Yayat Satu Geng dengan Abu Sofi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Yayat Satu Geng dengan Abu Sofi

Yayat Satu Geng dengan Abu Sofi

Written By ayah satria on Selasa, 28 Februari 2017 | 13.29.00

Sosok Yayat Cahdiat pelaku teror di Taman Pandawa Kelurahan Arjuna Kota Bandung dikenal tertutup dan jarang bergaul. Yayat bersama istri dan tiga orang anaknya hanya mengontrak di Kampung Cukanggenteng RT 3 RW 1, Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.
Sebagian rumah kontrakan milik Ibu Nuri tersebut telah ditinggal pergi sejak 2015 lalu. Namun, sebelum meninggalkan kampung, Yayat sempat membuat KTP elektronik dengan berbekal surat keterangan pindah dari Kabupaten Purwakarta. Kontrakan berwarna cat ungu itu persis di tengah sawah. Kini sudah tak berpenghuni lagi, hanya terlihat jemuran pakaian alumunium yang disimpan pemilik kontrakan.
Bahkan kedatangan wartawan Radar Bandung (Grup Radar Karawang), tak mendapat respon baik dari suami pemilik kontrakan ketika menanyakan sosok Yayat. Dua kali keluar masuk rumah tanpa mau menjawab pertanyaan wartawan ini. Raut wajah masam terus ditunjukkan. Namun, satu jam menunggu di luar rumah, suami pemilik rumah mau memberikan jawaban. "Yayat memang pernah tinggal disini (di kontrakan). Tidak banyak yang saya tahu kegiatannya, selain menjadi tukang jualan mainan ke SD," kata suami pemilik kontrakan yang enggan disebut namanya, Senin (27/2).
Sementara itu, menurut Yanti (50) salah seorang warga setempat, sepengetahuannya Yayat mengontrak di tempat ini lebih dari lima tahun. Selama berada di kampung itu, Yayat pernah berpindah-pindah kontrakan di kampung yang sama. Sebelum mengontrak di tempat terakhir, Yayat bersama istrinya yang akrab disapa Umi Salam oleh warga sekitar itu pernah mengontrak di rumah milik adiknya. "Hanya saja kami disini tidak begitu mengenal Yayat. Cuma lewat atau berbelanja saja ke warung saya. Istrinya yang biasa kami sapa Umi Salam, juga suka belanja ke warung saya. Dan selama kami mengenalnya tidak ada yang mencurigakan," ujar Yanti.
Yanti mengatakan, meskipun mengontrak di kampung itu, Yayat beserta istri dan dua orang anaknya itu, sudah lama tak ada di kampung itu. Keluarga ini menghilang setelah ada kabar Yayat ditangkap Polisi di Purwakarta, atas kasus dugaan terlibat terorisme beberapa tahun lalu. "Bahkan ada kabar burung yang beredar kalau Yayat ini telah meninggal dunia di Citaliktik. Tapi ternyata tidak, dan sekarang warga disini dihebohkan dengan berita soal bom panci di Kota Bandung," ucapnya.
Sebenarnya, ungkap Yanti, selain Yayat, di kampung itu juga pernah mengontrak Abu Sofi (warga Kawali RT 002/004, Desa Pancawati, Kecamatan Klari), pelaku teroris yang tewas saat penggerebekan oleh Densus 88 di rumah terapung waduk Jatiluhur, beberapa waktu lalu. Sedangkan Yayat, warga di kampung itu sudah lama tidak pernah mendengar kabar keberadaannya. "Menurut kami, Yayat itu pekerjaannya jualan mainan anak-anak, sedangkan Abu Sofi itu jualan bubur sumsum. Dulu juga saat ada bantuan gas elpiji bersubsidi yang mengharuskan warga menyerahkan foto copy KTP, Abu Sofi itu engggak mau ngasih ke saya, alasannya karena dia bukan KTP disini," katanya.
Ketua RW 1 Gatot membenarkan, jika Yayat dan keluarganya pernah mengontrak rumah di Kampung Cukanggenteng. Suatu hari, Yayat dikabarkan telah ditangkap polisi dengan kasus dugaan teroris, namun karena tidak cukup bukti ia dilepaskan kembali. Setelah itu, Yayat dan keluarganya ini tidak pernah kembali ke kampung itu. Namun, pada 2015 lalu, Yayat diketahui mengajukan kepemilikan KTP di tempat tersebut, dengan membawa surat pindah dari Purwakarta. "Setelah keluar dari penjara pemikirannya jadi aneh. Bahkan kepada jamaah pengajian, saya juga menganggap berbeda paham, nah mungkin awalnya dia menganggap kami ini sama dengan dia, tapi ternyata tidak. Sehingga dia dan keluarganya pergi meninggalkan kampung ini," jelasnya.
Hal yang membuat warga tidak nyaman, dengan kejadian ini membuat seluruh warga malu. "Khawatir ada dugaan dari masyarakat lainnya kampung kami dianggap sarang teroris," ujarnya.
Gatot memperkirakan, Yayat dan keluarganya ini datang ke Kampung Cukanggenteng pada 2010 lalu. Kemudian, dikabarkan ditangkap polisi dan menghilang. Lalu pada 2015 diperkirakan Yayat mengajukan permohonan KTP dengan membawa surat pengantar pindah dari Purwakarta. "Terkait latar belakangnya, kami juga tidak tahu. Seperti apa orang ini. Yang jelas, dia datang kesini membawa surat pindah dan mengajukan diri sebagai warga disini. Tapi sebenarnya, hal ini jauh sebelum saya menjabat sebagai Ketua RW, karena memang saya baru juga jadi RW nya," tandasnya.
Kepala Desa Cukanggenteng, Hilman Yusuf mengaku, terduga teror bom panci bernama Yayat tersebut memang tercatat sebagai salah seorang warganya. Namun ia tidak mengetahui kesehariannya. "Memang benar dalam database Kartu Keluarga (KK) yang kami pegang ada nama Yayat dan istrinya bernama Cucu Herlina dan tiga orang anaknya. Tapi saya tidak kenal baik, karena setelah ada kabar ditangkap di Purwakarta itu mereka menghilang," sebutnya.
Hilman menuturkan, pada penangkapan Yayat oleh Polisi beberapa tahun lalu pun, memang ada yang datang dari pihak kepolisian mengkonfirmasi soal domisilinya. Saat itu, Hilman pun membenarkan jika Yayat adalah salah seorang warganya. Bahkan, setelah itu ia pun pergi ke Purwakarta untuk memastikannya, namun sayangnya sudah tidak diketahui keberadaannya. "Sejak itu saya dan warga disini tidak mengetahui keberadaannya. Tiba-tiba saja hari ini digemparkan oleh kejadian aksi terorisme di Kota Bandung ini," ujarnya. (apt)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template