Masjid Al Husaeni Banyak Didatangi Peziarah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Masjid Al Husaeni Banyak Didatangi Peziarah

Masjid Al Husaeni Banyak Didatangi Peziarah

Written By Mang Raka on Rabu, 31 Mei 2017 | 13.00.00

Berdiri Kokoh di Atas Empang Sejak 1923

CILAMAYA WETAN, RAKA - Dibangun sejak tahun 1923 oleh tokoh agama setempat bernama Mama KH Husen, Masjid Kambang Al Husaeni menjadi tempat ibadah masyarakat Cilamaya paling tua.
Meski sudah mengalami tiga kali renovasi, masjid yang dibangun 36 pancang cakar ayam di atas empang berukuran 500 meter persegi tersebut, masih kokoh berdiri di tengah segala mitos air empang, yang sampai saat ini sesekali dicari jemaah dari berbagai kecamatan dan kota.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kambang Al Husaeni H Ade Abdurahman mengatakan, masjid yang berlokasi di Dusun Pasar II RT 03/03 ini sudah tiga kali renovasi. Namun, tidak mengurangi dekorasi pembangunannya yang khas di atas empang/balong sejak tahun 1923.
Disebut Kambang, itu lantaran istilah bahasa dari kata mengambang, sementara Al Husaeni adalah nama pendirinya yang juga wakif lahan empang di lokasi tersebut. Sebelum diurus olehnya di akhir tahun 2014, masjid ini dibawah kendali mertuanya bernama KH Adnan Husein yang tak lain adalah tokoh Nahdlatul Ulama Cilamaya Wetan, sekaligus pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Karawang tahun 1998 bersama KH Hasan Bisri Syafei. Saat tahun 2014 kemarin, Masjid Kambang terancam ambruk karena kondisinya yang semakin lapuk, namun langsung direnovasi total di tahun 2015-2016. Sehingga saat ini sambung Ade, masjid tertua di Desa Cilamaya ini kembali dibangun oleh berbagai donatur, baik pemerintah, anggota DPRD, swadaya hingga para habaib Jakarta dan kiai Cirebon. "Dibangun di atas empang, sampai sekarang kita pertahankan istilah Kambangnya di atas air itu," ungkap Ade.
Lebih jauh dia menambahkan, direnovasi yang menelan biaya Rp 1,3 miliar selama setahun ini, Masjid Kambang Husaeni kini sudah bisa menampung lebih dari 150 jemaah, disamping untuk kegiatan-kegiatan keagamaan di bulan Ramadan ini seperti pengajian anak-anak, tadarusan, tarawih hingga kegiatan lainnya.
Tapi tandasnya, masjid yang saat ini berukuran 8 X 10 meter itu, tetap tanpa mengarug empang, sebab biaya yang cukup banyak juga dihabiskan untuk membuat pancang cakar ayam setinggi 4-6 meteran di atas empang. Karena, air empang yang tak pernah surut saat kering dan banjir saat hujan ini, sebut Ade, herannya sering dicari orang dari Jakarta, Plered, Pusakaratu dan Banten, untuk dipakai mandi hingga menambah pengairan sawah walau hanya sebotol air mineral. Mungkin, berharap keberkahan lewat wasilah itu.
Masjid Kambang ini juga tersohor di wilayah lain, karena memang pendirinya adalah tokoh yang juga banyak dikenal di wilayah Cirebon. "Air-air empang di bawah masjid ini masih ada saja yang mencari mengharap berkah, mulai dari Plered hingga Banten ada. Walau cuma sebotol air mineral," pungkasnya.
Seorang jemaah Masjid Kambang Al Husaeni Yayat mengatakan, dirinya sangat nyaman berada di masjid ini. Selain warga pasar yang sekadar istirahat dan salat saat tiba waktunya. Masjd Kambang ini juga sebelumnya menjadi masjid paling tua. Dirinya merasa ada kedamaian saja berada di masjid yang didirikan para tokoh ini. "Nyaman, sejuk dan dekat dengan para pedagang pasar untuk sekadar beribadah salat," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template