Rehab Gedung Angker Itu Molor - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Rehab Gedung Angker Itu Molor

Rehab Gedung Angker Itu Molor

Written By Mang Raka on Jumat, 02 Desember 2016 | 16.00.00

KARAWANG, RAKA - Ratusan pengungsi korban konflik agraria dari Kecamatan Telukjambe Barat tampaknya masih harus bersabar untuk sekedar menempati rumah susun sewa (rusunawa) Adiarsa yang dijanjikan Pemkab Karawang. Pasalnya, perbaikan gedung yang lebih sepuluh tahun telantar tersebut belum selesai.
Saat ini mereka masih menempati aula Islamic Center Karawang. Salah seorang pekerja perbaikan rusunawa, Jainudin mengaku pesimis pekerjaan yang dimulai sejak dua pekan lalu itu bisa selesai akhir pekan ini. Kendati pengerjaan perbaikan instalasi listrik, saluran toilet, saluran air dan pengecatan dikebut. "Kita ditargetkan agar Sabtu besok sudah beres dan rusunawa siap ditempati," katanya kepada wartawan, Kamis (1/12).
Menurutnya, kondisi rusunawa yang rusak parah membutuhkan waktu yang tidak singkat, apalagi dikerjaan oleh pekerja yang sedikit. "Mudah-mudahan saja cepat beres," sambungnya.
Di sisi lain, para pengungsi hanya bisa pasrah. Karni (30) misalnya, tidak terlalu berharap bisa tinggal di rusunawa. Dia justru berharap bisa segera pulang ke kampung yang sudah berbulan-bulan ditinggalkannya. Apalagi kabar yang didengarnya, saat ini keberadaan isi rumah mereka di Desa Margakaya, Desa Margamulya dan Desa Wanajaya raib dijarah. Sementara kebun kayu dan tanaman mereka telah diluluhlantahkan oleh buldozer.
Informasi tersebut, juga 'menelan' korban jiwa. Rabu (23/11) lalu, seorang pengungsi bernama Awen mengeluarkan unek-uneknya yang didampingi JPKP (Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan) dan Dinas Sosial. "Lalu Awen pingsan dan dibawa ke rumah sakit umum (RSUD), setelah dirawat Awen meninggal," ungkap Karni.
Sejumlah pengungsi mengatakan, kondisi mental Awen sangat terpuruk setelah mengetahui kebun kayu mahoninya hancur dan perabotan rumahnya hilang. Padahal pohon mahoni yang ditanamnya selama dua tahun itu sudah ditawar Rp 40 juta. Uang itulah yang rencananya akan digunakan untuk biaya kuliah anaknya.
Kini, ratusan warga harus rela mengungsi setelah bentrok dengan pihak PT Pertiwi Lestari. Kekhawatiran para petani diintimidasi pun masih sangat dirasakan. "Saya pernah diculik saat pulang mengantar anak saya ke pesantren. Bukan hanya itu, bahkan dari pihak kepolisian pun memaksa kami untuk mendatangani surat yang kami juga tidak tahu isinya secara paksa," ucap salah satu warga berinisial M.
Lelaki yang pernah menjabat ketua RT ini mengaku masih khawatir dengan perlakuan yang diterimanya. Saat ini, kata sumber yang tidak bersedia namanya disebutkan itu, keadaan rumahnya sudah berantakan. Banyak motor warga yang hilang. Begitupun alat pertanian, banyak yang hilang. "Buku nikah pun hilang," sesalnya. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template