Ratusan PKL Perumnas Ditarik Uang Retribusi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Ratusan PKL Perumnas Ditarik Uang Retribusi

Ratusan PKL Perumnas Ditarik Uang Retribusi

Written By Mang Raka on Senin, 08 Mei 2017 | 19.00.00

TELUKJAMBE TIMUR, RAKA - Pelaku aksi pungutan liar (pungli) di sepanjang Jalan Utama Perumnas Telukjambe dan bawah jembatan Badami mengaku aksi yang dilakukan atas nama pemerintah daerah (Pemda). Di lokasi itu, ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) ditarik uang retribusi sebesar Rp 3000 setiap hari. Sayangnya, hingga kini belum ada tindakan tegas dari aparat terkait.

Informasi yang dihimpun Radar Karawang Minggu (7/5), hampir setiap hari pedagang yang berjualan di pinggiran perumnas dan jembatana badami dikenai uang retribusi sebesar Rp 3000 per pedagang. Memang kecil namun jika dikalikan jumlah pedagang yang mencapai ratusan tentu saja tak pantas disebut kecil lagi. Sementara retribusi itu sendiri tidak jelas kemana disetorkan.
Pedagang sendiri hanya tahu karena petugas yang memungut uang mengaku uang sebesar Rp 3000 merupakan uang retribusi yang harus dibayar pedagang dan tanpa karcis atau kertas retribusi yang mestinya diterima pedagang. Meski demikian pedagang memilih tetap memberi agar bisa berjualan aman di lokasi.
Seperti diungkapkan Edy (40) pedagang buah-buahan di lokasi, dirinya ditarik uang retribusi sebesar Rp 3000 setiap berjualan. Memang, dia tidak setiap hari berjualan namun hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja. Edy sendiri tidak keberatan dengan besaran uang yang diberikannya. Menurutnya, pantas saja mengingat sampah-sampah yang ditinggalkan pedagang itu kan harus ada yang membersihkan. "Menurut saya tidak masalahlah yang penting kan saya berjualan aman saja. Lha wong saya hanya berjualan dalam hari ramai saja, seperti hari Sabtu dan Minggu karena jika di hari-hari biasa bahu jalan ini dipergunakan untuk sekolah," katanya.
Ketika Radar Karawang menanyakan bukti karcis yang mestinya diterima,  Edy menerangkan jika tidak memilikinya dan orang yang meminta pun berganti-gantian, "Memang tidak ada karcis. Sepengetahuan saya mereka orang sini kali, dan sejauh ini sih aman-aman saja. Selagi mereka pun memberikan rasa nyaman saya tidak masalah," terang Edy.
Lain lagi dengan Tisna (29) pedagang ember anti pecah menerangkan jika kadang suka kesal karena meminta saat dagangan tengah sepi. Untungnya retribusi itu hanya sekali dan tidak ada pungutan yang lain. "Kalau mengakunya sih uang koordinasi untuk kegiatan saja tapi kalau saya tanya bukan dari karang taruna. Selagi mereka tidak rese dan memintanya pun dengan baik, wajarlah. Walaupun kini banyak berita saber pungli, namun tidak juga kalau buat kalangan kami," katanya.
Di tempat berbeda, Ekel (30) warga sekitar mengatakan jika lingkungan perumnas tidak pernah membenarkan pungutan liar. Dirinya akan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar mengetahui dari mana pungutan itu ada. "Yang jelas, kalau yang saya tahu, pemerintah desa tidak mungkin melakukan pungutan karena mereka sudah izin di awal berdagang, dan ini mesti saya tindak lanjuti ke aparatur desa. Coba saya tanya esok (hari ini, red) kang," tandasnya. (yfn)


Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template