Putus Sekolah, Syamsul Jualan Kerupuk - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Putus Sekolah, Syamsul Jualan Kerupuk

Putus Sekolah, Syamsul Jualan Kerupuk

Written By ayah satria on Senin, 17 April 2017 | 15.12.00

KUTAWALUYA, RAKA - Syamsul Ma'arif Al Kubro, anak usia 12 tahun warga Desa Kertajaya, Kecamatan Jayakerta, terpaksa menyimpan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) akibat terkendala biaya. Cita-citanya sebagai pengusaha sukses harus ia simpan dalam-dalam. Pasalnya, waktu untuk sekolahnya ia habiskan untuk berjualan kerupuk demi membantu perekonmian keluarga.
Menurutnya, setiap hari ia harus memikul kerupuk dan berjalan berkilo-kilo meter bertolak dari kediamannya hanya untuk menjajakan dagangannya. Ia mengaku sudah melakukan aktivitasnya tersebut sejak duduk di kelas 2 sekolah dasar (SD). "Setiap hari saya harus berkeliling untuk menjajakan kerupuk, kebetulan area jualan saya di Kecamatan Kutawaluya ini," kata Syamsul, kepada Radar Karawang.
Ia melanjutkan, kerupuk yang ia jajakan tersebut, merupakan kerupuk yang ia ambil terlebih dahulu dari tetangganya. Adapun laba bersih hasil penjualan kerupuk yang ia terima setiap hari tergantung dari habis atau tidaknya kerupuk yang ia bawa. "Saya hanya kuli menjual saja dari bos yang punya kerupuk, biasanya saya dikasih 100 kerupuk setiap hari, sama saya dijual Rp 1000/pcs, kalo habis semua ya dapet lah gocap mah, tapi sekarang saya baru mendapatkan uang Rp 40 ribu doang," ujarnya lesu.
Ia mengaku rela berjualan kerupuk ini demi membantu perekonomian keluarga, ia juga pernah terfikirkan dan menginginkan seperti anak-anak pada umumnya yang bersuka cita dan disibukan dengan pelajaran sekolah. Namun, Mumuh, ayahnya, yang hanya seorang penjual manisan dan Rohmani, ibunya, penjual nasi uduk, dinilai tidak bisa membiayai kelanjutan sekolahnya  "Saya juga suka iri liat anak-anak seusia saya bersekolah, tapi mau gimana lagi, daripada saya harus membebani orangtua," keluhnya.
Dikatakan Syamsul, bukan hanya dia anak yang berprofesi sebagai penjual kerupuk keliling. Ada sekitar 10 orang temannya yang bernasib serupa, yakni saudara sepupunya Franki (14) dan teman-teman lainnya yang sudah tersebar ke berbagai wilayah.
Franki membenarkan, anak-anak di desanya yang putus sekolah hampir mengikuti jejaknya sebagai seorang penjual kerupuk. Hal tersebut ia lakukan untuk alasan yang sama yakni akibat himpitan ekonomi keluarga. Bahkan, selain harus membiayai sekolahnya, Franki harus membantu membiayai 2 orang adiknya yang masih balita. "Ayah dan ibu saya masih ada, tapi suntuk sekolah saya tidak mau terlalu membebankan orangtua," pungkasnya. (rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template