800 Warga Banteng Ompong dan Sepatkerep jadi TKI - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » 800 Warga Banteng Ompong dan Sepatkerep jadi TKI

800 Warga Banteng Ompong dan Sepatkerep jadi TKI

Written By ayah satria on Selasa, 29 Agustus 2017 | 15.53.00

CILAMAYA WETAN, RAKA - Desa Cikarang, Kecamatan Cilamaya Wetan, bisa dibilang salah satu kantong terbesar Tenaga Kerja Indonesia di Kabupaten Karawang.
Karena, di dua dusun saja, Dusun Sepatkerep dan Bantengompong, jumlah warga yang mengadu nasib di luar negeri mencapai 800 orang. Jumlah tersebut terbilang besar bagi desa yang berpenduduk 3 ribuan jiwa. Mereka yang memilih menjadi TKI tersebut, ada yang terbilang sukses dan ada juga yang pulang membawa duka.
Kades Cikarang Tajudin tidak menampik banyak warganya yang bekerja sebagai TKI. Berdasarkan catatannya, sekitar 800-an warganya mencari nafkah melintasi lautan. Mayoritas para TKI itu berasal dari dua dusun yaitu Dusun Sepatkerep dan Dusun Bantengompong, sehingga tidak heran jika dua dusun itu disebut dusun TKI.
Ditambahkan Tajudin, motivasi masyarakat yang menjadi TKI, didominasi karena alasan ekonomi, perceraian dan keinginan kuat meniru keluarga lain yang sukses menjadi TKI. Apalagi di dua dusun itu cukup padat penduduknya. "Banyak yang jadi TKI di dua dusun, jumlah semuanya sekitar 800 orang, itu bertahap selama 3 tahunan terakhir," katanya.
Dia menilai, derasnya warga yang berminat jadi TKI tidak sebanding dengan izin yang melapor ke pemerintah desa, bahkan kadang-kadang pemerintah desa juga tidak tahu ada warga yang sudah berangkat. Kata Tajudin, proses pemberangkatan dan mekanismenya ada yang tidak resmi dan ada pula yang resmi.
Akibatnya, saat berada di luar negeri, ada yang susah ada juga yang senang. Namun, terlepas dari hal itu, TKI yang sukses di kampungnya lebih banyak ketimbang yang duka saat pulang seperti tidak digaji majikan, sakit, bahkan ada yang masih menunggu hukuman pancung di Arab Saudi bernama Susanti yang sudah lama belum ada kabar lagi.
Dia lantas berharap, masyarakat jeli saat hendak memutuskan jadi TKI, seperti legalitas sponsor yang rata-rata datang dari luar Desa Cikarang, atau juga melapor terlebih dulu kepada pemerintah desa maupun lembaga swadaya masyarakat yang konsen mengurus buruh migran, karena jalur yang salah, bisa merugikan TKI itu sendiri. "Imbauan mah ya selalu kita sampaikan, minimal legalitas sponsornya ini harus jelas" ungkapnya.
Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia Karawang Didin Sakri Khaerudin mengatakan, jumlah pengiriman TKI di Karawang terbanyak itu masih berkutat di wilayah Kecamatan Cilamaya Wetan, Tempuran dan Pakisjaya. Faktor ekonomi adalah pemicu masyarakat memilih bekerja di luar negeri dengan gaji 3 kali lipat lebih besar dari pada di dalam negeri.
Diakuinya, Desa Cikarang banyak warganya yang menjadj TKI, diantara mereka ingin berpindah rumah, kehidupan yang lebih baik dan faktor perceraian. Karenanya, jumlah TKI yang salah prosedur, trafficking dan pelanggaran moratorium masih berpeluang terjadi. Untuk itu, seharusnya pemerintah bisa memberikan pelatihan dan pemberdayaan kepada masyarakat, termasuk para purna TKI untuk dilatih enterpreneur. "Ya Cilamaya dan Tempuran ini terbanyak sumbangan TKI-nya, semoga saja ada perhatian khusus dari pemkab," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. smoga pada sukses...yg jadi tki....tp jngn lupa ikuti prosedur negara yg kita datangi,

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template