Kejar Rp 150 Ribu, Resiko Mematikan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Kejar Rp 150 Ribu, Resiko Mematikan

Kejar Rp 150 Ribu, Resiko Mematikan

Written By Mang Raka on Kamis, 01 Desember 2016 | 13.30.00

KARAWANG, RAKA - Menjanda dan menjadi tulang punggung keluarga, menjadi alasan pekerja seks komersial tetap menjalani bisnis syahwat. Sebagian dari mereka putus asa karena dipecat lalu sulit mendapatkan pekerjaan lagi, lainnya karena kecewa dengan cinta.
Mona (27) seorang PSK saat ditemui Radar Karawang di Seer, Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat, Senin (28/11) malam misalnya, sebelum hijrah ke Karawang, Mona bekerja sebagai tukang jahit di salah satu pabrik konveksi di Kota Bandung. Namun hanya lima tahun ia mampu bertahan sebagai pekerja borongan. Sebab, pada tahun berikutnya, ia tergerus dengan adanya program pemutihan di pabrik tersebut. "Jika saya punya modal Rp 10 juta atau punya mesin jahit, sepertinya saya akan berhenti dan kerja di rumah terima jaitan aja," ungkapnya.
"Saya memang pernah ditawari Bank untuk pinjam uang dengan bunga 30 persen. Awalnya, saya tertarik untuk minjam. Tapi ibu saya melarang. Ibu khawatir satu-satunya gubuk yang kami miliki bisa terjual jika sudah terlilit hutang. Akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak ngutang daripada nanti ga kebayar malah yang ada jadi hilang," ungkapnya
Mona bercerita, jika dalam dua bulan terakhir jumlah tamu yang berkunjung ke Seer sangat minim. Bahkan, dalam dua pekan terakhir dirinya baru mendapat tiga tamu. Minimnya tamu yang datang menurutnya karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. "Hampir dua bulan ini kan sering hujan. Sementara kalau hujan turun, kami tak memiliki tempat untuk berteduh. Paling bisa berteduh di warung kopi atau minjem payung tukang warung," katanya.
Saat ditanya apakah bilik mesum seukuran 1,5x2,5 meter itu tak bisa dimanfatkan untuk berteduh? Mona dengan tegas menyatakan, bilik lusuh yang mereka sebut sebagai kamar itu tidak bisa dijadikan tempat berteduh. "Itu hanya boleh dipake buat ngamar doang," katanya.
Untuk sewa kamar, jelas dia, tarifnya sebesar Rp 20 ribu per sekali kencan. Sedangkan untuk jasanya sebesar Rp 150 ribu. Biasanya, harga paket (kamar plus kencan) Rp 170 ribu. "Walau segitu, tamu rata-rata nawar," kata PSK asal Kota Bandung itu.
Tarif paling minim, lanjut dia, sebesar Rp 130 ribu. Jika tamu menawar dibawah harga tersebut, ia pasti menolaknya. "Kalau kurang dari segitu (Rp 130 ribu) ga ditarik," ucapnya.
"Buat apa narik jika ga ada hasilnya. Buat ongkos ojek aja pulang pergi sudah Rp 60 ribu, belum lagi potong sewa kamar, biaya beli kondom, makan dan rokok atau jajan. Udah pasti ga ada sisa. Jadi lebih baik ga narik. Klo soal ongkos jika semalaman ga dapat tamu masih bisa ngutang," kata Mona yang mengaku kos bersama empat rekannya di daerah Kosambi, Klari.
Mona mengaku terpaksa menjual diri karena tak memiliki pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Apalagi, setelah bercerai dengan suaminya dan putus kontrak di salah satu pabrik konveksi di Bandung, praktis tidak punya penghasilan. Sementara anaknya yang baru berusia 3 tahun sangat doyan minum susu. "Mau gak mau saya harus cari duit supaya anakku bisa minum susu, dan bisa bantu ibu saya. Ibu saya kan sudah nenek-nenek, jadi sudah gak bisa lagi kerja," terangnya.
Sebenarnya, Mona sangat berharap bisa secepatnya memiliki pekerjaan lain. Hanya saja, impian dan harapannya masih terkendala soal modal. "Jujur, saya pengen berhenti dan buka usaha terima jahitan," katanya.
Meski saat ini jumlah tamu sangat sedikit, Mona berharap akan mendapat tamu yang banyak. "Kalau seminggu 30 tamu amin...amin... ayah. Tetapi, jika benar tamuku seminggu 30 terus dikalikan setahun, saya bisa naik haji dong. Kalo ga saya bisa memberangkatkan ibu saya umroh," ucapnya tersenyum.
