Penjualan Gas Dibatasi 4 Tabung per Orang - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Penjualan Gas Dibatasi 4 Tabung per Orang

Penjualan Gas Dibatasi 4 Tabung per Orang

Written By Mang Raka on Jumat, 03 Februari 2017 | 12.30.00

RENGASDENGKLOK, RAKA - Ketergantungan masyarakat terhadap gas ukuran 3 kilogram memang bukan hal yang aneh lagi, pasalnya gas yang biasa disebut gas melon ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari, terlihat dengan kondisi masyarakat yang rela mengantre dan berebut untuk mendapatkan jatah gas melon yang sudah disediakan. Untuk mengatur penjualan gas, setiap pembeli dibatasi hanya boleh membeli empat tabung.
Koswara, agen gas asal Dusun Krajan B, Desa Kertasari, Kecamatan Rengasdengklok mengatakan, kondisi ini sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Rebutan yang melibatkan antar pembeli ini udah biasa terjadi. Namun jatah setiap orang yang membeli gas melon dipatok 4 buah gas saja. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap gas melon tidak bisa dipungkiri. "Sebulan sekali gas dari agen turun, namun seperti kejadiannya, semua pembeli berebut untuk mendapatkan jatahnya masing-masing," katanya, kepada Radar Karawang, Kamis (2/2) kemarin.
Ia melanjutkan, tentunya masyarakat akan lebih memilih gas melon yang terhitung murah dan terjangkau. Mengingat untuk mendapatkan minyak tanah itu cukup sulit dan terhitung lebih mahal. Tidak heran kalau kebutuhan terhadap gas melon menjadi keharusan yang tidak bisa dilewatkan. "Masyarakat jelas akan lebih memilih gas melon daripada minyak tanah," ujarnya.
Di tempat yang berbeda, Encun warga Desa Kertasari menambahkan, wajar saja masyarakat sekarang lebih memilih gas melon untuk kebutuhan memasak. Selain harganya yang murah, juga gampang didapatkan. Mengingat kondisi minyak tanah yang mahal dan terbilang langka. Namun ketika tidak ada subsidi atau pengiriman gas melon macet masyarakat akan kelabakan, karena terlalu bergantung pada kebiasaan yang instan. "Saya mah gak susah-susah, kalaupun ada kayu bakar, ya itu yang saya pakai, tidak mesti ribut-ribut kalau gas lagi langka juga," ujarnya.
Namun dengan kondisi ini, sambung dia, membuat masyarakat tidak bisa berpikir panjang dan dimanjakan dengan fasilitas yang serba instan, sehingga wajar jika keributan itu mudah terjadi. Karena pemikirannya sudah disempitkan dengan kemudahan. "Teringat waktu zaman gas belum ada, istilah dapur ngebul itu benar-benar terjadi, lain halnya dengan sekarang, istilah itu tinggal hanya sebutan saja," pungkasnya. (mg3)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template