Perampok SPBU Ternyata Teroris - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Perampok SPBU Ternyata Teroris

Perampok SPBU Ternyata Teroris

Written By ayah satria on Rabu, 01 Maret 2017 | 17.20.00

Yayat 'Bomber Panci' Pernah Beraksi di Jatisari

Kesekian kalinya Kabupaten Karawang dikaitkan dengan aktivitas teroris. Selain kerap disinggahi pelaku teror, di dua kecamatan yaitu Cikampek dan Klari selalu direpotkan saat salah satu warganya ditangkap atau ditembak mati Densus 88.
Bahkan untuk membiayai aksi terornya, mereka disinyalir melakukan kejahatan di jalanan Kota Pangkal Perjuangan. Yang paling menonjol adalah aksi perampokan Yayat Cahdiyat (42) di SPBU Kaliasin, Kecamatan Jatisari, Maret tahun 2010.
Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengungkapkan, Yayat bersama Agus Marshal dan Enjang Sumantri, melakukan perampokan mobil Toyota Avanza yang terparkir di SPBU Kaliasin, pada Maret 2010. "Beberapa pelanggaran-pelanggaran hukum terkait Yatat Cahdiyat alias Abu Salam, ini adalah aktivitas yang dikenal dengan istilah Fa'i di kawasan Cikampek pada 2010. Fa'i yaitu melakukan aktivitas perampokan, pencurian, untuk mendapat sejumlah uang yang menurut mereka halal, apabila digunakan untuk perjuangan aksi teror," kata Boy.
Yayat dan dua pimpinannya ditangkap pada 25 April 2012. Namun, dugaan pidana yang dilakukan kelompok tersebut bukan sekadar perampokan. Petugas Densus 88 Antiteror Polri menangkap mereka atas tuduhan terlibat sokongan logistik untuk kelompok yang melakukan paramiliter di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar pada 2010.
Diduga Yayat dan kelompoknya, menggunakan hasil perampokan mobil untuk pembelian senjata api rakitan, dan peluru sebagai logistik ke pelatihan di Pegunungan Jalin Jantho. "Pada tahun 2010, ketika terjadi kegiatan aksi terorisme di Jalin Jantho, Aceh yang melibatkan tersangka lainnya sepeti Dulmatin dan Aboebakar Ba'asyir sebagai tersangka, nah Yatat ini mempunyai peran dalam proses penyiapan logistik. Seperti penyiapan senjata api dan peluru, yang antara lain diperoleh dari wilayah daerah Bandung, dan beberapa yang berasal dari senjata rakitan," ujar Boy.
Akibat perbuatannya, Yayat divonis pidana penjara selama tiga tahun dan ditahan di Lapas Tangerang, Banten. Dan Yayat bebas dari penjara pada 2014 atau lebih cepat dari vonis tiga tahun, karena mendapat pengurangan hukuman. Setelah bebas, Yayat bersama istri dan tiga anaknya tinggal di Bandung. Ia berpindah-pindah rumah kontrakan. Dari monitoring intelijen Densus 88, Yayat terpantau kembali bergabung dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung.
Sementara itu, Polri terus menyelidiki jaringan Yayat Cs, yang merupakan pelaku teror di Taman Pandawa, Arjuna, Cicendo, Bandung. Dari hasil pendalaman, diketahui bahwa Yayat bukanlah orang baru dalam aksi teror di Indonesia.
Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menerangkan, tak perlu waktu lama bagi mereka untuk bisa mengidentifikasi pelaku. “Secara intensif masih dicek di RS Polri Kramat Jati, dan akan dicocokkan secara scientifik dan dengan keluarga. Dengan cukup cepat diidentifikasi di lapangan,” kata Boy.
Dia memaparkan, dari kartu tanda penduduk yang dikantongi pelaku, diketahui bahwa dia beralamat di Pasir Jambu, Bandung Barat dan mengontrak di Sibangalih. “Istrinya ada, kelahiran Bandung dan telah memiliki tiga anak,”  sambung Boy.
Lalu untuk aksi teror yang diikuti, Boy menerangkan, pada 2010 pelaku melakukan pelatihan militer di Aceh. “Ketika itu ada tersangka lain atas nama Dulmatin, Abu Bakar Baasyir. Yayat Abu Salam ini berperan dalam penyediaan logistik, seperti senjata api dan amunisi,” tambah mantan Kapolresta Padang ini.
Untuk senjata yang digunakan untuk pelatihan militer, Boy mengatakan bahwa itu diperoleh di Bandung. Bentuknya adalah senjata rakitan. Diketahui bahwa Yayat tewas usai timah panas bersarang di dadanya. Jenazah Yayat kini berada di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Boy menerangkan, dari penelusuran nama, Yayat diketahui pernah terlibat aksi perampokan di Cikampek pada 2009. “Melakukan aktivitas perampokan pencurian dan dianggap mereka halal untuk aksi teror. Seperti kelompok Agus Marshal yang merampok di SPBU. Mengoleksi senjata dan anak peluru untuk kegiatan pelatihan,” kata Boy.
Bahkan, kata Boy, Yayat juga ahli dalam melakukan bongkar pasang senjata jenis FN. Polri juga kalah Boy sangat menyayangkan aksi yang dilakukan Yayat. Di mana dia sudah pernah ditahan, namun ketika bebas malah kembali ke aksi terorisme.
“Ini masuk post release program, Polri bekerjasama dengan stakeholder, bagaimana para mantan (terorisme) kembali ke aktivitas normal ke yang lainnya. Karenanya dengan kementerian terkait, BNPT, bagaimana post release program jadi nyata, tidak kembali lagi lakukan aksi serupa di kemudian hari,” papar dia.
Program ini, lanjut Boy, dilakukan berbarengan dengan program deradikalisasi. “Masyarakat diharap menjadi bagian penting untuk mempersempit kelompok jaringan (teroris) baru,” terang dia.
Apalagi salah satu permintaan Yayat ketika bernegosiasi adalah ingin agar petugas Densus 88 datang ke lokasi, dengan maksud untuk membebeaskan rekan-rekannya yang masih ditahan. Sementara itu, dari Bandung, Yayat Cahdiyat ternyata meletakan dua bom panci di dekat Lapang Pendawa.
Namun, hanya satu bom panci yang berisi paku meledak dengan daya ledak rendah, sedangkan satu lagi tak berhasil. “Dari hasil olah tempat kejadian perkara oleh Puslabfor Mabes Polri, ternyata ada 2 bom panci di lokasi tersebut. Bom yang meledak itu diletakkan di bawah meja, sementara yang didekat lapang tidak meledak,” kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus di Mapolda Jabar.
Yusri mengatakan, dua bom panci itu terisi paku, gotri dan detonator. Kedua bom tersebut, baik yang meledak dan yang tidak diamankan polisi. Menurutnya, bom panci rakitan pelaku ini tidak menghasilkan daya ledak tinggi. (ca/elf/pb)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template