Melacak Jalur Distribusi Narkoba - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Melacak Jalur Distribusi Narkoba

Melacak Jalur Distribusi Narkoba

Written By Mang Raka on Kamis, 03 November 2016 | 18.15.00

-Masih Dikendalikan Bandar Kakap di Penjara

KARAWANG, RAKA - Mati satu tumbuh seribu. Tertangkap satu, bandar-bandar baru bermunculan. Selain kerja keras, kepolisian juga harus jeli melacak jejak para bandar yang semakin lihai mengelabui, agar barang haram sampai ke tangan pengecer.
Sebut saja ECR (29) bandar besar ganja dan sabu yang beroperasi di Karawang, Bogor, Bekasi, dan Cianjur, mengaku berjualan narkoba sejak duduk di bangku kelas dua SMP. Keuntungan yang menggiurkan membuatnya rela dikeluarkan dari sekolah, bahkan diusir dari kampung.
Radar Karawang berhasil menggali informasi dari ECR, yang kini masih mendekam di Lapas Paledang Bogor. Penggalian informasi ini dilakukan melalui pesan singkat dan media sosial. Setelah sebelumnya berhasil meyakinkan ECR, jika identitasnya tetap dirahasiakan.
Awalnya, ECR bertugas sebagai kurir dengan iming-iming uang Rp 250 ribu per kilogram ganja, dan Rp 100 ribu per gram sabu-sabu. Dengan alasan ekonomi yang mendesak, ECR melakoni tugasnya tanpa memikirkan resiko tertangkap polisi. "Saya kenal dengan narkoba saat SMP. Waktu itu musim pil lexotan dan BK," ungkapnya.
Menginjak SMA, sekitar tahun 2001 perkenalannya dengan dunia narkoba semakin luas. Tidak main-main. ECR yang mengaku berasal dari Cianjur mulai berkenalan dengan bandar besar. "Saya memutuskan keluar sekolah kelas dua. Lalu diusir di kampung," ujarnya.
Lambat laun, sepak terjangnya di jejaring peredaran narkoba terendus polisi. Tepatnya tahun 2005, di kawasan Terminal Baranangsiang, dia ditangkap saat membawa 10 kilogram ganja. "Divonis 10 tahun lebih," tandasnya.
Mendekam di Lapas Paledang Bogor, rupanya tidak membuat ECR jera. Justru disinilah awal mula dia merajai jalur distribusi ganja dan sabu di Karawang, Bekasi, Bogor dan Cianjur. Perkenalannya dengan para bandar yang juga sama-sama mendekam di lapas, semakin memuluskannya melebarkan sayap menguasai bandar-bandar kecil yang beroperasi di Kota Pangkal Perjuangan.
Menurutnya, di dalam justru gampang, karena dengan uang yang cukup warga binaan bisa mendapatkan handphone. Apalagi bandar besar yang mempunyai jaringan luas, bisa melenggang dengan santai di dalam penjara. "Satu lagi, di dalam penjara ini kita digabungkan dengan bandar-bandar lain. Bandar daerah maupun luar daerah. Di sinilah kita kenal dan menjalin satu ikatan kepercayaan dengan mereka, untuk mengembangkan peredaran kita di luar," ujarnya.
Setelah jaringan terbangun kuat dan rapi, ECR menjelaskan, ada sistem yang wajib diikuti para pemain. Tidak kalah dengan bisnis-bisnis lain, dalam dunia narkoba juga mempunyai trik dan strategi. Bahkan lebih halus dan rapi, karena akan melibatkan berbagai pihak. "Untuk mengelabui petugas, kita menggunakan sistem segitiga emas. Yaitu mengontrak di 3 kota (Karawang, Bogor, Bekasi) yang berbeda. Gunanya untuk mengamankan diri kita, karena keselamatan diri lebih utama daripada barang yang kita bawa," tuturnya.
Segitiga emas yang dimaksud, kata ECR, adalah daerah tempat menyimpan narkoba dalam jumlah besar. Jika si bandar menyimpan ganja atau sabu di Karawang, maka dia harus tinggal di Bogor. Begitu juga jika barang haram itu disimpan di Bekasi, maka bandar harus tinggal di Karawang. Trik ini sangat jitu, karena mampu mengelabui petugas. Dulu katanya, gengnya pernah mengirim ganja dalam jumlah sangat banyak. Lantas dipecah menjadi tiga truk. Dua truk penuh dengan ganja, satu truk lagi diisi setengahnya. "Ini sengaja dilakukan untuk menjebak petugas. Dan terbukti, hanya truk dengan isi ganja sedikit yang tertangkap petugas di Tol Cikampek. Sedangkan dua truk lagi lolos," ungkapnya.
Ia melanjutkan, ada dua syarat penting jika ingin masuk dalam jaringan besar narkoba. Pertama jangan percaya siapa pun. Dan yang kedua jangan sampai ada satu orang pun yang tahu tentang bisnis ini. "Itu sudah harga mati bagi pemain besar. Masalah keterkenalan hanya untuk orang yang ingin cepat mati," katanya.
Dalam setiap aksinya, ECR menggunakan para kurir yang berkeliaran bebas di luar penjara. Karena setiap bandar yang ada di dalam penjara, minimal mempunyai 10 kurir yang sudah dibina terlebih dulu. "Untuk mempermudah jalannya peredaran, kita gunakan kaki(kurir) yang sudah teruji. Minimal dari segi pengalaman yang pernah dia rasakan sebelumnya. Kurir inilah yang berhubungan dengan bandar-bandar kecil," katanya.
Sedangkan pola transaksinya hanya mengandalkan handphone dan buku rekening. Setelah kurir dipastikan sehat (aman dari pantauan polisi), kata ECR, si bandar akan mengarahkan kurir ke lokasi penyimpanan narkoba. Kalau kiriman dengan jumlah besar, biasanya dipecah. Awalnya didistribusikan ke Cianjur, lalu dikirim lagi ke Karawang. "Di Karawang dipecah menjadi kiloan gram, lalu kembali di kirim ke Cianjur, Bogor dan Bekasi. Jadi Karawang, menjadi lokasi pemecahan barang. Tujuannya untuk mengelabui polisi," ungkapnya.
Ia berprinsip lebih baik kehilangan 'barang' daripada harus mengorbankan diri. Terkecuali sudah dipenjara atau tertangkap. "Ketika ditanyai penyidik kami akan menutup rapat informasi. Prinsipnya lebih baik bocor perut, daripada harus bocor mulut. Karena biasanya bandar besar akan menanggung semua kebutuhan selama di penjara," tandasnya.
Ditanya soal hasil yang diperoleh selama berbisnis narkoba, ECR mengaku bisa membangun dua buah vila di Cianjur. Vila itu kini dikelola kakaknya, sebagai sumber penghidupan keluarga dan dirinya kelak. "Uang yang masuk ke rekening diurus kakak di luar," pungkasnya. (mg2/psn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template