Oleh-oleh dari Singapura dan Malaysia - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Oleh-oleh dari Singapura dan Malaysia

Oleh-oleh dari Singapura dan Malaysia

Written By Mang Raka on Selasa, 22 November 2016 | 14.30.00

KARAWANG, RAKA – Beberapa hari yang lalu, sejumlah kepala sekolah pergi ke Malaysia dan Singapura. Mereka pergi ke negeri Jiran tersebut untuk melakukan studi banding. Kini, setelah mereka kembali ke Karawang, ada oleh-oleh yang mereka bawa. Tapi, bukan oleh-oleh berupa benda, namun mengenai sistem pendidikan yang diterpakan di kedua negera tersebut.
Kepala SMKN 1 Cikampek, Makmur M.Pd yang ikut pergi ke Malaysia dan Singapura mengaku, kepergiannya ke luar negeri tidak hanya sebatas jalan-jalan dan tidak menggunakan uang sekolah seperti yang dibicarakan masyarakat. Kepergianya ke Malaysia dan Singapura untuk melakukan studi banding tentang pendidikan. Malaysia dinilai dunia pendidikanya maju serta berkembang. "Ya jangan suudzon dulu sama kami yang pergi, kami ada bukti kalau kami pergi itu untuk studi banding. Lagian kita ongkos bayar masing-masing, jadi wajar jika ada yang bawa keluarga. Saya berani sumpah untuk hal tersebut," katanya.
Hasil dari studi banding ke Malaysia, dia melihat adanya perbedaan yang sangat jauh antara sistem pendidikan di Indonesia khususnya Karawang dengan Malaysia. Salah satunya, di Malaysia kurikulum tidak mudah digonta-ganti. Terkecuali jika target akhir dari kurikulum tersebut sudah tercapai. Selain itu, ada bentuk otonom dalam sistem pendidikanya. Akan tetapi, kata dia, ada hal yang bersifat wajib yang harus dilakukan oleh setiap sekolah di Malaysia yaitu membuat para siswanya pintar dan berakhlakul mulia dengan progran yang sudah ditentukan oleh pemerintah pusatnya.
Jadi, tambahnya, ada 3 pembagian kurikulum yang diterapkan, pertama sesuatu yang wajib dilaksanakan, yang kedua itu pengembangan siswa yang disesuaikan kondisi wilayah, serta inovasi apa yang paling potensial yang layak di perjuangkan di setiap wilayahnya. "Kalau di kitakan, ganti mentri ganti kurikulum, ganti presiden ganti kurikulum. Kalau disana tidak, siapapun mentri atau presidenya kurikulumnya tetap sama dan pusat memberikan kesempatan kepada setiap wilayah untuk memperlihatkan kelebihanya terlebih disana tidak pernah melibatkan politik ke dunia pendidikan," katanya.
Selain itu, kata dia, hal yang paling menunjang kemajuan pendidikan di Malaysia adalah tidak banyaknya koruptor yang menggerogoti kemajuan dunia pendidikan serta masyarakatnya sangat mendukung program-program yang diluncurkan oleh pemerintah untuk kemajuan dunia pendidikan. "Kalau terlalu banyak tikus berdasi, sistem sebagus apapun tetap saja sama hasilnya nol besar dan saya yakin bahwa sistem pendidikan di Indonesia itu lebih bagus di bandingkan yang di Malaysia, tinggal mau atau tidak politik tidak melibatkan dunia pendidikan dan para tikus berdasinya dimusnahkan," pungkasnya. (yna)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template