Petani dan Nelayan Terlupakan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Petani dan Nelayan Terlupakan

Petani dan Nelayan Terlupakan

Written By Mang Raka on Sabtu, 18 Februari 2017 | 13.00.00

KARAWANG, RAKA - Semangat industrialisasi dan derasnya arus investasi perhotelan, bisnis dan properti di Karawang, nampaknya lebih mendominasi kebijakan pemerintahan Cellica Nurrachadiana-Ahmad Zamakhsyari setahun terakhir.
Sentralistik pembangunan di pusat kota membuat potensi di desa-desa wilayah utara terlupakan. Sebut saja pertanian, selain belum kunjung diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) untuk melindungi lahan garapan petani, juga nasib para buruh tani yang semakin terhimpit ekonomi cenderung terabaikan.
Begitupun sektor perikanan. Dari belasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), hanya lima yang beroperasi. Sisanya dibiarkan mati. Padahal, retribusi TPI bisa mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sama halnya dengan nasib para petambak dan pengolah ikan, minim pemberdayaan dan pengembangan produktivitasnya.
Tokoh tani Karawang, Wawan Kawista mengatakan, pemerintahan Cellica-Jimmy selama setahun terakhir lebih pro pengusaha ketimbang masyarakat tani. Buktinya, selama Cellica memimpin banyak petani menjerit. Meskipun tidak ada korelasinya, namun dampak iklim, cuaca dan hama seyogyanya menjadi perhatian pemerintahan saat ini. Utamanya soal pengendalian harga gabah yang anjlok tanpa intervensi pemkab dan Bulog. Padahal Karawang adalah sentra pertanian. Kesannya selama ini, kata Wawan, petani dan sawahnya hanya menjadi objek percobaan untuk kegiatan-kegiatan seremonial.
Biaya Produksi tidak cukup Rp 8 jutaan lagi per hektar, tapi hama yang bertubi-tubi, bahkan banjir yang melanda membuat biaya produksi membengkak hingga Rp 14 jutaan per hektar, dengan harga gabah Rp 4 ribu saja per kilogram. Belum lagi asuransi yang tidak merata, sampai dengan maraknya calo pungli gabah tak mampu tertangani dengan baik selama ini. "Pertanian semakin parah, banyak petani stres karena terus merugi setiap musim," ujarnya kepada Radar Karawang, Jumat (17/2) kemarin.
Berbicara perikanan, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Karawang Jejen Jaenal Mutakin mengatakan, perikanan sejak dulu tidak dijadikan prioritas oleh pemkab. Karena cenderung lebih memperhatikan sektor industri dan pertanian. "Setiap kali pergantian bupati sama saja, tidak ada yang mengistimewakan perikanan," ujarnya.
Padahal, kata Jejen, Karawang bisa mengandalkan maritim, baik biota laut maupun hasil tangkapan ikan. Bahkan pipa-pipa Pertamina juga ada di dasar laut. Produksi yang tinggi dan jumlah perahu ribuan, jarang menjadi prioritas selama ini. "Perikanan gak ada yang diistimewakan. Dari dulu juga gini-gini aja, TPI jarang dihidupkan, retribusi juga tidak jelas," pungkasnya.
Pengolah ikan pindang asal Bayurkidul Kecamatan Cilamaya Kulon, H Abdul Halim mengatakan, dirinya dan kelompoknya mendapat pengakuan percontohan nasional dalam pengolahan ikan. Lewat ikan bandeng, dirinya bukan saja berhasil memproduksi pindang pressure lunak duri, yang mendapat perhatian khusus dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, tetapi juga olahan lainnya seperti crispy bandeng, kecap bandeng dan nuget ikan. "Olahan ikan mendapat pengakuan nasional, tapi di Karawang belum begitu menggembirakan," ungkapnya.
Ia melanjutkan, Cellica pernah berkunjung ke rumahnya dalam program Saba Desa saat menjadi Plt bupati. Dan sempat menjanjikan memberikan bantuan alat-alat produksi untuk menopang usahanya. Namun sampai saat ini tidak pernah ada yang terealisasi. "Bantuan alat-alat produksi justru dari provinsi dan pusat," tuturnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template