Astaga, Air Cikaranggelam Beracun - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Astaga, Air Cikaranggelam Beracun

Astaga, Air Cikaranggelam Beracun

Written By Mang Raka on Jumat, 28 Juli 2017 | 20.29.00

-Warga Dawuan Terpaksa Beli Air Galon

CIKAMPEK, RAKA - Berkali-kali disidak oleh Pemerintah Kabupaten Karawang, ternyata tidak membuat jera pengelola pabrik-pabrik di kawasan industri di Cikampek kapok membuang limbah ke Sungai Cikaranggelam. Buktinya, kualitas air sungai itu sudah sangat memprihatinkan. Bahkan sudah mencemari air sumur milik warga Desa Dawuan Tengah.
Iis (37) warga Dusun Karangmulya RT 01 RW 09, Desa Dawuan Tengah, mengatakan, air Sungai Cikaranggelam setiap hari berubah menjadi empat warna. Terkadang warna ungu, putih, cokelat dan hitam. Selain itu, tercium aroma bau yang tak sedap. Padahal sebelum banyak pabrik, tidak pernah terjadi seperti itu. Warnanya masih bening, dan masih bisa dipakai untuk berenang. "Ketika saya masih anak-anak suka berenang di Karanggelam. Kalaupun tidak bening, paling juga keruh sedikit," ungkapnya kepada Radar Karawang, Kamis (27/7) kemarin.
Kini, dia harus membeli air galon untuk minum dan masak. Karena air sumur sudah terkontaminasi limbah yang dibuang pabrik melalui sungai tersebut. Ia mencontohkan, saat air sumur dididihkan selalu ada kerak yang menempel di panci. Dan saat menyimpan air di ember, setelah didiamkan selama satu hari, air itu berubah menjadi warna kuning dan keruh. Alhasil, dia tidak berani lagi minum dan masak memakai air sumur. "Itu dampak dari banyaknya pabrik, berimbas kepada warga sini. Khususnya saya sendiri. Daripada saya sakit gara-gara itu, mending beli air galon," ujarnya.
Dirinya menginginkan agar pemerintah bisa menangani permasalahan yang sudah terjadi puluhan tahun itu. Karena jika dibiarkan terus menerus, akan menyengsarakan warga yang tidak mampu. "Sekarang mah saya cuma berharap saja sama pemerintah," katanya.
Ade (55) warga Dusun Pajaten RT 05 RW 05, Desa Dawuan Tengah, merasa was-was. Karena rumah yang ditempati tidak jauh dari pabrik yang memproduksi granit. Pembuangan produksi pabrik itu sudah menggunung, tingginya sekitar 30 meter. "Saya takut terkena longsor. Kalau longsor dusun sini akan terkena dampaknya. Bisa-bisa tertumpuk oleh serpihan keramik," tuturnya.
Eeng Sukendar, warga Dusun Pajaten RT 02 RW 04, Desa Dawuan Tengah, yang juga pemerhati lingkungan mengatakan, kali Cikaranggelam sudah terkontaminasi oleh zat kimia dari pabrik-pabrik di Kecamatan Cikampek. Itu terjadi sejak tahun 1980-an. Soalnya pembuangan limbah dari pabrik itu dibuang ke aliran Sungai Cikaranggelam. Dampaknya bukan hanya kepada warga Dusun Pajaten, tapi sampai ke warga Ciparage. "Saluran Sungai Cikaranggelam menyambung dengan kali Ciparage," katanya.
Eeng mengatakan, warga Dusun Pajaten sudah tidak menggunakan air sumur untuk dipakai minum dan masak. Sebab kalau dipaksakan untuk dikonsumsi, akan terkena penyakit kencing batu hingga gatal-gatal. Maka dari itu, di dusun ini mau tidak mau harus membeli air galon untuk dikonsumsi buat minum dan masak. Dalam sehari warga yang ada dusun itu bisa mencapai dua galon yang harus dibeli. Satu galon harganya Rp 5 ribu. "Kalau dikalikan 30 hari bisa mencapai 300 ribu. Rugi banget harus mengeluarkan sebesar itu," ujarnya.
Ia melanjutkan, selain menjadi pembuangan limbah pabrik, Cigaranggelam juga ditumpuki sampah-sampah dari warga dusun yang tidak bertanggung jawab. "Jadi masalah Cikaranggelam itu banyak," katanya.
Menurutnya, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana pada bulan November 2015, pernah menandatangani surat yang meminta perusahaan di Kecamatan Cikampek, berpartisipasi membuat sumur dalam di Desa Dawuan Tengah. Tetap saja hasilnya nihil. Padahal warga berharap kepada pemimpin nomor satu di Kabupaten Karawang itu, bisa 'memaksa' perusahaan yang sudah seenaknya membuang limbah ke Cikaranggelam, agar memfasilitas warga mendapatkan air sumur. "Kami minta janji bupati. Katanya mau membuat sumur dalam di dusun ini," ujarnya.
Eeng juga meminta kepada pemerintah desa untuk mempersiapkan tempat-tempat sampah, agar warganya tidak membuang sampah sembarangan. Dan mendorong pembuatan sumur dalam di Dusun Pajaten. "Saya ingin mendapatkan air bersih, dan hidup sehat," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Dawuan Tengah Jejen Jaenal Arifin ST belum berhasil dikonfirmasi. Saat didatangi ke kantor desanya, Sekretaris Desa Dawuan Tengah Salmon Mustofa mengatakan jika kades tidak ada di tempat. "Bapak kepala desa tidak ada di kantor, dia belum datang. Lagi rapat di Karawang," pungkasnya.(cr1)
 
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. Yang di maksud lagi ngurusin hotel, perum, dan mall untuk orang elit dan banyak uang... Itu kali ngalirnya ga ke hotel, perum, dan mall orang-orang elit banyak duitkan ngalirnya ke desakan sekitaran warga menengah ke bawah... Bagus... nanti ada staf yang ke sana buat... Mmmmmmmm... cingcay biasalah tahukan...
    (kalau kata.kata di atas ga seperti ini, berarti anda tinggal bukan di negara indonesia... Harus kaya gini karena ini indonesia)

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template