Camat Telukjambe Timur Pusing Mikirin Gepeng - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Camat Telukjambe Timur Pusing Mikirin Gepeng

Camat Telukjambe Timur Pusing Mikirin Gepeng

Written By ayah satria on Sabtu, 30 September 2017 | 15.00.00

TELUKJAMBE TIMUR, RAKA - Kecamatan Telukjambe Barat dan Telukjambe Timur ternyata menjadi area kerja sejumlah PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) yang datang dari luar Karawang terutama gelandangan dan pengemis (gepeng). Untuk menekan tingginya aktivitas gepeng, dalam waktu dekat ini rencananya pemerintah di kecamatan itu akan melakukan penertiban.
Camat Telukjambe Timur H. Asep Cece Juhandi tidak menampik kalau dirinya pusing karena di wilayahnya saat ini menjadi tempat beroperasi gelandang dan pengemis, selain Telukjambe Barat. "Untuk anak jalanan di wilayah kami tidak ada tetapi kalau pengemis memang banyak. Mereka menjadikan wilayah Kecamatan Telukjambe Timur sebagai wilayah kerjanya," ucap Asep, Jumat (29/9).
Kendati demikian Asep mengaku akan melakukan upaya preventif untuk meminimalkan terus bertambahnya gelandangan dan pengemis di wilayahnya. Untuk itu dia akan membicarakannya dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bila memang dibutuhkan. "Jika dibutuhkan nanti kami melibatkan Satpol PP untuk melakukan razia," tandas Asep seraya mengklaim meski jadi tempatnya gepeng tetapi wilayahnya steril dari aktivitas anak jalanan (anjal).
Sementara untuk wilayah Telukjambe Barat kehadiran para penyandang masalah kesejahteraan sosial ini sudah lama dikeluhkan masyarakat. Seperti diungkapkan Watim (35) yang sehari-hatinya sebagai tukang ojek. "Kadang mereka membuang bekas makanannya sembarangan termasuk bekas-bekas barang yang entah dipungut dari mana. Barang-barang itu selalu ditinggal begitu saja sehingga menebarkan bau busuk kemana-mana," ucapnya.
Keadaan seperti itu yang membuat warga kesal dan berharap pemerintah melakukan penertiban terhadap aktivitas gelandangan dan pengemis. Paling tidak melalui upaya itu bisa menekan jumlahnya yang sangat banyak. Terutama yang beropersi di wilayah Badami hingga Interchange Karawang Barat. "Mudah sekali untuk menemukan mereka karena mereka beroperasi di wilayah Telukjambe Barat dan Telukjambe Timur," tandas Watim.
Kehadiran mereka, lanjut Watim bukan hanya dikeluhkan warga di lingkungan pemukiman, tetapi juga mengganggu aktivitas pengguna jalan. Malah bukan cuma gelandang dan pengemis dan anak jalanan saja tidak sedikit juga yang menderita gangguan jiwa berkeliaran di jalan raya. "Orang gila kadang suka berjalan di badan jalan raya, itukan mengganggu lalulintas, tapi sampai sekarang belum terlihat ada upaya untuk menertibkannya," tegasnya.
Sementara Deni (29) pemilik warung di Interchange Karawang Barat mengatakan jika kehadiran mereka membuat resah. Kadang mereka mendatangi warung dan mengambil makanan. Dirinya berupaya hanya melakukan pengusiran saja dengan cara baik-baik. "Kalau masih bisa kita usir dengan baik-baik sih mudah saja kita lakukan, akan tetapi yang saya khawatirkan kalau si gelandangan itu malah marah dan mengamuk, urusannya jadi repot," tutur Deni.
Deni juga menuturkan saking kesalnya sering warga mengambil keputusan sendiri dengan cara menghakiminya. Hal seperti itu yang dikhawatirkan Deni. Dia tidak ingin warga hilang kesabarannya lalu melakukan tindakan main hakim sendiri. Karena itu dia berharap pemerintah melakukan razia dan menertibkan mereka terutama yang menderita gangguan jiwa.
Perlu dijelaskan, gelandangan dan pengemis memang telah menjadi masalah nasional yang dihadapi di banyak kota, tak terkecuali di Kecamatan Telukjambe Barat dan Telukjambe Timur. Kini kehadiran mereka di wilayah jembatan Badami sampai Interchange mudah dijumpai dan meresahkan masyarakat. Masalah gelandangan dan pengemis adalah masalah klasik dalam urbanisasi. Intinya jika urbanisasi dapat diminimalisir, maka jumlah gelandangan dan pengemis di perkotaan dapat dipastikan berkurang. Karena itulah perlunya upaya preventif untuk mengatasi permasalahan yang seharusnya disikapi serius oleh pemerintah.
Dari pantauan Radar Karawang di lapangan kehadiran pengemis dan gelandangan banyak dikeluhkan oleh warga baik warga yang mempunyai usaha warung maupun pengguna jalan raya. Tidak jarang kehadiran mereka mengganggu pengguna jalan karena berjalan di tengah jalan. Biasanya mereka di tugu Selamat Datang di Kota Karawang, lampu merah dan jalan utama Karawang Barat. (yfn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template