Tanda Tanya Kematian Mustofa - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Tanda Tanya Kematian Mustofa

Tanda Tanya Kematian Mustofa

Written By Mang Raka on Jumat, 23 Desember 2016 | 12.30.00

-Rasaka Masih Merasakan Duka Mendalam

KOTABARU, RAKA - Ibu mana yang tidak terluka hatinya, melihat anak kesayangan tiba-tiba pergi selamanya. Jangankan terjadi di kehidupan nyata, memikirkannya saja sudah sangat menyakitkan.
Itulah yang kini dirasakan oleh Rasaka Nurbaiti (38) warga Dusun Krajan RT 03/RW 04, Desa Pangulah Selatan, Kecamatan Kotabaru. Meski kematian Mustofa sudah satu bulan berlalu, bayangan anaknya masih terus menggelayut. "Saya sangat terpukul atas meninggalnya anak saya yang pertama," ucapnya kepada Radar Karawang.
Rasaka bercerita, awalnya anaknya yang bernama lengkap Mustofa Haji (16) mengaku lemas, setelah disuruh push up 100 kali oleh pihak sekolah. Karena kondisi badannya terus melemah, akhirnya pihak keluarga berkirim surat ke SMAN 1 Cikampek jika Mustofa tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Selang sepuluh hari kemudian, anak sulungnya itu tidak kunjung membaik. Akhirnya Rasaka membawanya ke Klinik Andina tidak jauh dari rumahnya. "Selama 4 kali berobat keluarga tidak sama sekali diberitahu, bahwa anak saya menderita penyakit leukimia," ucapnya.
Setelah empat kali diperiksa tidak kunjung membaik, dokter yang diketahui bernama Nasiah menyarankan agar Mustofa dibawa ke rumah sakit. Karena tidak mampu, akhirnya pada malam hari diberi infus. "Pendarahan di hidung Mustofa berhenti. Tapi keesokan harinya semakin parah," katanya.
Tepatnya pukul 5 pagi, Rasaka kaget melihat keadaan anaknya memburuk. Sejurus kemudian, pihak keluarga mendatangi dokter Nasiah. Namun, saat itu sang dokter sedang mengobati dua pasien yang juga tidak kalah parahnya. Akhirnya Mustofa dibawa ke Rumah Sakit Puri Asih. "Tidak sampai satu jam di Puri Asih, anak saya meninggal," ungkap Rasaka.
Sementara bapak dari Mustofa, Wahyu Permana (42) mengatakan, awalnya dia mengira anaknya menderita demam berdarah. "Saya mah Alhamdulillah, sudah menerima (kematian Mustofa). Habis mau gimana lagi, takdirnya sudah seperti itu," ucapnya.
Sementara itu, dr Nasiah mengatakan, saat diperiksa hidung Mustofa mimisan. Dia menyarankan agar pasien diperiksa ke dokter spesialis THT (telinga, hidung, tenggorokan). "Tapi keluarga pasien menolak karena masalah biaya," tuturnya.
Ia melanjutkan, malam harinya sekitar tanggal 15 November, diusulkan untuk dibawa ke rumah sakit menggunakan BPJS, karena sebagai dokter umum, kata Nasiah, dirinya tidak mampu menangani Mustofa. "Saat diperiksa mimisan saja. Malamnya diberikan infusan agar memberhentikan pendarahan. Saat dicek tekanan darahnya juga normal," ujarnya.
Namun, pada Kamis pagi tanggal 17 November, pihak keluarga mendatanginya agar Mustofa bisa ditangani lebih lanjut. Tapi saat itu, dirinya sedang mengobati pasien yang sesak nafas dan luka-luka. "Sebagai tenaga medis saya dilema," ungkapnya.
Setelah itu, Mustofa dibawa keluarganya ke Rumah Sakit Puri Asih. Selang satu jam kemudian, nyawa pasien tidak tertolong. "Akhirnya saya penasaran menanyakan ke dokter spesialis hasil laboratorium Mustofa. Ternyata kondisinya buruk, ada kemungkinan menderita leukimia. Saya sampaikan ke keluarga bahwa kondisinya buruk itu saja," tuturnya.
Sedangkan Wakasek Kesiswaan SMAN 1 Cikampek, Rizky Apiyati mengatakan, dia sempat mendengar jika Mustofa menderita tipes. Dan saat itu mengikuti kegiatan olahraga seperti biasanya. "Tapi kalau disuruh push up sampai 100 kali itu tidak benar," tandasnya.
Ia melanjutkan, hingga saat ini pihak keluarga Mustofa juga tidak ada yang mengadu akan hal itu. "Sampai kami menjenguk ke rumah duka, orangtua Mustofa juga tidak bilang apa-apa," ujarnya. (mg2)

Berbagi Artikel :

1 komentar:

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template