Kuli Tandur Mulai Tinggalkan Sawah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Kuli Tandur Mulai Tinggalkan Sawah

Kuli Tandur Mulai Tinggalkan Sawah

Written By ayah satria on Sabtu, 29 April 2017 | 13.00.00

KARAWANG,RAKA - Profesi sebagai petani tampaknya sangat tidak diminati warga Karawang meskipun Kabupaten Karawang mendapat julukan sebagai daerah lumbung padi nasional. Faktanya, saat ini  pemilik sawah  kesulitan untuk mendapatkan jasa tandur saat akan menanam padi. Sehingga untuk mendapatkan jasa tandur (odong-odong) ini pemilik sawah harus rela antre. Akibatnya, program gerakan menanam serentak yang dicanangkan pemerintah menjadi terganggu.
"Profesi Jasa tandur ini sangat dibutuhkan bukan hanya oleh pemilik sawah, tetapi juga pemerintah daerah untuk program percepatan menanam padi secara serentak. Tapi ketika gerakan menanam serentak ini kita menemukan masalah karena pemilik sawah kesulitan untuk mendapatkan jasa tandur. Kalaupun mendapatkan jasa tandur pemilik sawah harus mengatri dulu baru bisa menanam padi, ini yang menjadi kendala," kata Kepala Dinas Pertanian Karawang Hanafi, Jumat (28/4).
Dikatakannya, sejak beberapa tahun terakhir masyarakat desa yang berprofesi sebagai ahli tandur sudah mulai berkurang. Hal ini mulai dirasakan saat musim tandur, pemilik sawah mulai kesulitan jasa tandur. Para petandur yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga dan sebagian kecil dari mereka itu bapak-bapak  mulai terus berkurang. Para petandur ini tergabung dalam satu kelompok yang disebut odong-odong dengan anggota mencapai 15 orang. "Kelompok odong-odong ini sudah mulai berkurang dan sulit untuk mendapatkan jasa mereka, Kalaupun ada kita harus sabar menunggu antrian. Beberapa kelompok odong-odong yang kita temui mengaku sejak beberapa tahun terakhir anggotanya sudah berkurang," kata Hanafi.
Hanafi mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab terus berkurangnya masyarakat desa yang berprofesi sebagai ahli tandur padi. Tapi indikasinya, kemungkinan karena sangat minimnya upah yang mereka terima sebagai jasa tandur. Masyarakat yang memiliki ahli tandur padi dan bergabung dalamkelompok odong-odong hanya mendapatkan upah sekitar Rp30-40 ribu perhari. Paling besar, upah yang mereka terima mencapai Rp 50 ribu perhari. "Saya akui upah jasa tandur memang terlalu kecil sehingga profesi ini mulai ditinggalkan oleh masyarakat desa. Dengan kondisi seperti sekarang ini memang upah sebesar itu sulit untuk menutupi biaya hidup," katanya.
Menurut Hanafi, jika alasan semakin sulitnya mencari jasa tandur padi karena upah yang sangat minim, maka kondisi itu harus diperhatikan bersama. Pihaknya akan mendorong pemilik sawah untuk memberi upah layak bagi masyarakat yang memiliki keahlian khusus sebagai ahli tandur padi. (ops)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template