Saatnya Memantapkan Perda Kawasan Lindung - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Saatnya Memantapkan Perda Kawasan Lindung

Saatnya Memantapkan Perda Kawasan Lindung

Written By Mang Raka on Jumat, 15 September 2017 | 11.30.00

KARAWANG, RAKA - Pemanfaatan air tanah dangkal baik oleh industri maupun kebutuhan rumah tangga di Kabupaten Karawang masih tergolong tinggi. Hasil kajian atas dasar kebutuhan air bersih penduduk dengan memanfaatan air tanah dangkal tercatat 86,8% dan sisanya 13,2% dipenuhi oleh air PDAM. Pemanfaatan air tanah untuk industri tercatat 29,3%, pemanfaatan oleh permukiman teratur 26,7%, dan sisanya 44,0% oleh masyarakat pedesaan.

Hal itu diungkapkan Pemerhati Lingkungan Hidup Tarsoen Waryono, dalam artikelnya berjudul Pemanfaatan Air Tanah Tinggi di Karawang, beberapa waktu lalu. Menurut Tarsoen, tingginya pemanfaatan air tanah, tampaknya perlu diimbangi dengan pembuatan sumur resapan. Penerapan teknologi sumur resapan di lingkungan hunian.
"Sumur resapan yang ideal diterapkan di wilayah Kabupaten Karawang, memiliki ukuran 1,5 x 2,0 meter, dengan ke dalaman 3-4 meter. Sedangkan di lingkungan permukiman teratur (perumahan), harus dibangun dalam bentuk tandon air (situ) seluas 1-5% dari luas kawasan terbangun. Demikian halnya pada industri-industri pemanfaat air tanah dangkal/dalam tampaknya sumur resapan yang dibangun juga dalam volume yang berimbang antara yang dimanfaatkan dengan pemulihannya," katanya.
Masih dilanjutkan Tarsoen, penambangan pasir di wilayah Kabupaten Karawang tahun 1970-an banyak dilakukan di sepanjang alur sungai Ciltarum. Dengan menambang mulai dari igir sungai masuk kedaratan hingga 5-10 meter, dan kini sudah tidak lagi dilakukan. Akibat yang ditimbulkan banyak bantaran sungai yang hancur (tanah ambles). Pemanfaatan sumberdaya alam di wilayah penyangga sangat berbahaya dan merugikan semua pihak. Untuk itu pencegahan yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Karawang, seyogianya memantapkan Perda Kawasan Lindung yang merupakan penjabaran dari Kepres No. 32 tahun 1990.
Tanah dan air (ruang), lanjut Tarsoen, merupakan sumberdaya alam dan sekaligus merupakan lingkungan hidup. Oleh karena itu penggunaan tanah umumnya berkaitan erat dari satu tempat ke tempat lain, dalam hubungannya dengan kelangsungan proses ekosistem. Pengaturan tataguna tanah yang bijaksana, hendaknya diperhatikan agar tidak menyebabkan gangguan di tempat lain. Pelarangan penggunaan tanah pada tempat-tempat yang memiliki kemiringan lereng terjal, lahan basah (empang, kubangan, mata air), yang akan dimanfaatkan sebagai wahana bangunan hendaknya untuk tidak diijinkan. Karena erat kaitannya dengan pengaturan tata air dalam tanah.
Ditimbunnya empang dan tertutupnya mata air, sering menyebabkan hilangnya keseimbangan aliran limpasan pada musim hujan, hingga daerah lain akan berpengaruh atau terkena dampaknya. Oleh karena itu pengurugan balong, empang dinilai salah satu faktor penyebab rusaknya tata air tanah. Upaya-upaya yang dilakukan, bahwa balong dan atau empang, seyogianya dikembangkan sebagai wahana rekreasi pemancingan masyarakat. Selain memiliki nilai produktivitas juga berperanan fungsi sebagai pengatur tata air.
Terhadap lahan-lahan bantaran sungai, seyogianya dikukuhkan sebagai kawasan penyangga/perlindungan dan merupakan bagian dari RTH. Pengembangan kawasan sempadan sungai secara alamiah dapat memberikan manfaat ganda, selain sebagai wahana rekreasi alam, juga memulihkan peranan fungsinya sebagai sumber pakan dan habitat satwa liar.
"Usaha penyelamatan sumberdaya lingkungan hidup, dalam pelaksanaan pembangunannya perlu pembekalan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Pembekalan tersebut ditujukkan baik untuk kepentingan masyarakat, pemrakarsa sumber pencemar maupun bagi aparat pemantau dan pengevaluasi lingkungan," ucap Tarsoen. (ari)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template