Obat Ilegal Rp 7,3 Miliar Dimusnahkan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Obat Ilegal Rp 7,3 Miliar Dimusnahkan

Obat Ilegal Rp 7,3 Miliar Dimusnahkan

Written By Mang Raka on Sabtu, 26 November 2016 | 15.00.00

KARAWANG, RAKA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia memusnahkan 43 jenis obat tradisional ilegal yang mengandung bahan kimia obat (BKO) senilai Rp 7,3 miliar di lingkungan perusahaan pengolah dan pemanfaat limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) PT Tenang Jaya Sejahtera di Desa Kutamekar, Kecamatan Ciampel, Jumat (25/11).
Sebanyak 245.570 kemasan produk obat tradisional yang mengandung BKO, ini diangkut dengan 32 truk dan dimusnahkan dengan cara digilas. Kepala BPOM Penny K Lukito mengungkapkan, obat tradisional tersebut disita dari sebuah perusahaan di wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat 2 Februari 2016 lalu. Penyitaan tersebut merupakan hasil penyelidikan selama tiga bulan yang dilakukan BPOM. "Perusahaan ini sering berpindah tempat dan lokasinya selalu di tempat terpencil," katanya.
Dikatakannya, barang bukti yang dimusnahkan ini berasal dari satu tempat di daerah Parung Kabupaten Bogor. Pemiliknya, sambung dia, diketahui berinisial JS alias L, yang kini statusnya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Meski begitu, penyidik belum melakukan penahanan terhadap tersangka. "Penangkapan ini terjadi hasil kerja sama antara BPOM, kepolisian, kejaksaan dan masyarakat," katanya.
Menurut Penny, obat tradisional ilegal ini mengandung bahan kimia obat seperti Fenilbutazon, Sildenafil Sitrat, Parasetamol yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Kandungan kimia ini jika dikonsumsi dalam waktu lama akan berakibat gangguan ginjal. "Kalau dikonsumsi sesekali mungkin tidak akan terasa, tapi baru dirasakan dampaknya setelah dikonsumsi dalam waktu lama," terangnya.
Saat ini kasus pelanggaran obat tradisional ilegal tersebut telah memasuki proses penyidikan tahap 1. Yang diduga telah melakukan pelanggaran Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan Pasal 197 dan/atau 196 dengan hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun, denda paling banyak Rp 1,5 miliar dan/atau pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda Rp 1 miliar. "Semua produksi hasil mereka ini didistribusikan seluruh Indonesia, dan kita menduga memang ada jaringan," katanya.
Selain itu, lanjut Penny, kerjasama BPOM dan kepolisian saat menggelar operasi pemberantasan obat dan makanan ilegal di tingkat pusat dan wilayah seperti di Tangerang Banten, Gressik Jawa Timur, Dumai Riau, Depok Jawa Barat dan Deli Serdang Sumatera Utara selama  Juli-Oktober 2016, berhasil menemukan produk senilai Rp 66 miliar yang terdiri dari obat dan makanan ilegal, yang tidak memiliki izin edar, mengandung bahan berbahaya dan bahan dilarang serta produk palsu. "Saya minta masyarakat untuk turut andil dalam memerangi peredaran obat ilegal, dengan melaporkan peredaran obat ilegal kepada pihak berwajib. Selain itu masyarakat diharapkan memilih produk yang aman, yaitu yang sudah memiliki sertifikasi dari BPOM, serta melihat masa kadaluarsa," pintanya.
Di tempat yang sama, Ketua Tim Penyidik BPOM Hendri Siswadi menambahkan, penyelidikan terhadap pembuatan obat tradisional yang mengandung BKO, ini akan terus dilakukan. Meski diakuinya, modus operandinya akan berubah-ubah. Sebab, saat ini pelaku terindikasi tidak lagi memproduksi obat tradisional yang mengandung BKO itu dalam jumlah yang banyak, melainkan produksinya terbatas tetapi lokasi pembuatannya yang diperbanyak dan tersebar. "Mereka mengontrak atau membangun bangunan sangat sederhana (bedeng) untuk  memproduksi obat tradisional ilegal di tempat tertentu, dan cenderung berpindah-pindah," kata Hendri.
Selain itu, produsen obat tradisional ilegal ini juga sengaja merekrut tenaga kerja yang berasal dari luar kota. Khusus di Parung Bogor,  lanjut Hendri, pengusaha tersebut mempekerjakan sebanyak 80 pekerja asal Sumatera Utara. Saat direkrut, mereka dijanjikan akan dipekerjakan di mall. "Ironisnya, untuk kebutuhan makan saja sulit. Satu telur harus dibagi tiga," terangnya.
Kemudian, obat tradisional ilegal tersebut tidak lagi dipasarkan pada siang hari, melainkan pada waktu sebaliknya melalui jaringan antarpulau. "Jika melihat dari nilai barang yang disita, kami yakin pengusahanya cukup bermodal. Makanya kami akan terus bekerjasama dengan pihak kepolisian, bea cukai, PPATK dan kejaksaan untuk menangkap pengusahanya," ungkapnya. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template