur Saiful Bahri, mengatakan Itsbat nikah cara yang dapat ditempuh oleh pasangan suami istri yang telah melangsungkan perkawinan menurut hukum agama (perkawinan siri). Namun, lantaran statusnya hanya sah secara agama, Pegawai Pencatat Nikah tidak dapat menerbitkan Akta Nikah atas perkawinan siri tersebut, sehingga pihaknya mengusulkan kepada seluruh masyarakat agar melakukan terlebih dahulu saat akan menikahkan turunannya baik laki-laki dan perempuan yang berada di usia kurang dari  16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun laki-laki. Pihaknya mengharapkan agar terlebih dahulu menempuh aturan yang berlaku mendatangi Pengadilan agama untuk mendapatkan keringanan.
"Menikahkan pasangan di usia muda diantaranya mereka menikah pada saat usianya di bawah umur dengan batasan menurut UU perkawinan Perempuan usinya 16 tahun, sedangkan laki-laki 19 tahun. Namun pada intinya KUA tidak akan melakukan pernikahan jika pasangan tersebut ada di usia kurang dari aturan karena mereka tidak menempuh hukum terlebih dahulu kepengadilan agama agar meminta dispensasi," ucapnya.
Seharusnya kalau usianya kurang dari aturan harus terlebih dahulu meminta dispensasi dari pengadilan, ucap Saiful, sehingga KUA bisa melaksanakan pernikahan dan mencatat pernikahnanya walaupun dibawah umur, karena telah memiliki dasarnya adanya dispensasi dari pengadilan Agama.
Masih dikatakan Saiful kebanyakan di masyarakat terjadi pernikahannya dibawah umur dikarenakan adanya anak yang posisinya sudah hamil danlainnya, sehingga akhirnya di nikahkan oleh keluarganya tanpa ada aturan yang dipakai, namun katanya kalaupun sudah masuk umur menurut UU perkawinan jika sudah lewat baru mereka bisa minta surat nikahnya agar ada pengakuan dari KUA. "Itu ada proses yang harus di tempuh dan itu akan ribet terutama kepada pasangan yang telah memiliki keturunan dan harus melakukan persidangan di pengadilan Agama," ujarnya. (apk)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template