Korban Nasi Uduk Beracun Berobat Bayar Sendiri - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Korban Nasi Uduk Beracun Berobat Bayar Sendiri

Korban Nasi Uduk Beracun Berobat Bayar Sendiri

Written By Mang Raka on Rabu, 25 Januari 2017 | 12.00.00

*Pemkab Tolak Membiayai Karena Belum Status KLB

LEMAHABANG WADAS, RAKA - Alih-alih belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB), korban keracunan nasi uduk di Desa Pulomulya dan Pulobata harus menanggung biaya pengobatan sendiri di klinik dan rumah sakit swasta, meskipun sebagiannya menggunakan kartu jaminan BPJS. Jumlah korban yang mencapai 39 orang dari dua desa, nampaknya belum menyentuh perhatian Pemkab, meskipun sudah di tinjau Bupati dan Komisi A DPRD Karawang, Senin (24/1) kemarin.

Kades Pulomulya, Odang Akrab mengatakan, semua biaya perawatan korban keracunan nasi uduk di tanggung BPJS, karena menggunakan jaminan itu, walaupun di RS atau Klinik Swasta. Otomatis, karena menggunakan BPJS, walaupun tidak ditanggulangi Pemkab, pasien tetap gratis. "Gratis pak, ditanggung BPJS walaupun di Klinik dan RS Swasta sekalipun," ungkapnya.
Kasubag UPTD Puskesmas Lemahabang, H. Anwar Sanusi SKM mengatakan, ketika korban terdampak keracunan nasi uduk, tidak ada satupun yang memilih pelayanan kesehatan umum seperti Puskesmas, karena mungkin faktor jarak yang lebih dekat ke klinik-klinik Swasta. Jikapun ke rumah sakit tidak ke RSUD melainkan ke RS Fikri yang juga Swasta. Sayangnya juga sambung Anwar, pihak Klinik jarang melaporkan sebelum-sebelumnya soal data masuk dan kejadian semacam ini. Kalau KLB, bisa ditanggung Pemkab, tetapi karena mungkin belum masuk kriteria KLB, biaya ditanggung sementara oleh masing-masing dan layanan jaminan BPJS. "Mungkin yang kaya bayar, yang tidak mampu bisa pakai BPJS, tapi lebih baik gunakan jaminan yang ada seperti KIS dan BPJS, masa tidak digunakan," pungkasnya.
Camat Lemahabang, H Hamdani S.Ip MM mengatakan, korban keracunan nasi uduk dari Pulomulya diakuinya, harus bayar sendiri-sendiri, karena banyak yang memilih ke Rumah Sakit Swasta, adapun nominal yang dikeluarkan berapa, dirinya tidak tahu, karena sebagian juga banyak yang menggunakan jaminan BPJS. Kecuali kalau statusnya KLB, di Rumah sakit Swasta juga ditanggung Pemkab, tapi disarankan langsung ke layanan kesehatan umum milik pemerintah seperti RSUD.
Namun, saat menjenguk Senin pagi, memang bupati mengaku tidak ada anggarannya, kecuali kalau korban dilarikan ke RSUD. Sebagai contoh sebut Camat, salah seorang Pasien bernama Entar Tarsiah Dusun Cibeureum, Desa Pulomulya, beberapa kali perawatan di Amanda masih terasa berulangkali gejala-gejala mual dan muntahnya, hingga akhirnya dipindahkan ke Klinik Anugerah di Kedawung, kemungkinan memang menggunakan biaya sendiri, karena bolak-balik klinik yang dipilihnya adalah Swasta semua. "Iya masing-masing, kecuali kalau ke RSUD, jumlah yang dikeluarkan belum tahu coba tanya puskesmas," ungkapnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template