Problem Klasik Infrastruktur, Pencemaran dan Kemiskinan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Problem Klasik Infrastruktur, Pencemaran dan Kemiskinan

Problem Klasik Infrastruktur, Pencemaran dan Kemiskinan

Written By Mang Raka on Jumat, 15 September 2017 | 12.00.00

CILAMAYA WETAN, RAKA - Euforia perayaan HUT Karawang sangat terasa di kota dan beberapa desa. Berbagai acara pun digelar. Pejabat hingga masyarakat terlihat sumringah. Bahkan, tema yang diangkatpun Campernik, sebuah istilah yang berarti cantik, unik dan menjadi pusat perhatian. Itupula yang nampak dalam logo yang tidak melepaskan identitas utamanya sebagai lumbung padi.
Namun, di balik kemeriahan dan hiruk pikuk karnaval di perkotaan, masyarakat desa masih memimpikan hidup layak. Mulai dari infrastruktur, kemiskinan, kesehatan, lingkungan, hingga keamanan masih menjadi persoalan di kabupaten yang tersohor dengan sebutan Pangkal Perjuangan ini.
Kaur Trantib Desa Cilamaya Wahyu mengatakan, berada di perbatasan dengan Subang, desanya masih dilanda petaka yang tak kunjung disentuh pemerintah tanpa hasil. Contoh konkritnya adalah Sungai Cilamaya yang tak lagi sebening masa lalu. Sebab kondisinya sudah beracun dan hitam pekat. Bahkan, dari tahun ke tahun, ulang tahun kota yang yang kaya sejarah ini, tidak tandang melawan perusahaan nakal dari dalam kota maupun dari Subang dan Purwakarta. Sehingga sampai saat ini warga hanya bisa menyaksikan sungainya jadi petaka. "Surut jadi beracun dan hitam, musim hujan meluber jadi biang banjir. Sekarang masih terus jadi PR," ungkapnya.
Tidak cukup di situ, sambung Wahyu, jembatan di perbatasan juga masih ada yang berbahan bambu melintasi sungai beracun tersebut. Sehingga akses di dua arah, harus berhati-hati ekstra saat melintas. "Ada juga jembatan yang dilalui masih dengan bambu-bambu seperti ini," ujarnya.
Soal infrastruktur juga masih dikeluhkan. Salah satunya di Dusun Langseb, Desa Pulojaya, dan perbatasan ke Desa Kutaraharja, Kecamatan Banyusari. Pegawai Desa Pulojaya, Atam, mengapresiasi gencarnya pembangunan jalan. Namun menurutnya masih belum cukup, karena pemerintah masih setengah hati membangun jalan di perlintasan akses-akses pesawahan. Karenanya pembangunan jalan dan fisik lainnya, harus bisa direalisasikan tanpa tebang pilih dan terarah. "Jalanan masih buruk saja, utamanya di sekitaran akses sawah dan irigasi, lambat disentuh," keluhnya.
Sedangkan kuncen Singaperbangsa di Manggungjaya, Ade Cahya, mengapresiasi pemkab yang mau merehab komplek makam para mantan bupati di sana. Namun yang dia sesalkan, rencana itu muncul setelah melihat kondisi yang memprihatinkan. Seperti ramai di medsos soal atap-atap makam menggunakan terpal dan kondisi musala yang rusak.  "Terlambat pun lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena kondisi makam sudah parah, baru ada rencana rehabilitasi fisik," ujarnya.
Keluhan juga datang dari pencipta lagu Kota Karawang asal Lemahabang, H Oyok Wahyudin. Karya-karyanya sering 'dicuri' oleh orang lain. "Lagu kota Karawang yang saya buat, sesekali disebut diciptakan dan dilagukan Darso," tuturnya.
Bahkan, sampai saat ini, dirinya belum ada yang memfasilitasi lagi meluncurkan lagu sejarah Duriat Citarum. "Bagi saya, orang menyanyikan lagu saya saja sudah cukup bangga. Meskipun kadang mereka tidak tahu siapa penciptanya," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template