Relokasi atau Buat Tanggul 8 Kilometer - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Relokasi atau Buat Tanggul 8 Kilometer

Relokasi atau Buat Tanggul 8 Kilometer

Written By Mang Raka on Rabu, 16 November 2016 | 13.00.00

Banjir sudah tidak aneh bagi warga Batujaya dan Pakisjaya. Saking sudah terbiasa, luapan Sungai Citarum yang merendam rumah warga lebih dari 1 meter, tidak membuat gentar. Mereka lebih memilih tinggal di rumah, menjaga harta bendanya dari pencuri yang memanfaatkan situasi.
Linto (35), warga Dusun Segartanjung, Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, mengatakan meski pemukiman dilanda banjir, warga enggan meninggal rumah. Selain berharap banjir segera surut, mereka takut barang berharga miliknya hilang jika meninggalkan rumah. Hanya sebagian kecil warga yang mengungsi ke lokasi yang tidak terendam banjir. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat di sepanjang tanggul Citarum, tidak jauh dari pemukiman. "Kami sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Toh barang-barang berharga sudah disimpan di tempat yang tinggi. Demikian pula hewan ternak berada di kandang yang lebih tinggi dari permukaan air," ujar Linto.
Linto mengatakan, warga terpaksa membangun pemukiman di bantaran Citarum karena tidak punya lahan di tempat yang aman. Mereka sebenarnya bersedia direlokasi, jika pemerintah menyediakan tanah secara cuma-cuma. Sementara lahan dan bangunan yang ditinggalkan dibeli dengan harga layak.
Camat Batujaya, Rohmana mengatakan, dusun yang terkepung banjir berada di bentangan tanggul Citarum. Sementara pemukiman di luar bentangan tanggul aman dari sergapan air. "Sepertinya mereka harus direlokasi. Tapi itu tanggung jawab BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai)," kata Rohmana.
Wakil Bupati Karawang Ahmad 'Jimmy' Zamakhsyari menyatakan, ada dua solusi untuk membebaskan warga dari sergapan banjir rutin, yakni relokasi atau membuat tanggul baru sepanjang 8 kilometer dari Batujaya hingga Pakisjaya. "Jika tanggul dibangun setelah dusun yang menjadi langganan banjir, air Citarum tidak akan menyergap kampung tersebut. Tanggul yang ada saat ini sepertinya ada kesalahan teknis dari BBWS saat membangunnya," kata Jimmy.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Karawang dalam waktu dekat akan mendesak BBWS untuk membangun tanggul baru. BBWS harus mengalokasikan anggaran pembuatan tanggul pada 2017 mendatang. "Selama ini BBWS tidak pernah berkordinasi dengan Pemkab Karawang ketika melaksanakan proyeknya. Akibatnya ya seperti ini, warga jadi korban," katanya.
Sementara itu, Deputi II Penanggulangan Darurat Bencana BNPB, Tri Budiarto, yang turut meninjau lokasi banjir di Karawang menyebutkan, banjir yang menerjang wilayah Karawang dan daerah lainnya di Indonesia, disebabkan oleh masalah klasik. Aksi penggundulan hutan, pendangkalan dan penyempitan sungai, serta prilaku masyarakat yang kurang memperhatikan lingkungan, membuat banjir terus terjadi.
Tri menambahkan, penanganan banjir harus dilakukan secara komperhensif, seperti menanggulangi hutan yang gundul serta membenahi masyarakat agar menjaga lingkungan sekitar. Selain itu, setelah banjir terjadi harus diperhitungan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di Karawang. "Kalau saat ini ada warga yang mengungsi, ke depan harus disiapkan tempat pengungsian dan logistik untuk dua kali lipat dari jumlah tersebut," tambahnya. (ops)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template