Pertempuran Heroik Citopeng - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pertempuran Heroik Citopeng

Pertempuran Heroik Citopeng

Written By Mang Raka on Kamis, 10 November 2016 | 19.03.00

-3 Jam Melawan 6 Tank Belanda

Perjuangan melawan penjajahan pascakemerdekaan Republik Indonesia dilakukan di penjuru negeri. Bukan hanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, maupun Bandung. Sejumlah peristiwa heroik juga terjadi di wilayah Kabupaten Karawang.


Tahun 1948-1949, pernah terjadi pertempuran sengit antara tentara Belanda dengan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Selain di Rawagede, peristiwa berdarah juga terjadi di Citopeng-Ciwaru Kecamatan Tirtajaya, Telagasari, Darawolong Purwasari serta Leuweung Cengek Jatisari.
Karta'i (88), warga Kampung Citopeng, Desa Kutamakmur, Kecamatan Tirtajaya, adalah bagian dari sejarah pertempuran yang terjadi di Citopeng dan Ciwaru. Karta'i yang saat itu merupakan anggota Dinas Kedokteran Tentara (DKT) dari Kompi IV Batalyon III Resimen V Divisi Siliwangi pimpinan Lukman Jaelani dan Muhtar Hamim, saat ditemui Radar Karawang di kediaman putrinya di Kampung Citopeng, Desa Kutamakmur Tirtajaya, Sabtu (5/11) lalu mengatakan, sebelum diangkat menjadi anggota TNI non NRP (nomor register pokok) veteran yang masuk kategori golongan D, sempat menjadi anggota pasukan Palang Merah pimpinan Nahian alias Surti di markas perjuangan wilayah utara.
Menurut Karta'i yang memiliki nomor register veteran (NPV) 9.084.047, pertempuran Citopeng terjadi pada hari Selasa sekitar pukul 07.00 pagi. Meski lupa tanggal, bulan dan tahun kejadian, namun Karta'i masih ingat saat itu masyarakat dan anggota Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) dikejutkan oleh kehadiran tentara Belanda yang menembaki warga.
Saat itu, kenang dia, tentara Belanda datang menggunakan 6 unit tank. Tembak menembak pun tidak terelakkan. "Pertama Belanda menembak pejuang dengan senjata bren, akhirnya dibalas pak Hidayat dari bawah pohon asem (lokasi sekarang di seberang irigasi kantor Desa Kutamakmur). Pertempuran itu berlangsung tiga jam," kenang Karta'i.
Ketika ditanya apakah ada korban dari pihak Belanda saat itu, Karta'i mengakutidak mengetahui secara pasti. Walaupun salah seorang tentara Belanda sempat kenatembak. "Kepala tentara Belanda yang mau nongol dari dalam tank, sempat kena tembak pak Hidayat. Tapi apakah tentara Belanda itu mati atau tidak, sampai sekarang kami tidak tahu," katanya.
Sedangkan dari pihak pejuang, kata Karta'i, ada dua orang yang kena tembak. "Kopral Tarsimin ketembak di paha kiri dan Sersan Imi di betis kiri," katanya.
Karta'i mengaku harus menggotong tubuh Tarsimin dari Citopeng ke rumah H Maih didaerah Kampung Tangkolo (sekarang Desa Sumurlaban) yang jaraknya sekitar 2-3 kilometer. "Lukanya cukup parah karena paha kirinya nyaris hancur," ucapnya.
Sedangkan Sersan Imi meski berjalan tertatih tetap bisa sampai ke markas karena lukanya tidak terlalu parah. "Saya mengetahui luka keduanya karena memang saya ikut merawat luka mereka," kenang Karta'i.
Untuk membungkus luka kedua pejuang itu, Karta'i menggunakan daun waru atau pelepah pohon bisoro. "Obat yang digunakan adalah cikur (kencur) dan ketan hideung (ketan hitam) setelah ditumbuk halus, dan dijampe-jampe ama aki (kakek Nahian)," ujarnya.
Dikatakannya, saat itu pejuang tidak mengenal obat kimia. Semua pengobatan secara tradisional. Masyarakat atau pejuang yang sakit semuanya diobati oleh aki Nahian. "Karena obat dan jampe dari aki Nahian cukup manjur, Belanda menjadikan aki Nahian sebagai salah satu musuh yang berbahaya. Akibatnya, empat rumah kakek yang sempat dijadikan markas pejuang hancur dibombardir Belanda," terang dia.
