Mengenal Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Mengenal Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta

Mengenal Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta

Written By Mang Raka on Sabtu, 17 Juni 2017 | 15.00.00

Enam Kali Direvovasi, Ciri Khas Tidak Berubah

PURWAKARTA, RAKA - Berdiri di pusat Pemerintahan Kabupaten Purwakarta, Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta atau yang biasa dikenal dengan Masjid Alun-alun, merupakan salah satu bukti otentik penyebaran Islam di wilayah Purwakarta.
Sejak dibangun hingga sampai saat ini, masjid yang berada di Kampung Kaum, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan Purwakarta, tersebut menjadi pusat syiar Islam. Meski terlihat lebih sederhana dibanding masjid agung daerah lainnya. Namun cahaya-cahaya religius terpancar dari bangunan tua ini.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Radar Karawang, nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan muslim Purwakarta kepada mendiang Raden Haji Yusuf, yang terkenal dengan nama Baing Yusuf. Ulama terkemuka yang menjabat sebagai penghulu kepala di Kabupaten Purwakarta sejak tahun 1828. Beliau yang memimpin pembangunan masjid ini, menjadi pengurusnya dan juga menjadi motor penggerak syiar penyebaran Islam di Purwakarta.
Beliau juga yang kemudian menjadi pengelola masjid ini dalam kapasitasnya sebagai penghulu kepala. Pada masa itu wilayah Purwakarta masih merupakan bagian dari Kabupaten Karawang. Baing Yusuf secara resmi menjabat sebagai penghulu kepala sejak tahun 1828 (Almanak van Nederlandsch Indie, 1828:59).
Bila melihat perjalanan sejarah Kabupaten Karawang, pembangunan Masjid Agung Purwakarta di Sindangkasih ini berhubungan erat dengan pemindahan Ibukota Kabupaten Karawang, dari Wanayasa ke Sindangkasih yang terjadi sekitar tahun 1827 atau 1830 sejak masa pemerintahan Bupati Bupati R.A.A. Suriawinata alias “Dalem Sholawat” (1827-1849).
Pemindahan ibukota tersebut diresmikan berdasarkan besluit (Surat Keputusan) Pemerintah Kolonial Belanda tanggal 20 Juli 1831 Nomor 2.
Pembangunan Masjid Agung di Sindangkasih ini dilaksanakan bersamaan dengan pembangunan pendopo, Gedung Karesidenan, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya, termasuk juga pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.
Pada tahap awal, kondisi bangunan masjid masih sangat sederhana, sama dengan kondisi bangunan pendopo. Setiap atap masjid berbentuk limas bertumpang, ciri khas masjid tradisional. Waktu itu, atap umumnya terbuat dari ijuk, dan badan bangunan dibuat dari kayu dan bambu.
Pembangunan dan renovasi sampai ke bentuknya saat ini dilakukan beberapa kali setelah itu.
Renovasi pertama diperkirakan dilaksanakan pada sekitar tahun 1854, masa pemerintahan Bupati R.T.A. Sastradiningrat I (1854-1863).
Tahun 1926 masjid itu dilengkapi dengan bak air dan tempat mandi yang dipelopori oleh R. Ibrahim Singadilaga, seorang tokoh masyarakat Purwakarta. Tahun 1955, di sebelah kiri masjid dibangun ruangan untuk Kantor Pengadilan Agama diprakarsai dan dipimpin oleh R. Endis, K.H. R. Santang, dan K.H. Moh. Aop. Tahun 1967 ruangan masjid diperluas dengan menambah bangunan sayap dan tempat wudhu.
Tahun 1979, masjid itu direnovasi secara besar-besaran, tetapi tetap mempertahankan bentuk asli dan nilai artistiknya. Pelaksanaan renovasi dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Purwakarta, diketuai oleh Hj Mamie Satibi Darwis, istri Letjen. Drs. H.R.A. Satibi Darwis.
Setelah selesai direnovasi, Masjid Agung Purwakarta diresmikan oleh Menteri Agama RI, Letjen. H. Alamsyah Ratu Perwiranegara tahun 1980. Masjid Agung Purwakarta kembali mengalami pemugaran besar besaran pada masa pemerintahan Bupati Drs. H. Bunyamin Dudih, S.H. (1993-2003).
Meski telah berkali kali mengalami renovasi dan pemugaran, masjid ini masih memiliki benang merah dengan bentuk bangunan aslinya, dan satu hal yang memperkuat nilai sejarah situs Masjid Agung Purwakarta ini adalah keberadaan makan Bupati R.T.A. Gandanegara (Bupati Karawang ke-15, berkuasa tahun 1911-1925) yang berkedudukan di Purwakarta di halaman belakang masjid. Hal yang disebut terakhir merupakan alasan kuat untuk tidak memindahkan lokasi masjid.
Baing Yusuf Wafat tahun 1854 dan dimakamkan di belakang Masjid Agung Purwakarta yang didirikannya ini. Kini, Masjid Agung dipercantik oleh pemerintah dengan taman yang tertata rapi dan bersih. Setiap harinya Masjid ini selalu ramai jamaah dari masyarakat sekitar dan para pejabat serta PNS di lingkungan Pemkab Purwakarta, termasuk mereka yang berziarah ke-makam Baing Yusuf. (gan)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. Saya pernah Riyadhoh lama di Masjid Agung Baing Yusuf Setelah lama menetap Di Maqom auliya Syekh Quro

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template