Bayi yang 'Ditahan' itu Meninggal Dunia - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Bayi yang 'Ditahan' itu Meninggal Dunia

Bayi yang 'Ditahan' itu Meninggal Dunia

Written By ayah satria on Jumat, 22 September 2017 | 16.21.00

KARAWANG, RAKA - Bayi laki-laki anak pasangan Heni Sudiar dan Manaf yang sempat 'ditahan' oleh Rumah Sakit Intan Barokah karena belum menyelesaikan administrasi, meninggal dunia di rumahnya, Rabu (20/9) lalu. Sebelumnya bayi yang diberi nama Hanan Hanafi itu dibawa pulang oleh orang tuanya berkat bantuan Wakil Bupati Ahmad Zamakhsyari.
“Saat pulang bayi terlihat kurus, padahal ketika dilahirkan beratnya sekiatar 4,3 ons. Kendati begitu bayi tampak normal dan saat malam hari bayi tampak bergetar dan menangis pelan. Saya kira mau menyusui, tapi ketika diangkat bayi sudah tiada,” ujar ibu bayi itu, Heni Sudiar saat didatangi Wakil Bupati Ahmad Zamaksyari, Kamis (21/9).
Berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, kata Heni,  bayinya mengalami keracunan air ketuban. Pihak rumah sakit saat itu langsung melakukan perawatan terhadap bayinya sedangkan dirinya dibolehkan pulang. “Setelah dua minggu dirawat pihak rumah sakit menghubungi kami agar mengambil anak saya, tapi suami saya diminta menyelesaikan administrasinya. Karena tidak punya uang akhirnya saya tidak berani datang untuk mengambil anak saya. Selama dua minggu saya tidak bertemu anak saya sampai akhirnya wakil bupati Kang Jimmy yang mengambil anak saya," katanya.
Wakil Bupati Jimmy Ahmad Zamaksyari yang datang ke rumah duka meminta agar kasus yang dialami Heni Sudiar agar diselidiki oleh pihak kepolisian. Meninggalnya bayi setelah keluar dari rumah sakit dimungkinkan karena faktor kelalaian. Tapi untuk mengetahui hal tersebut pihak penegak hukum harus menanganinya. "Meninggalnya bayi ini harus kita terima sebagai takdir. Hanya saja masalah ini harus dilakukan penyelidikan,” katanya.
Jimmy juga meminta agar Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang melakukan evaluasi terhadap seluruh rumah sakit swasta yang bekerjsa sama dengan BPJS kesehatan. Hal ini perlu dilakukan agar pelayanan rumah sakit tidak dibeda-bedakan dalam hal pelayanan medis.  Jimmy  meminta agar program Jampersal di sosialisasikan ke masyarakat hingga sampai peloksok Karawang. "Jangan sampai kejadian ini terjadi lagi menimpa masyarakat kita. Warga tidak mampu harus mengetahui kita punya program Jampersal yang bisa membantu mereka ketika melahirkan," pintanya.
Sebelumnya, pihak RS Intan Barokah membantah keras menahan bayi karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya perawatan. Bayi tersebut belum diperbolehkan pulang karena masih dalam kondisi sakit. Hal tersebut disampaikan salah seorang perawat ruangan bayi, Yuli.  Menurutnya bayi anak pasangan Heni Sudiar dan Manaf itu terpapar kuman akibat air ketuban terminum. Untuk memulihkan kondisi bayi itu memerlukan waktu lama.
Yuli menambahkan,  Heni Sudiar, datang ke rumah sakit tersebut  pada Jumat (8/9) lalu dengan usia kehamilan 39 minggu. Saat itu juga Heni  langsung ditangani dan bisa melahirkan secara normal. Namun sang bayi didagnosa terpapar kuman dan bakteri sehingga harus ditangani secara khusus. Bayi tersebut harus dirawat di inkubator dan dipasang selang oksigen. "Perkembangan kondisi bayi itu selalu kami laporkan kepada pihak keluarga. Merekapun selalu menandatangani surat persetujuan setiap kami melakukan tindakan," katanya.
Dokter yang menanganinya bayi tersebut,  lanjut Yuli,  baru memperbolehkan bayi tersebut  dibawa pulang pada Senin (18/9) sekitar  pukul 05.00 WIB. Namun orang tua bayi baru datang ke rumah sakit pukul 20.00 WIB, sehingga bayi itu tidak diperkenankan pulang malam hari.
Ketika ditanya soal biaya perawatan bayi, Yuli tidak mau berkomentar. Dia malah menyarankan hal itu ditanyakan kepada Pekerja Sosial Masyarakat Telagasari. "Biaya perawatan bayi memang menggunakan jalur umum. Sebab, kartu BPJS yang dimiliki orang tua bayi sudah tidak aktif," ujar PSM Telagasari Agas.
Menurutnya, hal itu yang kemudian menimbulkan permasalahan. Sebab, biaya yang ditanggung orang tua bayi cukup besar. Padahal, kata Agas, sejak awal pihaknya menawarkan bantuan agar proses kelahiran bayi itu bisa dibiayai pemerintah. Hanya saja Manaf menolak membuat surat keterangan tidak mampu dengan alasan dia telah memiliki kartu BPJS, padahal kartu BPJS-nya sudah tidak aktif.  "Sebenarnya sudah banyak masyarakat yang dibebaskan dari biaya pengobatan dan perawatan oleh RS Intan Barokah. Sebab mereka mau mengurus persyaratannya," kata Agas. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template