Berburu Berkah Nadran Laut - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Berburu Berkah Nadran Laut

Berburu Berkah Nadran Laut

Written By ayah satria on Selasa, 19 September 2017 | 14.34.00

Larung Kepala Kerbau di Empat Penjuru

CILAMAYA KULON, RAKA - Ungkapan syukur para nelayan di empat muara dalam pesta laut dilakukan beragam cara. Adat dan keyakinan selama proses pesta laut diburu masyarakat pesisir. Ada hal-hal wajib yang tidak boleh mengada-ngada, ada pula hal mistis yang diyakini para nelayan sebagai wasilah keberkahan melaut dan bisa mendapatkan hasil tangkapan dengan maksimal.
Manajer Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasirputih Waryono mengatakan, nadran atau ungkapan syukur nelayan dilakukan setiap tahun. Ada hal-hal yang wajib dilakukan sebagai suksesnya acara nadran, dan bisa dikatakan sebagai syarat mutlak pelaksanaannya. Ia merinci seperti wayang kulit dan pemotongan hewan kerbau, ini adalah hal wajib ada dalam setiap pesta. Bahkan kerbau yang disembelih juga dilarang yang betina melainkan harus jantan, apalagi kalau diganti dengan sapi atau domba, ini tidak diperkenankan.
Setelah kerbau dipotong, darah kerbau dan kepalanya harus diambil untuk sesajen. Kepala kerbau untuk sesajen dilarungkan inilah yang disebut Dongdang, sementara darahnya diruwat dan diambil para nelayan untuk dioleskan ke perahu-perahunya, sebagai wasilah keberkahan. Disinggung kenapa harus kepala yang dibuang, menurut waryono dalam tradisi diyakini, kepala adalah pusat dari keangkuhan, kesombongan dan tempat berhimpunnya watak-watak kotor. Karenanya, semua perangai negatif itu secara simbolis digambarkan dengan kepala kerbau dan harus dibuang jauh-jauh. "Wayang kulit dan motong kerbau itu hal yang menjadi syarat wajib dalam setiap pesta," ungkapnya.
Waryono menambahkan, setelah darahnya diburu, para nelayan yang menghias perahu, mengiringi dongdang dan replika perahu yang membawa sesajen dan akan dibuang ke pusar laut. Tak lama setelah dibuang, para nelayan juga memburu air laut yang sudah tercampur buangan dongdang dan sesajen replika perahunya. Itu juga sama dioleskan ke perahu-perahunya dan disiramkan. Karena berharap keberkahan dari perahu yang dikendarainya sehari-hari untuk melaut. Semua itu, sebut Waryono, adalah bagian dari tradisi dan adat keyakinan masyarakat pesisir, yang pada intinya bermuara pada rasa syukur atas hasil laut dan berharap Allah SWT bisa terus melimpahkan rizki para nelayan, dari makhluk hidup dan biota laut hasil ciptaanNya. "Semuanya itu adalah simbol yang menggambarkan tradisi, muara semuanya adalah tasyakur kepada Allah SWT," pungkasnya.
Plt Camat Cilamaya Kulon Drs H Hamdani mengatakan, pesta laut ini sebagaimana amanah bupati dalam sambutannya, mengingatkan agar terus dilestarikan. Selain sebagai tradisi, juga menjadi wahana menarik wisatawan untuk berkunjung ke wilayah pesisir Karawang. Betapa banyak sebut Camat, anugerah yang diturunkan  Allah Subhanahu wa Ta'ala atas lautan di Karawang ini. Maka sepatutnya rasa syukur lewat nadran ini digelar dengan berbagai cara, mulai dari pengajian, hiburan untuk nelayan hingga doa bersama. Semoga saja, harapnya, nadran laut semakin sukses, meriah dan maju. Bahkan yang lebih pentingnya adalah selaku membawa manfaat bagi masyarakat pesisir. "Syukuran ini juga jadi wahana wisata laut yang disediakan pemkab. Semoga sukses selalu," ujarnya.
Di Pantai Cemara, nadran laut juga tidak kalah meriahnya. Tidak kurang 53 perahu ikut serta dalam kegiatan tersebut, meski cuaca kurang bersahabat. Pasalnya, sejak 2005 lalu, nadran laut baru bisa dilaksanakan kembali saat ini.
Ketua Pelaksana Ruatan Laut Subangun mengatakan, selain pelepasan kepala kerbau ke tengah laut, pagelaran wayang kulit menjadi salah satu budaya yang bisa ditampilkan dalam acara nadran laut. Meski cuaca sempat memburuk, namun antusias dan semangat masyarakat dan para nelayan mengalahkan rasa takut mereka, agar acara tetap berjalan. "Malam tadi ombak sempat membesar. Dan kami terpaksa memajukan waktu dari sebelumnya, karena melihat dukungan masyarakat dan para nelayan yang sangat bersemangat. Mungkin karena sudah 12 tahun acara ini baru bisa terlaksana kembali," katanya. (rud/rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template