Masjid Al Huda Loji Peninggalan Ulama Banten - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Masjid Al Huda Loji Peninggalan Ulama Banten

Masjid Al Huda Loji Peninggalan Ulama Banten

Written By Mang Raka on Selasa, 30 Mei 2017 | 13.30.00

Dibangun Tahun 1895, Kini Makin Kokoh

TEGALWARU, RAKA - Tidak banyak yang tahu jika salah satu masjid di Loji, Tegalwaru, ada kaitan dengan masjid-masjid di Kabupaten Karawang, Bogor, Jakarta, hingga Banten.
Masjid Al Huda namanya. Masjid tertua di wilayah Kecamatan Tegalwaru dan secara administratif masuk dalam kawasan Loji, Desa Cintalaksana, Kecamatan Pangkalan. Keberadaan masjid ini pun sangat mudah ditemui, karena berada tepat di sebuah jalan pertigaan sebelum pasar Loji dan tempat mangkal para tukang ojek, juga bersebelahan dengan rumah warga yang menurut sumber bahwa mereka adalah para saudara, kerabat, cucu pendiri Masjid Al Huda.
Dari beberapa narasumber yang berhasil dihimpun Radar Karawang, Masjid Al Huda kaya akan cerita. Dari awal pembangunan masjid hingga menjodohkan para pendiri masjid, hingga mereka hidup dengan rukun. Berdasarkan sertifikat yang dikeluarkan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten Karawang Nomor Mi-06/188/4/III/2002 bertanggal 15 Maret 2002 dan ditantadatangani oleh Drs H Thoha Hasan MM, selaku kepala Kantor Depag Kabupaten Karawang, Masjid Al Huda dibangun pada tahun 1950. Namun berdasarkan sumber yang menjadi salah satu keluarga pendiri masjid tersebut, menerangkan jika masjid ini awalnya dibangun oleh para pendatang yang bergelar Tubagus (TB) dari Banten.
Masjid tersebut berdiri di atas tanah wakaf Tb.H.Surya. Yang makamnya kini bisa dijumpai di sebelah kiri masjid, yang merupakan orang Banten pertama yang menempati wilayah Loji. Lalu tanah Wakaf Tb. H.Abdurrohim atau (Tb.Djalam) di sebelah kanan masjid. Tb.H.Abdurrohim ini adalah seorang ulama Banten dan merupakan kakek dari Tb.H.Muslih, atau dikenal dengan nama Ajengan Djengot. Sangat kesohor di Telukjambe karena merupakan tokoh pejuang dari Karawang Selatan.
Dulu Masjid Al Huda itu dibangun dalam bentuk panggung, dengan hanya menggunakan pokok pohon Jati dan bambu seperti bangunan masjid zaman dahulu. Masjid itu dibangun pada tahun 1850 oleh kedua sesepuh tersebut, dibantu oleh masyarakat sekitar. Awalnya masjid ini hanya dikenal dengan nama "Masjid Jami", selain salat, Masjid Jami pun difungsikan sebagai tempat sarana dakwah, juga tempat mengajar dan belajar masyarakat sekitar yang jumlahnya tidak terlalu banyak pada saat itu. Pembangunan masjid ini seiring dengan terbukanya perkampungan juga penyebaran muslim di wilayah tersebut, menjadi Cikal bakal pusat perekonomian yang berwujud pasar di wilayah tersebut.
Kedua sesepuh ini menurunkan banyak ulama baik kyai ataupun ajengan di sekitar Kabupaten Karawang hingga Kabupaten Purwakarta, serta juga  Cibarusah Kabupaten Bogor hingga Jakarta. Bahkan dari beberapa sumber bahwa kisah Masjid Jami Al Huda itu masih berkaitan dengan masjid-masjid di wilayah Jakarta, seperti yang berada di Jatinegara, Cililitan, juga di Kabupaten Bogor yaitu kecamatan Cibarusah, hingga sampai juga ke Provinsi Banten.
Dahulu di sekeliling masjid ini banyak terdapat makam. Di sekitar kiri masjid tersebut banyak dimakamkan anak keturunan dari Tb.H.Surya, dan sebelah kanan masjid ini banyak dimakamkan anak keturunan dari Tb.H.Abdurrohim (Tb.Djalam), dan kedua sesepuh itu adalah besan yang mana mereka menikahkan anak-anaknya untuk mempererat hubungan keluarga. Dan hingga kini anak keturunan mereka masih dapat kita temui di sekeliling wilayah Pasar Loji.  Masjid ini banyak mengalami perubahan-perubahan dari tahun ke tahun, hingga kini seiring dengan perkembangan dan pertambahan jumlah penduduk di sekitar wilayah tersebut.
Pada Tahun 1950 masjid tersebut memperluas bangunannya hingga menutup makam-makam di sekitarnya, termasuk makam kedua sesepuh. Jadi, masjid tersebut diperluas dengan menutup makam-makam sekitarnya, dengan persetujuan anak keturunan dari kedua sesepuh tersebut tanpa memindahkan makam-makam keluarga, yang sudah terlanjur dimakamkan di tempat tersebut.
Bahkan salah satu saksi bisu berdiri pohon yaitu pohon Kiray di halaman serta pinggiran wilayah masjid. Pohon tersebut bukanlah pohon asli dari daerah Loji. Karena pohon itu dibawa oleh Tb.Djalam langsung dari Banten. Pada zaman tersebut, daun pohon Kiray berguna sebagai atap rumah-rumah, dan banyak dari masyarakat yang mengambil dan mengembangbiakan tanaman kiray dari masjid tersebut di kebun-kebun mereka. Empat Makam di sebelah kanan masjid yang masih terlihat sekarang, adalah makam cucu keturunan dari kedua sesepuh pendiri Masjid Al Huda itu. (yfn)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template