Cipangulah Tercemar Lagi, Warnanya jadi Abu-abu - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Cipangulah Tercemar Lagi, Warnanya jadi Abu-abu

Cipangulah Tercemar Lagi, Warnanya jadi Abu-abu

Written By ayah satria on Senin, 12 Juni 2017 | 15.47.00

KOTABARU, RAKA - Penjahat lingkungan yang seenaknya mencemari Sungai Cipangulah yang membelah Desa Pangulah Utara dengan Desa Pangulah Selatan, Kecamatan Kotabaru, kembali berulah. Jika sebelumnya berwarna biru, pink atau ungu, kali ini berwarna abu-abu.
Kondisi yang dibiarkan berlarut-larut ini, akhirnya menuai masalah. Banyak ikan yang dipelihara warga di kali tersebut mati. "Sudah lama gak berubah warna, baru kali ini kembali terjadi," ungkap tokoh masyarakat Perumahan Eka Mas Permai, Desa Pangulah Utara, Tuntun kepada Radar Karawang, Minggu (11/6) kemarin.
Ia melanjutkan, pencemaran sungai ini diduga dilakukan oleh pabrik di Desa Cibodas, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta. Ia meminta Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup melakukan tindakan terhadap pabrik yang mencemari Sungai Cipangulah. "Jika tidak segera ditindak, warga pasti bertindak," tandasnya.
Menurutnya, pencemaran ini sudah terjadi sejak satu tahun yang lalu. Jika biasanya berwarna biru atau ungu, sekarang malah abu-abu. Gawatnya, limbah cair itu semakin berbahaya. Buktinya banyak ikan milik warga di sungai itu mabuk. "Kalau dibiarkan terus menerus, bisa-bisa air warga juga ikut tercemar," ujarnya.
Melihat kualitas Sungai Cipangulah memburuk, itu tidak beda jauh dengan sungai lain di Kabupaten Karawang. Sungai Cilamaya misalnya. Sungai yang membentang dari Kabupaten Subang, Purwakarta, Karawang hingga laut Jawa, itu semakin parah sejak 10 tahun lalu. Berkali-kali sampel air sungai tersebut diambil oleh Pemerintah Kabupaten Karawang maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat, berkali-kali pula aktivis lingkungan melakukan kajian, namun hasilnya selalu nihil. Lima perusahaan yang diduga kuat membuang limbah berbahaya ke sungai tersebut, yaitu PT Assosiated British Budi (ABB) yang memproduksi frustose dan glucose, PT Gede Karang (GK) yang memproduksi kertas koran dan PT Sanfu juga memproduksi kertas serta pulp, industri kertas Papertech dan PT Budi Makmur Perkasa (BMP), tidak pernah tersentuh. Akibatnya, sungai yang mengaliri 250 hektare tambak di Desa Muara, Kecamatan Cilamaya Wetan, semakin pekat, berbau dan beracun.
Dampak dari limbah cair beracun itu kini semakin terasa. Jika masuk musim hujan, masyarakat Cilamaya khawatir terkena penyakit gatal-gatal, karena Sungai Cilamaya kerap meluap dan menenggelamkan pemukiman mereka. Sementara saat musim kemarau, masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Cilamaya, seperti Desa Tegalwaru, Mekarmaya, Cilamaya dan Muaralama, itu terpaksa menghirup bau menyengat. (psn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template