Anak Kerja Tak Digaji Orang Tua Datangi Minimarket - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Anak Kerja Tak Digaji Orang Tua Datangi Minimarket

Anak Kerja Tak Digaji Orang Tua Datangi Minimarket

Written By Mang Raka on Senin, 29 Mei 2017 | 16.00.00

KLARI, RAKA - Diera keterbukaan ini ternyata masih ada dugaan perbudakan tenaga kerja di Kabupaten Karawang. Seperti yang menimpa Muhamad Rizky Ramadhan. Dia bekerja di minimarket di Jalan Telagasari - Kosambi, Desa Duren, Kecamatan Klari. Selama 21 hari kerja dan 4 hari lembur namun sama sekali belum pernah menikmati gaji dengan layak.

Orang tua Rizky, Jajang Sutrisno menyampaikan, bermula anaknya yang masih menunggu program pemagangan ke luar negeri diajak temannya untuk bekerja terlebih dahulu diminimarket yang berada di Desa Duren, Kecamatan Klari. Rizkypun langsung minta izin kepada Jajang selaku orang tuanya, Jajang juga memberikan izin kepada anak kesayangannya itu.
Diawal masuk kerja Rizky memang menyampaikan gaji yang diterimanya dalam satu bulan sekitar Rp 1,5 juta. Meski tergolong kecil Jajang tetap memberikan izin karena pertimbangannya agar anaknya mempunya aktivitas. "Tidak ada kesepakatan tertulis dalam bentuk apapun. Hanya dikasih tahu gajinya perbulan Rp1,5 juta saja," kata Jajang kepada Radar Karawang, Minggu (28/5).
Mulai bekerja pada tanggal 28 April 2017, saat mau masuk kerja anaknya diminta untuk membawa ijazah. Kemudian ijazahnya ditahan sebagai jaminan keseriusan masuk kerja. Sudah berjalan dua, tiga hari kerja. Ternyata iklim pekerjaan anaknya dinilai sangat tidak baik. Mulai dari tidak dikasih makan, sampai harus mengganti uang atau potong gaji jika telat masuk. Meski tidak ada perjanjian secara tertulis, tetapi semua karyawan sudah mengetahui bahwa saat satu menit telat masuk kerja maka gajinya juga dipotong Rp 1 ribu. "Waktu shalat juga sangat sempit. Jadi seolah dikekang," keluhnya.
Selain itu, jam kerjanya juga tidak mengikuti aturan ketenagakerjaan, karena dalam satu hari kerja bukan delapan jam, melainkan 10 jam. Merasa tidak kuat dengan banyaknya dugaan penyimpangan ketenagakerjaan, Rizky akhirnya setelah 21 hari kerja menceritakan kondisi tersebut kepada dirinya.
Jajang juga langsung mendatangi toko tempat Rizky bekerja dengan maksud mencabut Rizky untuk keluar dari pekerjaan. Akhirnya Jajang bertemu dengan pemilik minimarket dan ijazah Rizkypun diberikan. Tetapi ada yang aneh, hanya ijazah yang diberikan, tetapi hak Rizky selama 21 hari kerja tidak bisa diambil. "Kata pemiliknya, aturannya kalau kerja belum satu bulan maka tidak ada hak gaji yang bisa diterima," ujar Jajang menirukan pemilik minimarket.
Lain itu, selama 21 hari kerja Rizky lembur selama 4 hari. Sementara dari lembur tersebut Rizky hanya mendapatkan uang lembur sebesar Rp19 ribu. Atau hanya untuk satu hari lembur saja. Sedangkan yang tiga harinya tidak diberikan. Ada lagi aturan lain yang dinilai tidak wajar dan memberatkan para tenagakerjanya. Yaitu tenaga kerja harus mengganti secara penuh jika terjadi kerusakan barang. Dengan tanpa mempertimbangkan apa penyebab barang tersebut rusak.
Ada juga potongan gaji sebesar Rp 200 ribu jika setelah off yang diberikan dua hari selama sebulan kemudian masuk kerjanya telat. Bahkan kalau tenagakerja keluar secara tiba-tiba ada potongan lagi sebesar Rp 300 ribu. "Makanya berdasarkan pengakuran para karyawan disiru. Termasuk yang sudah senior-senior. Gajinya tidak pernah utuh," ujarnya.
Untuk menindaklanjuti hak tersebut, Jajang yang merupakan warga Dusun Amarta, Desa Rawagempol Kulon, Rt.20/07, Kecamatan Cilamaya Wetan, sudah membuat pengaduan kepada organisasi buruh yaitu PPMI. Dia berharap paling tidak hak yang harus didapat oleh anaknya bisa terpenuhi. "Bukan soal besar kecilnya uang yah. Tapi ini berkaitan dengan hak yang harus didapat anak saya," pungkasnya. (zie)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template