Lokasinya Pernah Berpindah-pindah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Lokasinya Pernah Berpindah-pindah

Lokasinya Pernah Berpindah-pindah

Written By Mang Raka on Selasa, 13 Juni 2017 | 14.30.00

Masjid Ghoyatul Jihad Punya Lima Kubah

TELAGASARI, RAKA - Masjid Ghoyatul Jihad, salah satu masjid besar yang paling tua di Kecamatan Telagasari. Didirikan sebelum Indonesia Merdeka. Masjid yang memiliki arti "Hasil Perjuangan" ini lokasinya pernah berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, dan sempat tiga kali direnovasi di atas tanah wakaf milik Raden Tanu Reja seluas 2 hektare.
Tokoh agama Desa Pasirtalaga yang juga pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ghoyatul Jihad, H Majmudin Ama mengatakan, selama masa pembangunan dan perpindahannya, mesjid yang berdiri sebelum kemerdekaan ini sudah berganti tujuh kali DKM. Bahkan tergolong masjid paling tua di Kecamatan Telagasari yang dulunya termegah, lantaran berada di pusat kota Telagasari. Lokasi awalnya, masjid ini berdiri di Madrasah Tsanawiyah (MTs) saat ini yang dulunya adalah pusat Pendidikan Guru Agama (PGA). Baru sekitar tahun 1962, masjid ini berpindah 100 meter ke arah selatan, namun tetap di atas tanah wakaf, sehingga dimulai masa pembangunan awalnya di saat ini. Karenanya, dari dulu sampai sekarang, dinamai Ghoyatul Jihad karena artinya adalah hasil para perjuangan sesepuh dulu, baik fisik, materil dan moril membantu masa pembangunan. "Berdiri mah sejak sebelum kemerdekaan, baru dipindah tahun 1962 di lokasi sekarang," ungkapnya kepada Radar Karawang.
Ketua BPD Pasirtalaga ini menambahkan, dibangunan perdana tahun 1962 dengan ciri khas kubah 5 buah, menandakan rukun Islam dan 6 pintu depan tanda rukun iman, belum berstatus Yayasan dan memiliki lembaga pendidikan agama. Kemudian, baru di tahun 1970, masjid hasil arsitek
lokal H Marta Damanhuri ini memiliki MTs dan Madrasah Aliyah (MA), hingga kemudian diteruskan menjadi yayasan sejak tahun 1980. Karenanya, Masjid Ghoyatul Jihad ini bukan saja menjadi pusat ibadah Jumat masyarakat Telagasari dimasanya, juga menjadi pusat pendidikan formal agama, jauh sebelum Desa Pasirtalaga belum pecah dari Talagasari. "Dari dulu gak memiliki pondok pesantren. Hanya memusatkan masjid dan kesininya baru mendirikan MTs dan MA sampai sekarang," ujarnya.
Majmudin menambahkan, tahun 2000 an, Masjid Ghoiyatul Jihad direnovasi ulang seluas 30X36 meter, tanpa mengesampingkan ciri khasnya yaitu kubah 5 buah dan pintu depan 6 lawang. Hingga saat ini, selain mampu menampung rutinitas anak-anak MTs dan MA, juga mampu menampung jemaah Jumatan sekitar 800 orang. Apalagi selama bulan Ramadan ini, pengajian rutin ditingkatkan, seperti majelis taklim, pengajian bapak-bapak, yasinan dan praktik ibadah anak-anak MTs dipusatkan di masjid bersejarah ini.
Keberkahannya itu dapat dirasakan, karena dulunya pembangunan ke pembangunan, Masjid Ghoyatul Jihad mengandalkan partisipasi swadaya masyarakat. Karena dulu-dulu, jarang ada bantuan dari pemerintah. Meski demikian, selaku DKM, pihaknya memiliki cita-cita besar agar kedepan masjid ini bisa ditingkatkan sebagai pusat ibadah menjadi dua lantai. Lantai atas untuk kegiatan pengajian dan salat, sementara lantai bawah untuk kegiatan-kegiatan resepsi seperti pengajian, pernikahan dan kegiatan keagamaan lainnya. "Dari dulu hanya mengandalkan swadaya dan partisipasi masyarakat saja. Kedepan kita ingin dua lantai tanpa mengesampingkan arsitektur awalnya yang khas," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template