Distribusi Bibit Padi Subsidi tak Transfaran - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Distribusi Bibit Padi Subsidi tak Transfaran

Distribusi Bibit Padi Subsidi tak Transfaran

Written By Mang Raka on Kamis, 20 April 2017 | 13.00.00

- Kades Kutakarya: Gapoktan Belum Buat Laporan

KUTAWALUYA, RAKA- Kepala Desa Kutakarya, Kecamatan Kutawaluya, mengeluhkan ketidak transfaranan ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) desa. Pasalnya, selama 2 pekan pasca didistribusikannya bibit padi, ketua gapoktan hingga saat ini belum laporan kepada pemerintah desa. Padahal, pemerintah desa memerlukan laporan gapoktan tersebut.
Menurut Kepala Desa Kutakarya Dahiman, semenjak didistribusikannya 2 ton bibit padi oleh Dinas Pertanian kepada gapoktan di Desa Kutakarya, hingga saat ini pemerintah desa belum mendapatkan tembusan pelaporan dari masing-masing gapoktan. Hal tersebut menyebabkan pemerintah desa kesulitan dalam membuat laporan administrasi desa.  "Ada dua ton bibit padi yang dipegahg oleh masing-masing ketua gapoktan di desa. Selama 2 minggu ini belum ada laporannya ke desa, kemana arah pendistribusian bibit tersebut, soalnya kita butuh untuk kelengkapam administrasinya buat laporan," katanya, kepada Radar Karawang, Rabu (19/4) kemarin, di kantornya setelah minggon desa.
Dahiman mengetahui adanya distribusi bibit padi subsidi tersebut, berdasarkan laporan dari PPL pertanian setempat. Dirinya menyayangkan tindakan dari 2 ketua gapoktan di desanya yang hingga saat ini belum melaporkan hasil distribusinya. "Kita harap dari kedua ketua gapoktan itu melaporkan hasil pendistribusian bibit padi bersubsidi tersebut, karena pelaporannya itukan melibatkan dan melalui desa," pintanya.
Sedangkam menurut salah seorang ketua gapoktan, Kaidi, mengaku belum sempat membuat laporan tentang pendiatribusian bibit padi tersebut. Karena, dari 1 ton bibit padi yang ia terima baru 135 kilogram yang ditebus oleh para petani. Pasalnya, banyak petani yang lebih memilih membeli bibit dari luar dengan merk yang berbeda. "Petani lebih memilih membeli bibit diluar dengan alasan ingin menanam varietas padi yang berbeda, karena disesuaikan dengan musim saat ini, jadi para petani lebih memilih beli bibit yang genjah," kata dia.
Bibit padi hasil subsidi yang ia beli Rp 12.500 per plastik, sambungnya, ia jual kembali kepada para petani dengan harga Rp 15.000. "Kalau di jual perkilo, saya mendapat keuntungan Rp 500 per kilo, tapi bibit ini kan kita jual per plastik (kampil), jadi kota jual Rp 15.000," pungkasnya. (rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template