RPH Dianggap Salahi Syariat Islam - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » RPH Dianggap Salahi Syariat Islam

RPH Dianggap Salahi Syariat Islam

Written By ayah satria on Sabtu, 29 April 2017 | 14.00.00

TEMPURAN, RAKA - Rumah Pemotongan Hewan (RPH), dianggap masih belum menyempurnakan tata cara penyembelihan hewan sesuai syariat islam. Utamanya, pada prosesi pemotongan ayam. Karenanya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), akan mengeluarkan sertifikat halal bagi tempat pemotongan ayam yang sudah melaksanakan kesempurnaan penyembelihannya di Karawang.
Sekretaris MUI Karawang, Dr H Zaenal Arifin, baru-baru ini, mengungkapkan, Haram hukumnya jika pemilik rumah pemotongan hewan salahi aturan syariat agama islam. Jika tidak sesuai, syariat, bukan saja membawa petaka haram dikonsumsinya, maka juga akan mengundang penyakit yang ditimbulkan dari hewan yang disembelihnya itu sendiri.
Seperti memotong tanpa putus urat tenggorokan hewannya, atau mugkin juga masih hidup sudah dicelup ke air panas mendidih untuk menguliti bulu-bulunya. Menyikapi ini, MUI di setiap Kecamatan bersama Kantor Urusan Agama (KUA), harus turun tangan memberikan pembinaan, karena ini menjadi satu dari sekian yang diprogramkan MUI. "Banyak yang tak sesuai syariat, utamanya di tata cara pemotongannya, ini harus di ingatkan," ungkapnya.
Zaenal menambahkan, kedepan RPH harus punya sertifikasi halal dari MUI setelah dibina dan ditinjau ahli agama, namun surat keterangan halal itu, tidak berhak dikeluarkan MUI tingkat desa maupun Kecamatan, karena kewenangannya harus dikeluarkan MUI Kabupaten, untuk itu, adalah fardhu Ain secara organisasi, agar MUi selalu menjalin komunikasi dan koordinasi dengan semua elemen, seperti Kecamatan maupun pemerintah desa untuk cheking tempat-tempat pemotongan hewan ini. "Yang mengeluarkan sertifikat keterangan halal adalah MUI Kabupaten nantinya," ujarnya.
Ketua MUI Karawang, KH Tajudin Noor mengungkapkan, MUI diakuinya memiliki program- program pembinaan kepada tempat-tempat penyembilahan hewan, baik  ayam maupun sapi. Sejauh ini, dirinya tak menampik masih banyak tata cara penyembelihannya yang masih menyalahi aturan syariat. Seperti misalnya, penggunaan alat yang kurang tajam, atau juga memotong yang tak tembus leher ayam, bahkan kondisi masih belum mati total sudah di celup ke air panas mendidih unntuk mengulitinya, dengan kata lain sebut Tajudin, ayam mati bukan karena disembelihnya, tapi karena air panasnya. Kondisi ini yang harus disempurnakan dan dibina para tokoh agama dan MUI di setiap desa dan Kecamatan. Pihaknya dari Kabupaten, siap berikan sertifikat halal, jika pemotongannya sudah sesuai syariat agama islam." Baru dipotong sampai kulit sudah di buang ke air panas, baru mati, ini gak bener," ungkapnya.
Sekcam Tempuran, Yedi Santika mengatakan, MUI dimintanya untuk ikut minggon desa dan di kecamatan sosialisasikan kaitan pemotongan hewan sesuai syariat ini. Biar nantinya, bisa terintegrasi, bukan saja dari MUI tetapi Trantib bersama pegawai desa siap mengantar dan menyisir tempat-tempat rumah pemotongan hewan, apalagi menjelang puasa ramadhan, umat sebut Yedi perlu akan pemahaman ini. "Nanti bisa disisir tempat-tempatnya, yang terpenting pengurus MUI nya bisa ikut minggon dan mensosialisasikannya saja dulu," pungkasnya. (rud)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template