Korban Cabul Oki Diminta Lapor Polisi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Korban Cabul Oki Diminta Lapor Polisi

Korban Cabul Oki Diminta Lapor Polisi

Written By Mang Raka on Senin, 13 Maret 2017 | 13.00.00

KARAWANG, RAKA - Korban pencabulan Oki Muhamad Akbar (OMA) diduga berjumlah lebih dari 24 anak. Kasatreskrim Polres Karawang AKP Maradona mengimbau warga yang menjadi korban, segera melapor ke kantor kepolisian terdekat atau Polres Karawang.
“Sampai sekarang dari 24 anak yang mengaku sebagai korban cabul OMA, baru 12 orang yang sudah memberikan keterangan kepada penyidik dan sisanya menyusul. Jika masih ada korban lainnya hendaknya secepatnya melapor," kata Maradona kepada wartawan, Minggu (12/3) kemarin.
OMA, warga Dusun Munjul Kidul, Desa Curug, Kecamatan Klari, mengaku melakukan aksi bejadnya selama satu tahun. Seluruh anak yang dijadikan sebagai korbannya  merupakan anak didiknya di SSB tersebut. Para korban selalu menuruti permintaannya, karena takut dikeluarkan dari keanggotaan klub sepakbola tersebut. Selain itu, ada juga calon korbannya yang diiming-iming akan mendapatkan uang jajan sebesar lima ribu rupiah. Ironisnya, perbuatan cabul itu kadang dilakukan dihadapan teman-teman korban. "Saya melakukan aksi tersebut sudah satu tahun lama, dan tidak tahu kenapa memiliki sifat seperti itu kepada anak-anak. Padahal, saya menyukai lawan jenis (wanita) dan baru putus beberapa bulan yang lalu," ucapnya, Kamis (8/3) lalu.
Sementara itu, Sekretaris Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Karawang Mari Fitriana mengatakan, pihaknya akan terus mengawal dan mendampingi ke 24 korban cabul itu. “Kami akan memberikan support dan motivasi agar tidak merasa malu, sedih dan takut terhadap masa depannya, termasuk mengawal sampai proses persidangan," kata Mari kepada wartawan saat mengunjungi rumah salah seorang korban, Sabtu (11/3) lalu.
Mari mengatakan, dari 24 anak yang mengaku korban, tidak semuanya disodomi. Sebab, sebagian korban mengaku hanya dipeluk, dicium dan ada yang sekadar dibelai. Meski begitu, sampai saat ini sudah empat anak yang divisum karena mengeluh sakit di anusnya. Terkait kendala biaya visum, Mari mengatakan, pihaknya akan berupaya bekerjasama dengan Badan Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BPPA) Karawang. “Kami sudah koordinasi dengan Bu Nina (BPPA) bahwa biaya visum bisa direimburshe asal ada kuitansi asli,” ungkapnya.
Mari dan jajaran pengurus lain berharap, pelaku pencabulan diberi hukuman yang berat agar tidak mengulangi perbuatannya. “Kami minta akan pelakunya mendapat hukuman yang berat,” pungkasnya. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template