Program Bulog Tidak Jitu - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Program Bulog Tidak Jitu

Program Bulog Tidak Jitu

Written By Mang Raka on Selasa, 03 Januari 2017 | 13.00.00

CILAMAYA KULON, RAKA - Orientasi pertanian yang mengejar produksi gabah, membuat petani di Karawang cukup kewalahan. Apalagi saat hasil tinggi dan tidak diimbangi dengan harga yang bagus, membuat petani merugi. Disisi lain, Serapan Gabah (Sergap) yang menjadi andalan Bulog saat gabah anjlok, tidak bisa menjamin kepentingan para petani selama ini.
Tokoh masyarakat Desa Pasirukem, Kecamatan Cilamaya Kulon, H Muhiddin memempertanyakan, peran pemerintah daerah terhadap hasil produksi yang minim. Menurutnya, justru selama ini cenderung tidak ada gebrakan, terutama soal pengendalian harga yang merosot di bawah HPP. Petani menurutnya, tidak lupa ketika Bulog mengkampanyekan serapan gabah kalau sesekali gabah petani tidak laku dijual dan anjlok. Namun yang menjadi pertanyaanya, kenapa Bulog lebih memilih membeli gabah semau harganya tanpa menyetarakan dengan pasar atau tengkulak pada umumnya.
Jikapun menjual ke Bulog, administrasinya juga tak sama seperti kepada tengkulak. "Kita ingat serapan gabah yang akan dilakukan Bulog, tapi belum pernah kita rasakan saat harga mencekik petani, jikapun ada Bulog enggan menyetarakan harga dengan pasar pada umumnya," ungkapnya.
Muhiddin menambahkan, Karawang merupakan produsen gabah, tapi pelakunya seperti petani selalu merugi setiap kali panen. Ini pula menurutnya, salah satu penyebab para pemuda tidak lagi berminat bertani.
Dirinya tak membayangkan sektor pertanian Karawang kedepan, entah teknologi sehebat apapun untuk cocok tanam, memanen dan pengendalian hama, tapi selama hasilnya dihargai rendah, tidak ada keadilan bagi petani. "Bagaimana pemuda minat bertani, kalau yang ada saja selalu merugi," sesalnya.
Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Karawang Fradifta Akbary mengatakan, banyak keluhan petani, karena janji Bulog yang akan melakukan serapan gabah tahun ini saat gabah anjlok. Hanya memang, besaran harga jual yang diberlakukan Bulog tak bisa sesuai harga pasar karena diatur dalam Inpres, dimana BUMN itu membeli dengan takaran rendemen air dan harga tak lebih dari HPP.
Persoalannya sebut Akbar, apakah dengan aturan Inpres itu Bulog sudah dirasakan kehadirannya oleh petani saat harga gabah benar-benar turun, entah akibat rebah, banjir atau lainnya. Bagi petani, tengkulak dengan harga jual yang dihutang berminggu-minggu lebih banyak datang, ketimbang Bulog yang selama ini tak kunjung terlihat serapannya. "Memang Bulog beli gabah petani itu sesuai Inpres, tapi persoalannya apakah BUMN ini menjadi solusi jitu dari keresahan harga gabah petani selama ini?" tanyanya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template