Perajin Wayang Golek Hidup di Gubuk Reot (1) - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Perajin Wayang Golek Hidup di Gubuk Reot (1)

Perajin Wayang Golek Hidup di Gubuk Reot (1)

Written By Mang Raka on Kamis, 05 Januari 2017 | 19.09.00

-Karya Ana Sumarna Hingga Mancanegara

KLARI, RAKA - Hidup di daerah yang mulai berubah rupa dari agraris ke industri, tidak mudah bagi perajin wayang golek seperti Ana Sumarna (73) untuk bertahan.
Di saung berukuran 2x1 meter, berdinding bilik, beratap genting yang sudah sangat tidak layak, jari tangan Ana terlihat begitu piawai mengukir kepala wayang golek bernama Arjuna. Sambil sesekali membetulkan kacamata, lelaki yang sudah membuat wayang sejak usia 20-an, masih sangat bersemangat menceritakan kisahnya menggeluti dunia wayang.
Baginya, menjadi perajin wayang golek sudah melekat dalam jiwa dan raga. Tidak mudah, penuh perjuangan. "Gagalna oge sampe 45 kali, karak bisa beuner nyieun wayang (Gagalnya hingga 45 kali, baru bisa bagus membuat wayang). Da Abah mah nyieun wayang ge sorangan eweuh nu ngajarkeun (Saya membuat wayang sendirian, tidak ada yang mengajarkan)," ungkapnya kepada Radar Karawang, Rabu (4/1) kemarin.
Rumah ukuran 6x5 meter tempat tinggal Ana di Kampung Jatirasa RT 04/02, Desa Duren, Kecamatan Klari, juga tidak kalah mengkhawatirkan. Berdinding bilik, atap yang sudah tidak karuan, jendela kawat berkarat, dan lantai bertanah. Jika hujan, kata Ana, rumah yang dia tempati bersama istri dan keempat anaknya itu bocor. Baginya, itu sudah menjadi biasa. "Kumaha deui, Abah can bisa ngabeuneurkeun kenteng imah (bagaimana lagi, saya belum bisa memperbaiki genting rumah)," tuturnya.
Wayang golek yang menjadi andalan kehidupannya, kata Ana, belum bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Meski begitu, dia tetap tidak meninggalkan profesinya itu. Bagi Ana, membuat wayang berarti melestarikan budaya Sunda. Budaya yang konon didengung-dengungkan oleh pemerintah, tapi tidak satu kali pun Pemerintah Kabupaten Karawang menghargai jerih payahnya. Jangankan untuk menghargai karya dan usaha Ana mempertahankan budaya Sunda. Menengok kediamannya saja, tidak pernah. Padahal, jika dihitung sudah ratusan wayang golek hasil karyanya malang melintang hingga ke mancanegara.
Masih ingat betul dalam ingatannya. Pernah satu waktu dia diminta untuk ikut pameran di Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Saat itu, jangankan wayang buatannya, alat ukir yang dibawanya untuk membuat wayang, diburu orang. "Nu daratang teh bule kabeh. Eta wayang Abah diborong. Sampe ka alat ukir ge dipenta. Jang kenang-kenangan ceunah. (Yang datang orang bule. Wayang saya diborong. Sampai alat ukir juga diminta. Buat kenang-kenangan katanya)," ujarnya.
Kini, di usianya yang sudah tidak muda lagi, Ana berharap ada anak muda yang mau melanjutkan profesinya sebagai pembuat wayang. "Harapan Abah, orang mana wae, sing saha wae, timana oge. Sok mun aya nu bener-bener hayang bisa nyieun wayang golek. Ku abah ditungguan didieu. Ku abah diajarkeun, supaya aya generasi muda nu bisa ngalanjutkeun menjaga kelestarian budaya Sunda, warisan ti leluhur Sunda, biar tidak punah eungkena. (Harapan saya, orang mana saja, siapa saja, darimana saja. Kalau ada yang mau benar-benar ingin bisa membuat wayang golek. Saya tunggu disini. Saya ajarkan, agar ada generasi muda yang bisa melanjutkan menjaga kelestarian budaya Sunda, warisan nenek moyang Sunda, agar tidak punah nantinya)," pungkasnya. (bersambung/ian)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template