Satpol PP Terkecoh, PKL Bongkar Lapak Sendiri - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Satpol PP Terkecoh, PKL Bongkar Lapak Sendiri

Satpol PP Terkecoh, PKL Bongkar Lapak Sendiri

Written By ayah satria on Sabtu, 09 September 2017 | 15.00.00

TELUKJAMBE BARAT, RAKA - Tidak perlu ada Satpol PP dan tidak perlu ditertibkan. Mereka sadar berjualan diatas tanah negaram dan saat ini tanah itu dibutuhkan untuk pelebaran Badan Jalan Interchange Karawang Barat. Maka, puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) disepanjang jalan itu mulai pintu masuk Kampung Budaya hingga Perumnas membongkar sendiri warung tempat dagangannya.
Hal itu diungkapkan para PKL yang memanfaatkan tanah negara di sepanjang Jalan Interchange Karawang Barat hingga Perumnas Telukjambe sebagai tempat berjualan. "Tidak perlu ada penertiban dari pihak manapun. Kami sudah menyadari kok bahwa kami tinggal di lahan milik negara. Bahkan kamipun tidak perlu menggunakan hal-hal yang justru memicu konflik. Sudah kami tertibkan sendiri-sendiri. Yang penting barang kami tidak dibawa dan masih bisa kita pergunakan untuk jualan lagi di tempat lain," tandas
Henda (30) PKL di Jalan Perumnas Telukjambe, Jumat (8/9) kepada Radar Karawang.
Ditambahkan Henda, selama ini warung-warung yang berdiri disepanjang Jalan Interchange Karawang Barat hingga pintu masuk Kampung Budaya dan Telukjambe usianya sudah tahunan. Bahkan warungnya sudah lima tahun duluan ada dan selama ini memang tidak ada masalah dengan pemerintah karena belum dipergunakan. "Kalau dihitung jumlah warung disini ada puluhan jumlahnya, dan semua dibongkar secara sukarela oleh pemiliknya masing-masing," ucap Henda.
Secaras terpisah Tarnuyah (61) nenek tua pemilik salah satu warung di Jalan Telukjambe Raya mengaku kebingungan akan berjualan dimana pasca pembongkaran warungnya. Warungnya berada persis dibahu Jalan Interchange Karawang Barat. "Saya bingung mesti berjualan dimana lagi. Padahal saya selama dua tahun menggantungkan hidup saya dari berjualan nasi dan kelontong," ungkap Tarnuyah, nenek pendatang dari Brebes, Jawa Tengah ini.
Selama dua tahun ini Tarnuyah bejualan nasi dan kopi. Dirinya pun mengungkapkan selama ini memberi retribusi sebanyak Rp. 2000 setiap lima hari sekali kepada seseorang yang mengaku dari Pemerintahan. "Saya engga tahu dari mana. Apakah dari pemerintah desa atau kabupaten, yang jelas kami setiap lima hari dimintai uang sebesar dua ribu rupiah," ungkap Tarnuya.
Ditanya apa rencananya setelah pembongkaran ini, Tarnuyah sempat terdiam sebelum akhirnya berterang terang akan pulang ke kampung halamannya di Brebes. "Paling kami pulang kampung saja. Apalagi sepertinya sekarang pun sudah sulit mencari lokasi untuk berjualan," ucapnya.
Sementara Radar Karawang tidak melihat seorangpun ada petugas Satpol PP di sekitar lokasi. Menurut informasi polisi-polisi pemda itu buru-buru meninggalkan lokasi setelah menyaksikan tidak ada lagi warung yang berdiri karena dibongkar pemiliknya masing-masing. Sebelumnya memang sudah disampaikan surat edaran untuk melakukan pembongkaran warungnya masing-masing. (yfn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template