Sawah di Kampung Jalitri Bau Sampah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Sawah di Kampung Jalitri Bau Sampah

Sawah di Kampung Jalitri Bau Sampah

Written By Mang Raka on Sabtu, 25 Maret 2017 | 14.00.00

*Petani Khawatir Kualitas Gabah Jelek

TELUKJAMBETIMUR,RAKA - Sudah saatnya warga menyadari untuk tidak membuang sampah ke kali ataupun sawah. Selain berpengaruh terhadap kualitas gabah karena tercemar kotoran hal itu bisa mengakibatkan endapan sampah dan menghalangi arus air sehingga air meluap ke permukaan.

Selain sungai dan sawah sampah juga menumpuk di saluran-saluran air tersier yang menjadi kebutuhan petani. Seperti, pengamatan Radar Karawang Jumat (24/3) di persawahan Kampung Jalitri, Desa Teluk Jambe, sampah berbagai jenis mengotori lahan persawahan dan saluran air. Kini petani hanya bisa melakukan pemungutan Sampah tersebut yang terbawa arus air dari saluran irigasi. Padahal, sawah tersebut akan ditanami padi. Karena dipenuhi sampah, dirinya terpaksa memungut sampah dan mengumpulkan dalam karung. Perihal sampah bukanlah hal yang baru bagi kita, Jika kita mendengar kata ini pasti terlintas dibenak kita sampah adalah semacam kotoran, setumpuk limbah, sekumpulan berbagai macam benda yang telah dibuang ataupun sejenisnya yang menimbulkan bau busuk yang menyengat hidung.
Dengan kata lain sampah dapat diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses yang cenderung merusak lingkungan di sekitarnya. Sampah merupakan salah satu dari sekian banyak masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Masyarakat kota ataupun daerah yang padat pendududuknya pasti menghasilkan persoalan sampah.Bahkan yang parahnya karena kesadaran yang kurang areal sawah pun kini menjadi genangan sampah yang justru berdampak bagi petani.
Torik (40) petani mengatakan sampah yang sering genangi persawahannya itu bukan saja mengancam rusak padi tapi ganggu petani karena khawatir malah menjadi bibit penyakit.Sampah tersebut banyak di temui diserakkan di pinggir sawah hingga kering padahal kan kalau warga yang mengerti mungkin saja sampah bisa dibakar. “Kebanyakan sampah plastik, jadi harus disingkirkan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Kalau sampah organik justru menguntungkan, karena bisa menambah kesuburan tanah,”katanya.
Sementara Marsadin (37) mengaku dipusingkan karena banyak sampah masuk ke sawahnya. Setiap kali membuka saluran irigasi, berbagai sampah ikut masuk ke sawah. “Saya sudah membuat alat penyaring sederhana dari bambu, namun masih banyak sampah yang masuk. Sebagian besar sampah plastik. Dan saya berharap pemerintah bisa tegas mengatasi persoalan sampah yang sering ganggu areal persawahan warga dan saya juga menyesalkan ada warga yang kurang menyadari pentingnya kesehatan. Warga seperti tidak tahu aturan saja masa buang sampah di sawah malah bikin sawah kami jadi berbau dan pohon padi pun banyak yang mati oleh keberadaan sampah.
Hal serupa ditegaskan Yadi (38), jika tidak segera dipacu kinerjanya petani produksi gabah akan merosot. Sementara sampai saat ini belum ada tindakan yang sifatnya membuat jera para pelaku pembuang sampah liar. “Bagaimana lagi, petani harus repot memungut sampah disawahnya. Apalagi usai hujan deras dan saluran air meluap, banyak sekali sampah ikut terbawa air. Namun kami sudah mengajak petani agar sampah dikeringkan dekat sawah lalu dibakar,” tandasnya.
Pihaknya juga akan mengadukan masalah itu kepada pemerintah desa setempat dan berharap ada solusi terbaik untuk mengurai masalah sampah ini. Ini juga terkait dengan kesadaran sebagian masyarakat yang membuang sampah sembarangan. "Harapan saya drainase juga bisa dilebarkan hingga genangan sampah terus bisa ke buang ke sungai," pungkasnya. (yfn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template