10 Hektare Sawah Gagal Tanam - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » 10 Hektare Sawah Gagal Tanam

10 Hektare Sawah Gagal Tanam

Written By ayah satria on Selasa, 19 September 2017 | 15.05.00

PURWAKARTA, RAKA - Musim kemarau tahun ini tidak hanya mengakibatkan sulitnya mendapatkan sumber air bersih bagi sebagain masyarakat di Purwakarta, namun juga berdampak pada banyaknya lahan pertanian masyarakat terancam gagal panen.
Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta mencatat ada 73 hektare lahan persawahan yang telah ditanami rawan kekeringan. Bahkan, dari 73 hektare tersebut, 10 hektare diantaranya gagal tanam. Padahal usianya baru berusia antara satu sampai 30 hari.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta Agus Rachlan Suherlan mengatakan, Purwakarta memiliki luas baku sawah 17.792 hektare. Dari luasan tersebut, 7.000 hektare di antaranya merupakan sawah tadah hujan. Dari luasan baku itu, yang terancam kekeringan dengan kondisi padi sudah ditanami baru 73 hektare. "Tapi, yang gagal tanamnya hanya 10 hektare. Sisanya, 63 hektare lagi bisa diselamatkan dengan bantuan pompa air," ujar Agus.
Menurutnya, lahan sawah yang gagal tanam itu berada di Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta. Solusinya, lanjut Agus, bila ada sumber mata air, maka di wilayah itu akan mendapatkan bantuan pompa. Lalu, petani bisa tanam ulang. Akan tetapi, jika tak ada sumber mata air, sebaiknya petani off dulu tanam padi. Lahan sawah tersebut bisa dimanfaatkan untuk tanam sayuran ataupun palawija. Agus melanjutkan, pada musim kemarau tahun ini, Purwakarta mendapat bantuan pompa air dari pemerintah pusat sebanyak 20 unit. Pompa tersebut telah didistribusikan ke 20 gabungan kelompok tani yang tersebar di sembilan kecamatan. Gapoktan yang mendapatkan bantuan pompa itu, berada di wilayah tadah hujan. Dengan begitu, jumlah pompa air yang sudah berada di gapoktan ada 95 unit. Sebab sebelumnya, sudah ada 75 unit pompa yang telah dimanfaatkan oleh petani. Bantuan pompa ini, sambung Agus, merupakan aksi cepat tanggap pemerintah untuk mengantisipasi kekeringan selama musim kemarau. "Alhamdulillah, meskipun sudah ada yang gagal panen, namun sawah yang terdampak kekeringan masih sangat sedikit," ujarnya.
Menurut Agus, Gapoktan yang menerima pompa air itu masih ada harapan untuk tanam. Pasalnya, di wilayah ini masih terdapat sumber air. Seperti, berasal dari embung, situ, ataupun bekas galian pasir. Jika di wilayahnya tak ada sumber mata air, maka gapoktan tersebut tak bisa menerima bantuan pompa. Karena percuma saja ada pompa, tetapi air yang akan disedotnya tidak ada. Untuk itu, wilayah yang sama sekali tak ada sumber air disarankan untuk tidak ditanami padi dulu.
"Sebenarnya ini bagus. Lahan yang tak ditanami bisa istirahat. Sehingga unsur haranya akan kembali maksimal saat tanam di musim selanjutnya," ujarnya.
Sementara itu, Didin Jaenudin (46), petani asal Desa Cibogo Girang, Kecamatan Plered, mengatakan, sangat berterima kasih dengan adanya bantuan pompa air ini. Sebab, pompa tersebut sangat dibutuhkan oleh petani di musim kemarau. "Di wilayah kita masih ada sumber air, tapi harus disedot sama pompa," ujarnya.
Pompa air bantuan pemerintah ini, lanjut Didin, mampu menyedot air sebanyak 2.500 liter. Karenanya, petani sangat terbantu sekali. Dengan adanya pompa ini, diharapkan tanaman padi yang sudah berusia 30 hari ini bisa terus tumbuh sampai bisa dipanen. (gan)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template