Tradisi Hajat Bumi di Karawang - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Tradisi Hajat Bumi di Karawang

Tradisi Hajat Bumi di Karawang

Written By Mang Raka on Senin, 16 Januari 2017 | 19.33.00

-Warga Cikuntul Suguhi Makanan, Cilebar Arak Tumpeng

KARAWANG, RAKA - Wujud syukur hasil panen dan berharap hasil maksimal di panen berikutnya, disimbolkan dengan doa dan sedekah tumpeng yang dibawa ratusan keluarga petani. Tradisi ini masih dilakukan masyarakat desa di Kabupaten Karawang. Ada yang menyebutnya hajat bumi, ada juga yang mengenalnya dengan babaritan.
Di Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran misalnya, para petani berbondong-bondong menyuguhkan sedekah tumpeng dan lauk pauk di acara ini. Sedekah hasil bumi yang didoakan sesepuh dan tokoh agama, penuh harapan keberkahan yang melimpah dipanen-panen berikutnya. Tidak seperti di musim gadu yang digelar acara wayang golek, jelang musim tanam rendeng para petani dan pemerintah desa sebatas menggelar syukuran berjamaah, dengan menyuguhkan tumpeng. Bacaan wajib "Ngawujud" dan hadiahan mewarnai tradisi babaritan ini. "Alhamdulillah kita rutin setiap jelang musim tanam gelar tradisi babaritan," ungkap Kepala Desa Cikuntul, Dede Gunawan kepada Radar Karawang, Minggu (15/1) kemarin.
Dede menambahkan, di desanya, lokasi sawah berada di golongan air 5 atau yang paling hilir. Melihat kondisi air yang sudah masuk per Januari ini, petani siap menanam padi serentak. "Sebagiannya sudah pengolahan tanah," ujarnya.
Biasanya, kata Dede, petani memilih bulan Februari untuk tanam. Namun karena air sudah mulai mengaliri sawah, dan faktor cuaca yang sudah tak menentu, maka ketika air datang harus siap-siap tanam. "Saya berterimakasih kepada petani yang ikut tanam serentak ketika air sudah masuk," katanya.
Ia berharap, setelah babaritan, padi yang ditanam apapun varietasnya seperti ciherang, mekongga dan muncul sekalipun, lewat doa-doa dan izin kepada para kasepuhan, para petani terhindar dari ancaman penyakit tanaman, hama dan bencana lainnya. Sehingga produksi gabah tetap bagus dan hasilnya bernilai daya jual. "Semoga dengan babaritan ini jadi wasilah, agar tanaman petani Cikuntul mulus sampai panen, dan terhindar dari hama," harapnya.
Sementara itu, tokoh agama Desa Cikuntul, KH Nanang Juwaeni mengatakan, tidak ada yang salah dalam tradisi babarit ini, dilihat dari sisi keagamaan. Karena pada intinya bersyukur atas hasil panen musim kemarin, dan berharap ridho Allah di musim tanam yang akan datang. Media-media tumpeng yang disuguhkan masyarakat dengan niatan ibadah dan sedekah, sudah menjadi poin syukur kepada Allah SWT. Ia beharap, setelah doa bersama, hadiah dan hadroh, musim tanam kedepan hasilnya lebih bagus lagi, agar petani-petani di Cikuntul juga semakin semangat ibadah dan bersedekah sebagai wujud syukur. "Janji Allah, siapa yang bersyukur maka kenikmatannya akan senantiasa ditambah," ujarnya.
Hal serupa juga dilakukan masyarakat Desa Pusakajaya Selatan dan Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar. Rasa syukur panen melimpah, mereka curahkan dengan menggelar hajat bumi dan safari budaya. Selain disuguhkan dengan beragam acara kesenian tradisional Sunda, yakni pencak silat, kesenian calung, tari jaipong, pagelaran wayang golek, dan lainnya, masyarakat juga mengarak tumpeng.
Kepala UPTD Pertanian Cilebar Rudi Setiadi mengatakan, sangat mendukung dengan kegiatan ini. Pasalnya, ini merupakan motivasi bagi petani untuk tetap semangat dalam menjalankan masa tanamnya. "Karya petani inilah yang menunjang ketahanan pangan," tuturnya. (rud/mg3)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template