Karta'i menambahkan, saat pertempuran di Citopeng jumlah pasukan PKRI ada tiga regu. Masing-masing regu dipimpin H Usa, Wakil Musa dan Wakil Kidan (ketiga veteran tersebut sudah meninggal). Sedangkan pimpinan dan anggota Palang Merah saat itu berjumlah 9 orang. Nahian alias Surti (ketua) dan Sapar alias Upi (wakil ketua). Anggota juru kesehatan waktu itu, Peni binti Upi (anak wakil ketua), Hj Sapni Nahian (anak ketua), Sarni Nahian (anak ketua), Merin Saniin (menantu wakil ketua), Sartika Elia (cucu ketua), Sati B (cucu ketua) dan Karta'i sendiri yang juga cucu ketua.
Sedangkan pertempuran Ciwaru, kata Karta'i, pasukan Belanda yang sebelumnya sempat baku tembak dengan pejuang PKRI di Citopeng, terus berjalan menuju Ciwaru. Bahkan, pasukan Belanda menuju Ciwaru bergerak dari tiga penjuru yakni Cilutung, Kampung Sawah dan Pangakaran. Serangan Belanda di Ciwaru terjadi Jumat subuh atau tiga hari setelah pertempuran Citopeng.
Pasukan infanteri dan kaveleri Belanda langsung menyerbu markas, dan tempat tempat persembunyian pejuang PKRI. Mengetahui kehadiran tentara Belanda yang menggunakan senjata lengkap, pejuang PKRI langsung menggiring masyarakat masuk hutan untuk berlindung. "Namun nahas bagi lebe (Amil) Alam dan keluarganya gugur tertembak beberapa meter menjelang gubuk tempat persembunyiannya (lokasi sekarang adalah Kampung Kalidung). Saat itu keluarga Lebe Alam ada sekitar 8-10 orang berusaha menyelamatkan diri menggunakan perahu untuk bersembunyi ke gubuk tersebut. Namun, berondongan peluru yang dimuntahkan dari dua kapal bermoncong warna merah, itu membuat silsilah Lebe Alam habis," terang Karta'i.
Selain membantai habis keluarga Lebe Alam sekitar pukul 07.30, tentara Belanda juga sempat menambak mati seorang warga Ciwaru yang hingga kini tidak diketahui namanya. Warga yang belakangan diketahui tuna netra itu tiba-tiba berteriak "Merdeka! Merdeka! saat tentara Belanda melintas. Tanpa ampun, tubuh masyarakat malang tersebut dihujani pelaru. "Saking kesalnya tentara Belanda, jenazah warga tersebut digantung di pohon Ciremai di daerah Ciwaru," terang Karta,i.
Ia menjelaskan, mereka yang masuk sebagai PKRI memiliki keberanian luar biasa. Ia sendiri, selain punya nyali besar, ternyata juga memiliki ilmu kanuragan pemberian kakeknya. "Saya juga waktu itu dikasih jimat batu merah delima segede mata ayam, dan pisau berukuran kecil," ujarnya. "Kakek saya hanya berpesan,"kantongin aja dan jangan hilang," kata kakek waktu itu.
Tapi, sambungnya, jimat tersebut hilang begitu merdeka (sekitar tahun 1950). "Padahal jimat tersebut disimpan di kanjut (kantong) dan diikat pageuh (erat) tapi hilang juga," aku veteran penyuka batu ini. Dari 15 veteran yang berasal dari Tirtajaya termasuk dirinya (Muhtar Hamim, Kiidan, Usa, Musa, Karsa, Tarsimin, Imih, Kecil, Kamaludin, Maleb, Iwid, Hani dan Siti Ayumah) hanya dua yang masih hidup. "Yang masih hidup tinggal saya dan ibu Hani," ucapnya.
Iwid, Hani dan Siti Ayumah, kata dia, bekerja untuk mencari bekal kepada masyarakat. Sebab, tanpa bekal, pejuang akan kelaparan. "Mereka juga punya keberanian yang luar biasa, karena jika ketahuan membantu pejuang, nyawanya jadi taruhan," terangnya.
Sebelum mengakhiri perbincangan, Karta'i mengatakan, Tarsimin mendapat perawatan selama dua bulan. Kemudian, Tarsimin menikah dengan warga Kampung Ardai (Sumurlaban). Sedangkan, Sersan Imi setelah sembuh dirawat, Karta'i tidak mengetahui kemana perginya. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template