Hama Keong Mas Diolah jadi Kerupuk - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Hama Keong Mas Diolah jadi Kerupuk

Hama Keong Mas Diolah jadi Kerupuk

Written By Mang Raka on Rabu, 25 Oktober 2017 | 13.00.00

RAWAMERTA, RAKA- Keong mas yang dianggap hama oleh petani karena sering merusak padi, di Desa Cibadak, Kecamatan Rawamerta justru menjadi sumber inspirasi untuk mendapatkan pundi-pundi uang. Berawal dari salah satu PPL Pertanian Kecamatan Rawametra tertusuk cangkang keong saat meninjau area pertanian, keong mas di olah dan di produksi oleh masyarakat sebagai bahan dasar pembuatan kerupuk.
Penyebaran keong mas memang cepat. Selain mudah beradaptasi, dalam sekali bertelur keong mas bisa menghasilkan ribuan telur. Keberadaan keong mas juga sempat membuat pusing petani karena jumlahnya yang sangat banyak dan merupakan salah satu hama yang susah dibasmi.
Menurut Ketua BUMDes Subur Jaya, Desa Cibadak, Babay, saat ini ia bersama masyarakat binaannya sedang fokus mengembangkan kerupuk yang berbahan dasar keong mas. "Yang dulunya keong mas itu sebagai hama yang susah dibasmi, justru saat ini menjadi barang yang banyak dicari oleh petani, setelah itu mereka setorkan kepada kita, dan kita beli seharga Rp 1000 per kilogram," katanya, kepada Radar Karawang, Selasa (24/10) kemarin.
Dikatakannya, setelah melalui proses yang cukup rumit dan memakan waktu, akhirnya BUMDes bisa menjamin jika kerupuk keong ini aman untuk dikonsumsi. Mengingat, keong mas merupakan hewan yang mengandung racun yang berbahaya. Namun, BUMDes Cibadak yang bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT), akhirnya bisa memastikan jika kerupuk tersebut layak dikonsumsi.
Babay melanjutkan, banyak manfaat yang bisa ia rasakan setelah berhasil memanfaatkan keong mas, mulai dari penanggulangan hama petani, menciptakan lapangan kerja, memberdayakan masyarakat, sekaligus bisa membangun perekonomian desa. "Dari pada harus beli obat mahal-mahal, mending dipunguti dan malah berbalik, justru bisa menghasilkan uang," ujarnya.
Di tempat yang sama, Ketua KWT sekaligus pengurus BUMDes Dewi Sri Desa Cibadak, H Aimar mengatakan, membutuhkan waktu yang cukup rumit agar keong mas tersebut layak dikonsumsi, mulai dari perebusan awal hingga memisahkan daging keong dari cangkangnya, pemisahan antara daging dengan kandungan keong mas yang mengandung racun, proses penggilingan, penjemuran, hingga akhirnya digoreng untuk dikonsumsi. "Cukup rumit, untuk rebusan awal saja kita butuh waktu 15-30 menit, belum lagi rebusan yang ksdua supaya daging keongnya lunak, hingga proses terakhir di goreng dan layak dikonsumsi," katanya.
Namun ia mengaku, proses panjang tidak menjadi masalah jika hasil akhirnya memuaskan dan bisa bermanfaat bagi orang lain, khususnya dalam membangun desa yang aktif dan kreatif. Saat ini, ia sedang dibingungkan dengan proses pemasarannya, karena untuk modal awal pun ia bekerja sama dengan BUMDes. Dan saat ini belum ada label halal dari pihak terkait.
Ia berharap kepada pemerintah, khususnya Disperindag bisa memfasilitasi karyanya tersebut, agar bisa dipasarkan langsung ke tengah-tengah masyarakat. "Kalau masalah proses pembuatan sedang kita pikirkan bareng-bareng, bahkan untuk namanya pun kita baru dapet saat ini, yaitu Kerupuk Keong Nu Ema, selanjutnya tinggal pemasarannnya saja agar mohon di bantu," pungkasnya. (rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template