Ditanya apakah bukan dosa namanya jika memberangkatkan orangtua umroh dari hasil seperti ini. Spontan ia menjawab, "Allah itu Maha Tahu dan Maha Melihat. Ibu saya tidak salah. Yang berdosa kan saya bukan ibu. Sebab, ibu saya kan taunya saya masih kerja di pabrik," pungkasnya.
Doni (37) warga Kampung Jatirasa, Karawang Barat, mengatakan, paska digusur jumlah warung-warung yang permanen di Seer hanya berjumlah sekitar 30 unit, dengan anak asuh PSK rata-rata tiga orang. "Jumlah tamu yang datang, khusus untuk tamu warung yang permanen rata-rata diatas 100 orang. Jika seorang tamu menghabiskan uang Rp 200 ribu, maka perputaran uang di sebelah ini sekitar Rp 20 juta per malam," kata Doni.
Di kawasan Seer sendiri, lokasi kencan seperti terbagi dua, yakni permanen dan non permanen (gubuk). Sedangkan jumlah PSK di lokasi non permanen juga cukup banyak. Meski jumlah gubuknya sekitar 17 unit. Bahkan satu gubuk bisa dihuni 3-5 orang. Tarif sekali kencan Rp 170 ribu. "Jadi, jika tamu dirata-ratakan 60 orang permalam, maka perputaran uang Rp 10,2 juta," timpal Mona.
Jika ditotal dengan uang diarena judi, perputaran uang di seer bisa mencapai 35 juta per malam.
Serupa tapi tak sama juga dialami PSK di jalur Pantura, Jatisari. Alasan utama mereka menjalani hidup sebagai PSK, karena keterabatasan ekonomi. Apalagi setelah rumah tangganya hancur. Seorang PSK asal Indramayu, A (30) mengaku, awalnya dia memiliki kehidupan normal. Mempunyai suami dan dua orang anak. Seiring waktu rumah tangganya berantakan. "Dalam kondisi ekonomi yang kacau, ada orang yang mengajak saya untuk kerja di rumah makan. Akhirnya saya ikut. Dan akhirnya sampai sekarang sudah sekitar 5 tahun disini," ujar PSK denok yang mangkal di warung pantura jalan Desa Balonggandu, Kecamatan Jatisari itu.
Selama ini dia menutupi profesi yang digelutinya, keluarga besar di Indramayu hanya tahu jika A bekerja di rumah makan. "Secara nurani saya sebenarnya gak mau kerja seperti ini. Tapi mau gimana lagi. Ini desakan ekonomi," ujarnya.
PSK lainnya yang berasal dari Jatisari, S (38) menceritakan pengalamannya sebagai wanita pemuas nafsu laki-laki hidung belang selama 8 tahun. Awalnya dia menjalani bisnis syahwat di Batam. Kemudian pindah ke Jakarta dan terakhir di Jatisari. Sampai sekarang dia tidak bisa lepas dari profesi yang digelutinya, karena menjadi tulang punggung keluarga. "Saya punya anak. Saya jadi tulang punggung keluarga. Makanya mau tidak mau menjalani profesi ini," ujarnya.
Sementara PSK yang tergolong masih cukup muda yaitu W (22), perempuan asal Kecamatan Kotabaru yang juga sudah mempunyai 1 orang anak, mengaku secara nurani tidak mau menjalani profesi PSK. Tetapi, kondisi rumah tangga yang berantakan, kemudian sulit masuk kerja di pabrik, memaksanya menjadi wanita pemuas nafsu lelaki hidung belang. "Kehidupan harus terus berjalan, mau tidak mau saya harus menjalani ini," ucapnya singkat.
Disinggung mengenai tarif yang mereka banderol untuk melayani para tamunya. Satu kali main atau short time kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Setiap malam, rata-rata mendapat pelanggan satu atau dua orang. "Maksimal tiga orang," tuturnya.
Kasi Trantib Desa Balonggandu, Kecamatan Jatisari, Jalaludin menyampaikan, keberadaan mereka selalu dipantau dan dibina oleh pemerintah desa, termasuk pemerintah daerah. Karena belum lama ini Dinas Sosial (Dinsos) memberikan bantuan berupa alat-alat tata boga. "Sebenarnya yang lebih berbahaya itu PSK terselubung. Karena pemerintah sulit untuk memantaunya. Sehingga sangat rentan para konsumennya tertular HIV/AIDS," ujarnya. (ops/zie)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template