Pengembang Nakal Bermain di Karawang - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pengembang Nakal Bermain di Karawang

Pengembang Nakal Bermain di Karawang

Written By ayah satria on Jumat, 03 Maret 2017 | 17.27.00

KARAWANG, RAKA - Berkembangnya industri di Kabupaten Karawang berbanding lurus dengan kebutuhan tempat tinggal baru. Hal ini menjadi lahan bisnis menggiurkan bagi pemain properti. Tidak terkecuali pengembang nakal.
Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) menilai banyak masalah yang timbul akibat ulah oknum pengembang nakal, yang akhirnya merugikan masyarakat dan juga pihaknya. Untuk itu, Apersi meminta dilibatkan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang, dalam kegiatan ekspose pengembangan kawasan perumahan dan pemukiman.
"Kami minta ke pemerintah, ketika pengembang mengajukan izin, kami dilibatkan dalam ekspose. Jadi, kami tahu pengembang ini ikut asosiasi mana, bisa bertanggungjawab tidak terhadap fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) hak masyarakat," kata Ketua Apersi Wilayah IV Jawa Barat H Abun Yamin Syam kepada wartawan, Kamis (2/3).
Dia menyebut, banyaknya pengembang nakal yang tidak menyediakan fasos-fasum, atau menyerahkannya ke Pemkab Karawang. Hal tersebut sangat merugikan masyarakat yang menjadi konsumen perumahan. Selain itu, ulah oknum tersebut juga turut merugikan pihaknya, dalam hal kepercayaan publik terhadap pengembang perumahan. Hanya saja, ia tidak bisa memastikan oknum pengembang nakal tersebut, karena tidak pernah dilibatkan oleh Pemkab Karawang saat ekspose perizinan pengembangan perumahan. "Karena asosiasi ini kan banyak, salah satunya Apersi. Jika memang anggota kami yang tidak bertanggungjawab, pasti akan ada teguran keras. Kami pun terus memantau anggota kami, untuk di Karawang ini baru terdata 82 pengembang," bebernya.
Dia menyarankan, untuk meminimalisir terjadinya persolan fasos-fasum yang tidak disediakan atau tidak dilimpahkan ke pemkab oleh pengembang, diperlukan kecermatan pemkab melalui dinas teknis sejak awal pengajuan izin pengembangan perumahan. Selain itu, pemkab juga harus respon dalam menagih fasos-fasum pada pihak pengembang,saat dilaksanakan akad kredit dengan masyarakat. "Makanya pengembang setelah pembangunan itu selesai, fasos-fasumnya harus segera dibereskan. Termasuk serah terima dengan pemerintah. Dan pemerintah pun jangan terlalu lama menerimanya, jangan bertele-tele, jangan sampe kabur duluan. Yang penting setelah akad kredit, fasos-fasum itu diserahkan ke pemerintah," terangnya.
Diakui Abunyamin, animo masyarakat cukup tinggi terhadap pengembangan kawasan perumahan dan pemukiman, khususnya rumah bersubsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Mengingat, Kabupaten Karawang saat ini menjadi kota industri yang banyak diserbu oleh para pendatang dari luar daerah, dengan hanya mengandalkan uang yang dibawa untuk mengontrak rumah.
Dari data yang dimiliki Apersi, kebutuhan rumah bersubsidi di Karawang cukup tinggi. Terlebih dengan banyaknya pekerja yang berpenghasilan rendah dan menengah, sehingga mereka lebih memilih untuk mengambil rumah bersubsidi dibanding mengontrak. Ditambah harga rumah bersubsidi di Karawang telah ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp 123 juta, dengan suku bunga 5 persen. "Jadi sangat mungkin terjangkau," katanya.
Sebelumnya, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana membidik sejumlah pengembang nakal yang beroperasi di wilayahnya. Karena banyak yang dengan sengaja menabrak aturan, bahkan melarikan diri sebelum kewajibannya kepada konsumen atau pemerintah daerah dipenuhi. Ia pun berjanji akan menertibkan hal tersebut, dan lebih selektif dalam mengeluarkan izin untuk pengembangan perumahan.
Persoalan pengembang juga pernah disoroti oleh Bupati Karawang periode 1995-2000 dan 2005-2010, Dadang S Muchtar. Dia menyebut pemberian izin alih fungsi lahan kental sekali dengan uang pelicin. Dampak lainnya dari praktik suap menyuap tersebut, adalah tertundanya Raperda Lahan Pertanian Berkelanjutan (LP2B). "Kita prihatin kok semakin mudah buat perizinan perumahan di lahan-lahan sawah sekarang ini. Dari Ciampel sampai Karawang Barat yang merupakan golongan air Tarum Barat habis semua," keluhnya. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template