Libatkan Seniman Bangun Karawang - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Libatkan Seniman Bangun Karawang

Libatkan Seniman Bangun Karawang

Written By Mang Raka on Senin, 31 Juli 2017 | 14.00.00

*Suhendra Fajar: Kita Belum Punya Ciri Khas

KLARI, RAKA - Sudah saatnya para seniman dilibatkan untuk mempercantik Kota Pangkal Perjuangan. Pasalnya pembangunan yang selama ini dilakukan di Karawang terkesan tidak memperhatikan nilai seni dan keindahan, sehingga belum bisa menjadi daya tarik bagi warga luar.

"Harusnya dalam membangun Karawang juga menjunjung nilai-nilai seni dan kebudayaan," kata seniman yang saat ini berprofesi sebagai Dalang, Suhendra Fajar, kepada Radar Karawang, Minggu (30/7).
Dia menyampaikan nilai-nilai seni dan kebudayaan sangat erat hubungannya dengan keindahan. Dengan demikian jika para seniman ikut dilibatkan untuk membangun infrastruktur di karawang maka karawang akan terasa berbeda dengan daerah-daerah lain. "Melalui seni hidup akan lebih indah," ujar Dalang yang juga memiliki kesibukan berkebun di wilayah Karanganyar, Kecamatan Klari itu.
Dia mencontohkan, Purwakarta merupakan salah satu Kabupaten yang menjunjung tinggi para seniman. Sehingga para seniman di Purwakarta bisa berkembang pesat, bisa terus berkarya. "Bahkan seniman-seniman ibukota berdatangan untuk bisa menyaksikan keindahan Purwakarta," ujarnya.
Kemudian Subang, saat ini sudah mulai dibeberapa titik ada pembangunan yang identik dengan kebudayaan lokalnya. Mulai dari Ganas dan Sisingaan, selalu disuport oleh pemerintahannya, bahkan dua icon kebudayaan itu juga dijadikan tugu yang menjadi identitas subang. "Di subang tugu padi juga ada. Bahkan gapura-gapura yang dibangun disetiap gang. Itu berbentuk padi yang berisi," ucapnya.
Sementara Karawang yang memiliki anggaran lebih besar dari dua kabupaten tetangga, ternyata masih belum bisa mengoptimalkan potensi yang ada. Bahkan seolah belum menemukan jatidiri untuk melakukan pembangunan. "Jadi harus ada keselarasan antara budaya dan pembangunan. Itu baru mencerminkan daerah yang cinta akan jati dirinya," tegasnya.
Menurutnya, tugu padi yang dibangun di pertigaan Jalan Kertabumi juga belum bisa mencerminkan karawang sebagai lumbung padi. Karena semua orang juga mengetahui, bahkan jalan kertabumi tidak lebih ramai jika dibandingkan Jalan Tuparev. "Seharusnya tugu padi juga dibangunnya di Bundaran Tuparev agar semua orang bisa lebih mengetahui identitas karawang," ujarnya.
Belum lagi disetiap pintu gerbang perbatasan, sampai saat ini terlihat tidak mencerminkan sebagai kota yang memiliki identitas. Bahkan di eksit tol Karawang Timur saja, orang yang datang disuguhkan dengan kebulan limbah pabrik dan deretan tukang tambal ban. "Tidak ada satu katapun yang tertulis disana. Selamat datang di Kota Pangkal Perjuangan atau apalah istilahnya," ujarnya.
Padahal, tambah Fajar, kalau Karawang tidak mau disebut meniru Purwakarta, bisa saja tema pembangunan di karawang soal pangkal perjuangan. Bangun spot-spot taman yang identik dengan perjuangan para pahlawan diera sebelum kemerdekaan sampai era sekarang. Bisa juga dipajang patung-patung mantan-mantan bupati dari bupati pertama sampai bupati hari ini. Disetiap pertigaan, perempatan, jalan-jalan arteri, jalan-jalan perbatasan bahkan termasuk ditengah kota yang seharusnya ada tempat ruang terbuka hijau (RTH). "Ini bisa menjadi daya tarik untuk warga luar bisa berkunjung ke karawang. Semakin banyak wisatawan berkunjung ke karawang. Roda perekonomian warga karawang akan semakin meningkat," ujarnya.
Dia juga mencontohkan, setiap wisatawan datang kesebuah daerah, tentu akan menceritakan kepada teman-temannya, keluarganya dan kenalannya. Bahwa dia telah berkunjung ke daerah tertentu dengan menunjukan foto yang menjadi ciri khas daerah yang dikunjungi. "Bayangkan saja. Kalau datang ke karawang. Tidak ada spot-spot khusus untuk sekedar istirahat tetapi disitu mencerminkan karawang," tambahnya.
Jadi menurutnya, karawang masih sangat jauh untuk bisa menjadikan pembangunan benar-benar sebagai identitas karawang. Seharusnya pemerintah bisa menciptakan suasana tersebut. "Sehingga siapapun saat berkunjung ke karawang, dia akan ngomong inilah karawang," katanya.
Bahkan yang menjadi kesan saat ini di karawang adalah kesemrawutan, ketidak disiplinan, kebebasan, dan lain sebagainya. Oleh karenanya sekali lagi dia berpesan kepada para pemangku kebijakan, libatkan seniman untuk bisa membangun karawang yang benar-benar karawang. "Semuanya harus terkonsep dan tertata. Ini menurut saya. Tentunya masih banyak para seniman yang greget dengan kondisi karawang saat ini," pungkasnya. (zie)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template