Dilema Pembatasan Kuota PPDB SMP - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Dilema Pembatasan Kuota PPDB SMP

Dilema Pembatasan Kuota PPDB SMP

Written By Mang Raka on Kamis, 08 Juni 2017 | 11.30.00

- Kepala Sekolah Mesti Pintar Cari Solusi

KUTAWALUYA, RAKA- Pembatasan rombongan belajar (Rombel) yang saat ini sudah disah kan Permendikbud dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun ajaran 2017/2018 akan dilaksanakan sekitar bulan Juni-Juli tahun 2017. Hal tersebut menjadi permasalah tesendiri bagi sekolah yang dinilai unggulan atau biasa menerima jumlah murid dalam kuota banyak.
Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kutawaluya, H Daud Hudawi MPd, mengaku akan dampak yang sangat luar biasa. Pasalnya, setiap tahun sekolahnya biasa menerima lebih dari 600 siswa, mengingat SMP ini merupakan salah satu sekolah favorit. Namun, sekarang mesti dipusingkan dengan peraturan baru yang telah disahkan melalui Permendikbud dengan pembatasan rombel. "Biasanya kita menerima sebanyak kurang lebih 600 siswa, namun saat ini setiap tingkatanya maksimal 11 rombel dengan 32 siswa perkelasnya, dan untuk tahun ajaranbaru ini kami hanya bisa menerima 32 siswa saja," katanya, kepada Radar Karawang, Rabu (7/6) kemarin di ruangan kantornya.
Dikatakanya, hal tersebut menjadi permasalahan tesendiri, ketika pemangkasan jumlah kuota penerimaan siswa baru akan berdampak kepada yang tidak bisa diterima di sekolah ini, karena kuotanya sudah memenuhi standar. Karena pemangkasan jumlah siswa hampir mencapai 50 %. "Nah ini yang 50% akan dikemanakan?" ujarnya.
Dan yang paling berat itu, sambung dia, ketika memeberikan penjelasan kepada orangtua siswa yang memaksa anaknya harus bersekolah di SMPN 1 KUtawaaluya ini. "Mungkin untuk mensiasatinya kita fokuskan kembali sekolah terbuka, kalaupun memang sebelumnya sudah ada SMP tebuka di sini, namun akan lebih dimaksimalkan lagi, karena sebenarnya tidakada perbedaan antara skolah leguler dan sekolah terbuka," ujarnya.
Ia mengakui dengan penetapan program baru ini hal yang cukup berat, namun, selaku prajurit pendidikan ia akan berusaha terus menjalankannya. Mengingat, ketika salahsatu sekolah ada yang melanggar peraturan ini pun akan ada sangsi yang cukup berat, salahsatunya tidak akan diterimanya dana bos, sedangkan untuk SMP sendiri dana sekolah itu hanya ada dalam dana bos saja.
Di satu sisi positifnya secara teori, dengan jumlah sebanyak 32 siswa dalam satu kelas ini memang akan lebih memaksimakan pembelajaanya. Anak akan lebih fokus dengan pembelajaran dan staf penagajar pun tidak akan merasa kesusahan dengan jumlah kuota siswa yang cukup. "Memang bagus sih, kalau istilah Sunda nya mah anak akan 'Ke geroh', dan dari sisi lainnya itu, akan dibawa kemana anak yang tidak keterima di sekolah ini," pungkasnya. (rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template