ABG Dikelabui Jadi Terapis Spa - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » ABG Dikelabui Jadi Terapis Spa

ABG Dikelabui Jadi Terapis Spa

Written By Mang Raka on Kamis, 30 Maret 2017 | 12.00.00

- Awalnya Mau Dijadikan Asisten Rumah Tangga

PURWAKARTA,RAKA - Etik (46), warga Desa Cibogogirang, Kecamatan Plered, kini bisa bernafas lega. Pasalnya, ia bisa bertemu kembali dengan anak gadisnya EK (17) setelah hampir 3 bulan tak bisa pulang lantaran bekerja ditempat salon kecantikan dan spa di Kota Bandung. Meski begitu, kepulangan EK berbuntut panjang, lantaran pihak pemilik salon hanya memberi izin EK pulang selama 3 hari sebab sudah terikat kontrak. Jika EK ingin berhenti kerja, harus membayar Rp 20 juta sebagai ganti rugi adiministrasi.
Awalnya, EK (17), anak ke 3 dari enam bersaudara pasangan Etik dan Pandi warga RT01, RW01, Desa Cibogogirang itu, bersama lima orang temannya dibawa oleh tetangga mereka, Aan (47), dijanjikan akan dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga di Kota Bandung dengan gaji Rp 3 juta per bulan. Sebelumnya, mereka mengikuti training selama dua minggu sebelum bekerja.
Ternyata, janji tersebut tidak terbukti. EK dan temannya malah dipekerjakan sebagai terapist di sebuah salon dan spa yang terletak di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bandung. Salon dan spa itu sendiri sudah dilauching pada 23 Januari 2017 lalu, sementara EK dan lima orang lainnya diketahui mulai bekerja sejak 3 Januari 2017. "Kadang tamunya itu ngajak keluar, minta ini itu, istilahnya plus-plus. Tapi selalu saya tolak secara halus," ungkap EK, saat ditemui hari ini, Rabu (29/3) di Purwakarta.
Gaji sebesar Rp 3 juta pun tidak pernah EK terima. Sistem penggajian yang berlaku di salon dan spa tersebut ternyata dihitung berdasarkan jumlah tamu yang menikmati jasa terapi pijat dan lulur yang dilakukan oleh masing-masing terapis. "Januari itu cuma dapat Rp 600 ribu, bulan Februari dapat Rp1,6 juta, tapi saya hanya menerima Rp860 ribu saja, karena dipotong untuk pembuatan Kartu Tanda Penduduk di sana. Umur saya pun ditulis menjadi 19 Tahun dan beralamat di Kota Bandung. Ada potongan rutin juga untuk biaya mess dan tabungan sampai habis batas kontrak," katanya menjelaskan.
Seluruh terapis yang bekerja di salon dan spa tersebut, selalu berganti nama, EK misalnya, berganti nama berganti nama menjadi Rara. Lima orang teman EK, S berganti nama menjadi Bela, Y berganti nama menjadi Annisa, I berganti nama menjadi Lusi, I berganti nama menjadi Novi. Sementara W berganti nama menjadi Nova.
Merasa tidak betah bekerja, EK kemudian menelpon ibunya, Etik (46). Mendengar cerita EK, Etik mengaku kaget dan khawatir akan pekerjaan yang tengah dijalani oleh anaknya tersebut, terlebih jam kerja yang ia nilai tidak wajar yakni dari jam 11.00 WIB siang sampai jam 01.00 WIB dini hari hanya untuk melayani jasa pijat dan lulur para pelanggan di salon dan spa tersebut. Kemudian, Etik mendesak Aan untuk segera memulangkan EK. Karena terikat perjanjian dalam kontrak, Aan terpaksa berbohong kepada pihak salon dan spa bahwa orang tua EK sedang sakit keras dan harus dijenguk sesegera mungkin. "Diberikan izinnya tiga hari sampai hari Kamis besok, tapi kalau sudah ada di rumah begini, saya tidak akan mengizinkan anak saya kembali ke tempat itu. Karena pekerjaannya bertentangan dengan nilai agama." jelas Etik.
Kini, agar EK tak bekerja lagi salon dan spa tersebut, Etik harus menyiapkan uang Rp 20 juta sebagai ganti rugi jika tidak menyelesaikan kontrak kerja yang sebelumnya sudah ditandatangani olehnya saat mulai bekerja.
Sementara itu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, mengatakan, pihaknya akan membayarkan uang sebesar Rp20 juta tersebut kepada pihak salon dan spa sesuai dengan perjanjian kontrak kerja. Akan tetapi, langkah Dedi tersebut tidak akan berhenti sampai disitu. Ia mengaku akan mempelajari klausul per klausul dalam kontrak kerja yang dimaksud. Terlebih menurut dia, EK belum genap berusia 17 tahun dan seharusnya belum berhak menandatangani sebuah perjanjian kerja. "Harusnya wali atau kuasanya yang menandatangani itu, karena dia kan belum genap 17 tahun. Tadi juga sempat dia sampaikan sudah mendapatkan KTP di sana, saya lihat masih KTP konvensional. Untuk mengawal kasus ini , saya akan bertindak sebagai Kuasa EK," kata Dedi dalam keterangannya.
Lebih jauh, EK akan didampingi oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk melaporkan Aan, wanita yang sebelumnya mengimingi pekerjaan tersebut kepada EK. (gan)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template