Perajin Tempe Was-was Usahanya Bangkrut - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Perajin Tempe Was-was Usahanya Bangkrut

Perajin Tempe Was-was Usahanya Bangkrut

Written By ayah satria on Selasa, 01 Agustus 2017 | 17.22.00

TELUKJAMBE BARAT,  RAKA - Akibat daya beli masyarakat mengalami penurunan sejumlah usaha mikro pun merasakan dampaknya. Seperti dirasakan perajin tempe di Kampung Rawasadang, Desa Wanasari, dia mengalami penurunan omset hingga akhirnya mengurangi produksi dan jumlah pekerja.
Hampir dua pekan terakhir, produsen tempe mengakui mesti kurangi jumlah produksi. Hal itu terkait bahan produksi kedelai alami kenaikan harga hingga 50 persen dari harga biasa. Lain itu juga banyak produsen Tahu dan tempe demi tetap bertahan mereka mesti melakukan perampingan produksi dengan memberhentikan beberapa pekerja agar tetap bertahan.
Saat ini harga beli kacang kedelai melonjak dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 8000/kg. Melonjaknya harga kedelai impor telah membuat produksi tahu dan tempe milik salah satu warga kampung Rawa sadang yang selalu bisa memproduksi banyak kini merosot tajam. Tak hanya volume produksi yang terpaksa ditekan, ukuran tahu tempe juga diperkecil.
Ragim (39) pemilik pabrik tempe membeberkan terpaksa mengurangi jumlah produksi karena bahan baku yang mahal di pasaran. Produksi sekarang menurun, dari biasanya produksi tahu tempe dengan bahan 100 kilogram kedelai dalam sehari, sekarang cuma 70 kilogram kedelai.
"Jika hal ini terus menerus terjadi saya khawatir usaha saya bisa bangkrut, Namun Mudah-mudahan masuki bulan September nanti produksi kami bisa naik lagi, karena di bulan September minat permintaan tempe biasa nya alami kenaikan. Demi tetap bertahan maka beberapa pekerja saya pun terpaksa dirumahkan. Mudah-mudahan tidak lama," katanya kepada Radar Karawang, Senin (31/7).
Sementara Kaja (29) pekerja pembuat tempe mengaku sepekan ini produksi tempat bekerja sepi. Bahkan sudah dua minggu sudah tidak over time untuk tambahan sangu. Bahkan khawatir diri nya tidak lagi bisa bekerja lagi. Dirinya menegaskan jika dirinya bekerja di pabrik tempe sudah masuki usia kerja 5 tahun.  "Ini merupakan kerja utama saya, dan saya berharap pemerintah bisa mensiasati agar kami masih tetap bekerja. Harapan saya setelah masuki bulan puasa bisa kembali normal dan rekan-rekan saya yang sekarang sekitar 3 orang yang di rumahkan bisa kembali bekerja seperti biasa," harapnya.
Lain lagi Nuril (29) ibu rumah tangga asal Kampung Jati, Badami, Desa Margakaya, minat warga saat ini lebih terkonsetrasi kepada kebutuhan lain seperti sekolah dan beberapa keperluan sekolah lainnya. Dirinya akui sudah beberapa hari terakhir tidak membeli tahu ataupun tempe karena anak-anaknya banyak memilih makan di luar ketika sekolah.
"Biasanya anak-anak suka tahu dan tempe bukan karena kita kurang minat dengan makanan tersebut. Namun anak-anak juga sudah jarang makan di rumah dan untuk sehari-hari saya cukup beli makanan yang sudah jadi saja,Dan memang biasanya para pedagang yang sering keluar masuk kampung kami pun keluhkan bahwa tempe dan tahu jarang diminati oleh ibu-ibu rumah tangga akhir-akhir ini," pungkasnya. (yfn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template