Pengrajin Ikan Asin Terus Merugi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pengrajin Ikan Asin Terus Merugi

Pengrajin Ikan Asin Terus Merugi

Written By Mang Raka on Sabtu, 05 November 2016 | 14.00.00

-Cuma Andalkan Panas Matahari

TEMPURAN, RAKA- Ditengah panen ikan yang melimpah bagi nelayan, tidak dirasakan keuntungannya bagi pengrajin ikan asin di Ciparagejaya.
Sebab, kwintalan ikan yang sudah diasinkan dan ditiriskan, harus ditimbun lebih dari 3 hari akibat kurangnya cahaya matahari dimusim hujan ini. Selain menurunkan kualitas, ikan asin jenis Tembang ini juga mempengaruhi harga.
Ditemui di sela-sela kesibukannya, pengrajin ikan Asin, Udi mengatakan, di musim yang tak menentu seperti saat ini, diakuinya cukup mempengaruhi pada kualitas ikan asin yang diolahnya. Sebab, dalam sehari mengasinkan 1-2 ton ikan tembang, harus memakan waktu 5 hari untuk mengeringkan. Padahal, waktu jemur ikan asin di hari-hari normal, cukup 2 hari saja kemudian dikemas dan di pasarkan ke wilayah lokal hingga Bandar Lampung. Namun, akibat hujan setiap hari, lebih dari 2-3 kwintal ikan yang sudah diasinkan 3 jam dan ditiriskan, harus ditimbun yang mempengaruhi pada kualitas ikan yang lama kering bisa membusuk. "Biasanya kita jemur 3 hari kering, sekarang mah harus 5 hari, bahkan banyak yang ditimbun karena hujan terus-terusan," kata dia.
Lebih jauh Udi menambahkan, akibat kualitas yang kurang baik karena lamanya ditimbun, berdampak pula pada harganya yang kurang diterima pasar. Sehingga pelanggan memilih harga yang rendah, sementara modal masih tetap. Tidak ada sebut Udi, alat-alat atau teknologi pengering ikan asin, kecuali mengandalkan cahaya matahari saja. Makanya, selama musim hujan ini, pengrajin ikan asin lebih banyak merugi ketimbang untungnya. "Gak ada alat lain, dikeringkan cuma mengandalkan sinar matahari kan," kata dia.
Lebih jauh ia berharap, guna menyeimbangkan antara modal dengan hasil penjualan, ia berharap, pemerintah bisa melirik permodalan lebih banyak bagi pengolah ikan asin, karena disaat merugi, meskipun dipasarkan ke berbagai kota luar Jawa, modalnya menjadi berkurang dan menggerek keuntungan juga. "Dilirik saja modalnya ditambahi lah, kalau rugi begini kan butuh modal banyak saja saat keuntungan minim," pungkas dia. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template