Raden Masrin, Pengawal Soekarno yang Terlupakan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Raden Masrin, Pengawal Soekarno yang Terlupakan

Raden Masrin, Pengawal Soekarno yang Terlupakan

Written By Mang Raka on Rabu, 09 Agustus 2017 | 12.30.00

Kiprahnya tak Dicatat Sejarah, Makamnya Dibangun Swadaya

RENGASDENGKLOK, RAKA - Siapa yang tidak tahu peristiwa paling bersejarah di Rengasdengklok. Satu peristiwa yang mengubah wajah Indonesia sejak masa kolonial. Peristiwa penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara lain Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" terhadap Soekarno dan Hatta, 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, itu tidak bisa dipisahkan dari sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Namun, siapa yang mengawal dan menjaga kedua bung itu selama di Rengasdengklok? Jarang ada orang yang mengetahuinya. Bahkan dalam catatan buku-buku sejarah kemerdekaan pun nyaris tidak tertulis.
Menjelang hari kemerdekaan Indonesia, Radar Karawang menelusuri siapa tokoh di balik pengamanan Bapak Bangsa tersebut selama 19 jam di rumah milik warga Tionghoa, bernama Djiaw Kei Siong. Raden Masrin namanya. Komandan Pembela Tanah Air (PETA) Karawang, itu adalah pejuang yang paling bertanggung jawab keselamatan Bung Karno dan Bung Hatta.
Meski begitu, nama Raden Masrin seakan dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Jangankan selembar penghargaan, makamnya yang berada di Dusun Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Selatan, Kecamatan Rengasdengklok, dibangun dari hasil swadaya masyarakat.
Menurut keturunan ke empat Raden Masrin, Wiwin Winara, warga Dusun Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Selatan, pemerintah nyaris melupakan nama orangtuanya. Pejuang dan pemimpin PETA yang secara tidak langsung berperan penting bagi kemerdekaan Indonesia. Raden Masrin, kata Wiwin, merupakan komandan tentara PETA Karawang yang mengawal Soekarno dan Hatta saat akan merancang teks proklamasi. “Ayah saya seorang pejuang yang satu kurun kehidupan dengan Presiden Soekarno. Dulunya ia mengawal Presiden Soekarno saat hendak merancang teks proklamasi di Rengasdengklok,” katanya kepada Radar Karawang, Selasa (8/8) kemarin.
Ia melanjutkan, yang lebih memprihatinkan, selain tidak ditulis dalam sejarah, makamnya yang terletak di Bojong Tugu dibangun hasil dari swadaya masyarakat. Padahal Raden Masrin merupakan seorang pelopor pembangunan Tugu Proklamasi, atau yang biasa disebut Tugu Kebulatan Tekad. “Berdirinya Tugu Kebulatan Tekad ini salah satu pelopor pembuatnya itu ayah saya,” ungkapnya.
Dirinya mengakui banyak calon pejabat yang pernah datang ke makam ayahnya. Namun setelah mereka jadi pejabat, mereka tidak lagi pernah berkunjung lagi. “Dulu mah banyak calon pejabat yang datang kesini, gak mau apa, tapi setelah jadi malah gak ada yang balik lagi,” ujarnya.
Wiwin berharap pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pemerintah pusat, bisa memperhatikan keturunan maupun makam ayahnya yang selama ini luput dari perhatian pemerintah. "Berkat jasa ayah saya ebagai komandan PETA, Presiden Soekarno bisa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia," ujarnya. (rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template